Sedikit cerita dari Cangar

Saat mendengar kata-kata Cangar, pasti orang akan berfikiran tentang wisata pemandian air panasnya. Tetepi disis lain dari wajah cangar yang terdapat di area Hutan Raya R Soeryo jika dilihat dari segi keanekaragam hayatinya sungguh besar. Terbukti dengan hasil dari Ekspedisi yang diadakan oleh FOBI dengan catatan untuk Flora dan Faunanya yang beragam. Sedikit cerita dari Cangar “seng bener-bener Sangar”.

Hanya berbekal baju yang menempel di badan yang dilapisi jaket ditambah hanya kamera saja yang saya masukan kedalam tas punggung, tanpa berfikir panjang langsung berangkat menuju Taman Hutan Raya R Soeryo untuk mengikuti acara Ekspedisi FOBI. Karena tidak mau ketinggalan untuk mengeksplorasi satwa khususnya burung-burung yang ada dilokasi itu, membuat saya semakin bersemangat untuk segera menuju ke tempat itu, ditambah lagi acara yang sudah berjalan mulai tanggal 1 April 2012 dan saya yang baru berangkat pada tanggal 6 April 2012 Malam atau bisa disebut peserta yang telat dan tertinggal kereta yang sudah jauh.

Saat perjalanan dari pacet menuju Taman Hutan Raya R Soeryo yang terletak di Cangar, Batu. Seluruh kanan kiri jalanan hanya berlatar rimbun dan gelapnya hutan primer. Cahaya bulan dan sayup sorotan lampu dari sepeda motor malah semakin membuat merinding. Kurang lebih satu jam perjalanan di tengah jalan hutan tersebut, terlihat dari jauh cahaya lampu neon dan akhirnya sampai pada Kantor Taman Hutan Raya R Soeryo. Saat berhenti terasa dingin yang sampai ke tulang (merupakan hal baru bagi manusia yang hidup di daerah panas Surabaya), dan baru tahu bahwa suhu dilokasi tersebut 16 Celcius. Adaptasi tidak terlalu lama karena sambutan yang hangat dari teman-teman ekspedisi.

Teman-teman dari berbagai wilayah menyambut dengan hangat, sampai makan dan tidur pun saya ngikut(alias gak bondo). Suasana di ruangan tersebut seperti acara reunion keluarga yang lama tidak berkumpul, karena aroma persaudaraan yang kental menyelimuti. Sharing, ngobrol, bertukar informasi dan ilmu membuat waktu tidak terasa berjalan dengan cepat. Waktu menunjukan pukul 12.00 AM beberapa orang mengajak untuk pengamatan malam dengan membuat pancingan suara Otus lempiji, Tyto alba, Strix leptogrammica. Alhasil burung-burung tersebut hanya menghampiri dan tidak mau menampakkan dirinya dalam penatnya gelap malam dan rimbunnya tajuk pohon di atas pemandian air hangat cangar. Kata mas Heru(Mbah Rekso) yang biasanya pengamatan malam di tempat itu biasanya burung jenis Strix sp sering mandi air hangat dan memangsa ikan gabus di kolam pemandian di tempat itu. Tetapi malam itu saya tidak beruntung karena tidak dapat mengabadikan Raptor Malam tersebut dan acara dilanjutkan dengan istirahat(tidur).

Pagi ketika saya bangun ternyata ruangan sudah sepi, saya kaget karena pukul sudah menunjuk pukul 07.00. Sangat tidak terbiasa karena pukul 07.00 disana mataharinya masi seperti pukul 05.30 di Surabaya. Karena suara burung yang saling bersahutan terdengar saya langsung bergegas pengamatan pagi itu sampai lupa untuk cuci muka. Rencana pertama dan saran dari teman-teman untuk menuju jembatan kembar agar tidak ketinggalan untuk menyaksikan Spizaetus bertelsi yang sedang berjemur di atasnya. Sekali lagi saya kurang beruntung karena tidak menyaksikan burung yang dikatakan asal muasal burung Garuda. Tapi benar kata orang-orang Cangar memang Sangar, meskipun tidak melihat Spizaetus bartelsi saya sangat kagum karena disuguhi banyaknya Indigo Flycatcher yang terlihat seperti bondol di Surabaya, tapi anehnya sampai pulang saya sama sekali tidak melihat bondol. Tidak sampai pindah tempat sudah ada tarian Coracina larvata (jantan dan betina), disambut gerombolan Pericrocotus miniatus, Ixos virescens, Seicercus grammiceps, dan di perjalana kembali ke Penginapan(kantor Tahura R Soeryo) dengan ditemani suara Megalaima australis yang ada dimana-mana saya bergegas, sampai di Kantor Tahura R Soeryo untuk membeli GG inter saya lanjut menuju areal pemandian air panas Cangar.

Saat berjalan ke dalam areal pemandian masih sempat saja untuk bertemu Culicicapa ceylonensis yang sedang agresif menjaga sarangnya.  Akan tetapi  letak sarang burung tersebut yang terletah sangat tinggi dan menempel di batang pohon membuat saya tidak bisa melihat anak dari burung yang lagi parenting tersebut. Karena teringat akan photo Spizaetus bartelsi dan Aceros undulatus yang ditunjukan kepada saya, menjadi ingin segera menuju ke lokasi temuan spesies tersebut yang berada di Bukit yang bernama Gajah Mungkur tersebut. Tak lama pengamatan di lokasi pemandian saya kembali lagi menuju ke Kantor untuk mengambil motor supaya lebih cepat menuju lokasi, mengingat teman-teman yang sudah pada packing untuk pulang.

Sesampai di jalan bagian bawah bukit saya langsung menuju puncak bukit yang ternyata tidak terlalu jauh dari jalan tempat saya meletakan motor. Dua jam menunggu di atas bukit dengan terdengar suara Megalaima sp, Dendrocopos sp, dan ribuan collocalia esculenta kedua spesies yang saya tunggu tak kunjung menampakan dirinya. Tetap menunggu dengan ditemani GG inter dan segelas kopi yang saya bawa ke atas sampai waktu menunjukan pukul 11.15 siang membuat saya sedikit berkecil hati untuk kembali dengan tangan kosong. Bersiul-siul iseng sedikit supaya tidak bosan dengan menirukan lengkingan suara Spilornis cheela ternyata terdengar sahutan suara  sebanyak dua kali. Yang membuat saya kaget disaat mencari asal suara tersebur se-ekor Spilornis cheela telah berada tepat di atas saaya dengan jarak yang sangat dekat, disaat akan mengabadikan moment tersebut ternyata diafragma lensanya tidak mau membuka sempurna (#error). Tidak lama berselang muncul satu lagi Spilornis cheela yang sepertinya berkelamin betina, karena salah satu dari mereka melakukan tari-tarian dan akselerasi yang indah di udara. Sempat mengabadikan tarian yang bergerak longitudinal dengan menggoyangkan ekornya tetapi photo yang saya dapatkan over ligting semua karena matahari yang sudah tepat diatas kepala.

Karena terlalu lamanya saya berada dibukit itu sampai lupa akan waktu, yang akhirnya membuat saya di jemput dan diminta untuk segera kembali ke Kantor Tahura R Soeryo. Sampai di kantor terlihat semua orang sudah pada duduk di tepi jalan menunggu saya karena acara sudah ditutup dan kendaraan yang mengantar kembali ke daerah asalnya masing-masing sudah siap, membuat saya sangat tidak enak(sungkan) karena telah membuat menunggu. Setelah itu ada sesi photo bareng, di sesi photo bareng juga disuguhi oleh Ictinaetus malayensis dan Spilornis cheela yang sedang soaring. Tetapi semua tidak menunjukan sebuah ekspresi yang kagum karena sudah terlalu sering melihat hal tersebut selama satu minggu dan akhirnya acara diakhiri dengan salam-salaman seperti lebaran.

Sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan, hangatnya kebersamaan seperti hangatnya suasana keluarga dan menakjubkannya burung yang ada di cangar membuat saya teringat kata-kata  “Cangar pancen sangar”.

Sedikit cerita kupu-kupu kampus

Siapa bilang di kampus ITS Surabaya hanya ada burung? Di kampus yang dulu mayoritas mahasiswanya laki-laki ini selain burung sekarang juga di imbangi dengan adanya kupu-kupu loh. Kupu-kupu yang saya sebutkan bukan kupu-kupu malam ya :D . Tetapi saat ini belum semua jenis kupu-kupu di kampus ITS ini tereksplore dan terdokumentasikan, mungkin karena minat akan kupu-kupu tersebut jarang dimiliki oleh mahasiswa khususnya salah satu jurusan di ITS yang hanya mempelajari makhluk hidup.

Sama halnya dengan organisme lain, kupu-kupu juga penyusun ekosistem suatu lingkungan. Jadi keberadaan kupu-kupu maupun ulat yang merupakan masa muda dari kupu-kupu tersebut juga harus dijaga. Bukan berarti jika ada ulat maka harus dibasmi secara besar-besaran bukan malah mengendalikan meledaknya populasi tersebut. Jika ulat tersebut dibasmi sehingga habis, apa ada kupu-kupu dari jenis itu yang akan ada. Tuhan menciptakan makhluk hidup pasti beserta fungsi(berguna).

Saya sedikit mulai mencoba mengeksplore kupu-kupu (Lepidoptera) yang berada di wilayah kampus ITS Surabaya ini. Alhasil ketika jalan-jalan pagi yang saya lakukan demi mengisi waktu luang akhirnya menemukan baru beberapa spesies. Untuk sekali jalan-jalan pagi dan saat itu tujuan saya yang sesungguhnya untuk pengamatan burung jumlah yang saya dapatkan ini cukup bagi saya dengan lain waktu dilanjutkan kembali pencarian kupu-kupu yang terpendam di wilayah kampus ITS Surabaya. Berikut gambar yang saya dapatkan ketika hanya sekali berjalan-jalan pagi di kampus ITS Surabaya.

 

Burung Sarana Pengganti Insektisida dan Pestisida

Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh para petani di negara kita untuk menanggulangi serangan serangga yang menjadi hama di tanaman pertanian mereka, sampai-sampai penggunaan insektisida yang berlebihan sehingga akan mempengaruhi hasil tanaman mereka yang menjadikan tidak dapat dikonsumsi dan bahaya insektisida atau pestisida tersebut yang akan mengancam lingkungan sekitar.

Kembali menelaah kenapa serangga tersebut bisa disebut menjadi suatu hama?

Serangga dapat menjadi hama sebenarnya karena ulah manusia. Manusialah yang menempatkan suatu jenis serangga dalam kategori hama. Manusia menempatkan posisi serangga sebagai hama karena manusia tersebut berkompetisi dengan serangga, umumnya dalam hal makanan.

Keberadaan faktor lingkungan juga amat menentukan keberadaan suatu spesies pada suatu tempat tertentu. Faktor yang menentukan adalah hubungan antara suatu organisme dengan organisme lainnya. Perlu disadari pula bahwa adanya prinsip-prinsip ekologi dalam mengatur interaksi antara serangga dan manusia,tidak berbeda pula dengan prinsip yang mengatur hubungan serangga dengan organisme hidup lainnya.

Tanpa disadari manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya telah merubah ekosistem alami dengan menciptakan suatu ekosistem baru untuk kepentingan pertanian, yang dimana terdapat organisme-organisme yang saling berinteraksi dan bergantungan hidupnya khususnya serangga.

Ekosistem baru buatan manusia tersebut memaksa komponen ekosistem yang awalnya bermacam-macam penyusunnya tersebut menjadi sederhana dan biasanya hanya terdiri dari tanaman pertanian yang homogen. Dengan demikian suatu ekosistem tersebut tidak mempunyai keanekaragaman yang tinggi, dan interaksi antar spesies menjadi rendah.

Jadi jangan salahkan jika serangga tersebut menjadi saingan manusia dalam berkompetisi perebutan makanan dan kita memposisikan kedalam golongan “hama”. Munculnya hal tersebut juga karena kurangnya penggunaan potensi bioekologinya dalam pertanian. Yang sebagaimana masalah tersebut dapat ditanggulangi dengan mengendalikan populasi serangga hama melalui kehadiran pemangsanya, salah satunya adalah burung.

Selain tetap menjaga keseimbangan ekosistem dan pengurangan pemakaian insektisida maupun pestisida bahan kimia yang akan merusak lingkungan, pemanfaatan burung secara langsung dapat mengurangi meledaknya populasi serangga perusak tanaman tersebut. Dengan sedikit ilustrasi rantai makanan berikut ini pasti betapa terlihatnya fungsi burung dalam suatu ekosistem.

Potensi keanekaragaman burung di pulau Jawa sendiri cukup tinggi, terdapat 494 jenis dari 73 famili (MacKinnon, 1988). Jika kita manfaatkan maka akan sangat membantu dalam menyeimbangkan populasi serangga yang telah kita posisikan pada posisi sebagai “hama” tersebut.

Dari 494 jenis tersebut 67% (331 jenis) diantaranya ialah pemakan serangga, dengan rincian 24% (79 jenis) pemakan serangga primer dan 76% (252 jenis) pemakan serangga sekunder. Pemakan serangga serangga primer meliputi seluruh burung dalam family Caprimulgigidae, Apodidae, Hemiprocnidae, Meropidae, Coraciidae, Hirundinidae dan Acanthizidae. Campuran pemakan serangga primer dan sekunder meliputi jenis-jenis burung dalam family Glareolidae, Cuculidae, Strigidae, Picidae, Motacillidae, Campephagidae, Laniidae, Turdidae, Timaliidae, Sylviidae, Muscicapidae dan Zosteropidae; sedangkan family lainnya merupakan pemakan serangga primer (Prawiradilaga, 1990).

Berdasarkan (Borror dan Delong, 1954; Kalshoven, 1981) serangga dikelompokkan menurut potensinya sebagai berikut :

  1. Perusak tanaman yaitu semua jenis serangga yang merusak akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.
  2. Pemangsa yaitu kelompok serangga yang memangsa serangga lainnya.
  3. Perombak yaitu semua jenis serangga yang mampu merombak bahan-bahan anorganik
  4. Parasit yaitu kelompok serangga yang hidupnya menumpang pada serangga lain
  5. Lain-lain, meliputi serangga pengunjung, penyerbuk, pengisap darah dan sebagainya.

Secara umum serangga yang lebih banyak dimangsa oleh burung adalah serangga perusak tanaman (akar, batang, daun, bunga, buah dan biji). Dengan keadaan seperti ini jelas sangat menguntungkan karena burung memiliki potensi cukup baik untuk digunakan dalam mengontrol populasi serangga hama.

Tidak hanya pada serangga, terhadap wabah ulat bulu yang saat ini lagi musimnya kemungkinan juga bias diatasi dengan senjata perburungan tersebut, hanya saja perlu ada studi lebih lanjut tentang intensitas konsumsi burung tersebut terhadap ulat bulu dan serangga yang menyerang. Berikut hanya salah satu fungsi dari burung dalam menjaga keseimbangan suatu ekosistem. Dan apa yang terjadi jika burung hilang dari suatu susunan ekosistem? Maka sayangilah burung kita bersama.  :)

Review Jurnal PengamatanPerilaku Pemijahan

Observations of spawning behaviour in Salmoninae: Salmo, Oncorhynchus, and Salvelinus

                                                              

 

Manu Esteve1,2

1Departmento de Biologı´a Animal (Zoologia de Vertebrados), Facultad de Biologı´a, Universidad de

Barcelona; 2621727th Ave NE, Seattle, WA, 98115, U.S.A (Phone: +206-525-5019; E-mail: manu19b@

u.washington.edu)

Accepted 2 May 2005

 

BERISIKAN TENTANG

ALTERNATIF STRATEGI REPRODUKSI JANTAN DAN TAKTIK

Strategi ikan jantan dewasa (The older male’s strategy)

Strategi ikan jantan muda (The younger male’s strategy)

Strategi ikan jantan precocious (The precocious male’s strategy)

PEMILIHAN PASANGAN PADA SALMONINES

Pilihan dari Ikan Jantan (Male choice)

Pilihan dari Ikan Betina (Female choice)

KONDISI UMUM YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MEMIJAH

Pemilihan sarang (Nest selection)

Pembangunan sarang (Nest building)

Pemeriksaan sarang (Nest probing)

Penyelesaian Sarang dan Oviposisi (Nest completion and oviposition)

Penutupan sarang (Nest covering)

                                                                                                       

PERILAKU

Pengamatan perilaku pemijahan dilakukan dengan data jangka panjang yang didapatkan dari rekaman video bawah air pada alam dan saluran semi natural. Hasil pengamatan kemudian dibandingkan dengan literatur.

Sistem pasangan merefleksikan jumlah pasangan dari individu yang dibutuhkan untuk breeding. Jantan Salmoninae berkompetisi untuk mendapatkan betina. Pemijahan Salmonid dihasilkan dari system poligami multiple dimana terdapat 5 bentuk dari kompetisi : termed contest, pemilihan pasangan, ketahanan melawan, kompetisi berjuang, dan kompetisi sperma.

  1. Term contest

Term contest merupakan pertarungan yang menunjukkan pertarungan sesungguhnya untuk mendapat pasangan. Pada umumnya, ukuran dan morfologi menentukan hasil pertarungan, ikan jantan besar dengan perkembangan karakter sekunder yang baik, akan memiliki keuntungan dalam melawan ikan jantan yang lebih kecil.

  1. Pemilihan pasangan

Pemilihan pasangan merupakan perilaku dan cirri morfologi yang menarik dan menstimulasi pasangan.

  1. Ketahanan melawan

Ketahan melawan adalah kemampuan untuk mempertahankan agar reproduksi tetap active selama musim breeding.

  1. Kompetisi berjuang

Kompetisi berjuang merupakan kemampuan dalam mendapatkan pasangan ketika jumlah betina tersedia serempak atau jumlah jantan harus berkompetisi untuk mendapatkan betina pada area yang terbatas.

  1. Kompetisi sperma

Kompetisi sperma merupakan kompetisi antara sperma dari dua atau lebih jantan pada usaha untuk membuahi telur dari satu betina. Bagaimanapun, jarak dari betina dan waktu pelepasan sperma merupakan salah satu factor yang mempengaruhi kompetisi sperma. Selain itu, terdapat factor lain yaitu volume sperma, kecepatan, dan viabilitas juga merupakan factor penting.

ALTERNATIF STRATEGI REPRODUKSI JANTAN DAN TAKTIK

Seekor ikan jantan dapat menggunakan dua taktik secara bersamaan dengan lawan yang berbeda. Secara cepat, dapat berperan sebagai petarung ketika berhadapan dengan ikan jantan yang seukuran dan dapat kabur ketika berhadapan dengan ikan jantan yang lebih besar.

Strategi ikan jantan dewasa (The older male’s strategy)

            Pada umumnya, jantan dewasa menggunakan taktik untuk bertarung dan membuat dominansi di sekitar sarang betina.

Strategi ikan jantan muda (The younger male’s strategy)

            Ikan jantan muda dapat memilih beberapa pilihan: mereka dapat mencari betina yang tidak dilindungi oleh ikan jantan besar dan bertarung dengan ikan jantan muda lainnya untuk mendominasi. Alternatif lain mereka dapat bergabung dengan ikan jantan besar dan bertarung melawan ikan subdominant untuk mempertahankan posisi. Bagaimanapun, ikan jantan muda apabila berhadpan dengan ikan yang lebih besar umumnya menggunakan strategi menyelinap diam-diam. Penyelinap menunggu beberapa saat untuk pemijahan dari posisi yang strategis jauh dari ikan jantan lainnya. Pada saat telur dilepaskan mereka mendapat keuntungan dari ukuran tubuh mereka yang kecil untuk memperoleh posisi lebih dekat dengan betina. Metode alternative lainnya untuk ikan jantan berukuran kecil atau intermediet untuk membuahi adalah dengan menyerupai betina dengan mengadopsi warna tubuh dan kebiasaan ikan betina. Dengan strategi ini, ikan jantan muda  yang kecil dapat menghindarkan diri dari serangan ikan jantan lain.

Strategi jantan precocious (The precocious male’s strategy)

            Jantan precocious menunggu untuk pemijahan dari posisi tersembunyi di dalam sarang atau dalam tempat perlindungan. Ketika tidak ada ikan dewasa, parr bertarung satu sama lain untuk posisi istimewa di dalam sarang. Hasil pertarungan ini, umumnya dimenangkan oleh parr yang berukuran lebih besar

 

 

PEMILIHAN PASANGAN PADA SALMONINES

Pilihan dari Ikan Jantan (Male Choice)

            Beberapa studi menunjukkan bahwa ikan jantan memilih untuk mencari betina yang lebih aktif pada aktivitas sarang terlepas dari ukuran tubuhnya.

Pilihan dari Ikan Betina (Female Choice)

            Ikan betina memilih jantan kecil pada aktivitas pemijahan. Ikan betina yang diamati memilih pasangan tergantung pada intensitas dari aktivitas bercumbu.

 

KONDISI UMUM YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MEMIJAH

            Salmonines memijah di perairan yang bersih,dingin, memiliki kandungan oksigen tinggi dengan dasar berkerikil yang terbebas dari lempung. Beberapa spesies atau subpopulasi dari spesies memijah pada air yang berkerikil atau berbatu atau tempat yang memiliki intergravel yang dapat mengairi embrio. Jantan umumnya menempati area pemijahan sebelum betina. Ikan betina sampai setelahnya dan mulai memilih tempat untuk membangun beberapa sarang dimana mereka meletakkan telurnya.  

Pemilihan Sarang (Nest Selection)

Ikan betina mencari tempat yang tidak ditempati dalam area berkerikil yang tepat, kedalaman air, dan kecepatan arus untuk dijadikan sebagai sarang. Selama periode ini, ikan jantan secara berkala membantu ikan betina dan mengandalkan kesiapan untuk memijah, mungkin memulai untuk aktivitas bercumbu. Pada tahap ini, mereka secara berkala menekan hidung pada tubuh ikan tena bagian tengah. Tujuan dari perilaku ini adalah kelihatannya berhubungan dengan mengetes kondisi pemijahan ikan betina, tetapi fungsi yang pasti tidak diketahui.

Ketika area sudah terpilih, betina berbalik pada satu arah dan menghantam kerikil dengan dorongan yang cepat dari ekornya. Penggalian ini selesai dari bebrapa arah dan meliputi area yang relatif luas.

Pembangunan Sarang (Nest Building)

Pertama kali sisi sarang dipilih, betina menggali dengan lebih kuat terkonsentrasi pada lokasi spesifik dan dilakukan dengan arah menuju hulu (gambar 10-11). Pada tahap ini, area ellips bening dapat terlihat dari tepi sungai dengan mata telanjang menunjukkan visibilitas air baik. Terdapat beberapa pola perilaku yang sama pada betina dalam membangun sarang (nest building) diantara spesises-spesies yang berbeda (kecuali Salvelinus namaychus) yang  memijah tanpa membangun sarang.

Dari posisi istirahat kemudian betina berenang dengan lambat menuju hilir melewati daerah sarang kemudian betina tersebut membiarkan arus membawanya kembali ke posisi semula. Atau, betina dapat memulai tahap penggalian setelah mengitari sarangnya dengan berenang secara aktif. Gerakan memukul kebawah yang dilakukan oleh betina dengan ekornya melepaskan material substrat dari dasar perairan dan terangkat menuju kolom air dengan gerakan pukulan ke atas oleh betina yang dilakukan dengan ekornya. Sedangkan kerikil terlihat bergerak maju menuju hulu saat ekor betina memukul kebawah dan kerikil bergerak mundur saat ekor beina meukul ke atas. Hasilnya yaitu cekungan yang disertai lingkaran yang terangkat ke atas terbentuk kira-kira di tengah area ellips bening. Cekungan ini merupakan lubang dimana telur-telur yang akan dikeluarkan.

Setelah tahap penggalian (digging episode), ada dua cara yang dilakukan betina untuk kembali ke sarangnya, yaitu mereka berputar balik dan berenang atau membiarkan arus membawanya kembali ke sarang. Kedua perilaku ini dapat digunakan untuk memeprediksi kapan terjadi oviposisi pada betina. Semakin dkat dengan waktu pemijahan maka semakin sering terjadi oviposisi.

Selain penggalian, betina juga menunjukkan perilaku unik lain dalam membangun sarang yaitu sweeping. Selama perilaku sweeping, betina tetap berada pada sarangnya dan secara kontinu menekuk ekor mereka  sehingga tubuhnya bergerak-gerak menyerupai ombak. Hal ini mengakibatkan pancaran air menghilangkan pasir dan material halus lainnya dari sarang. Perilaku sweeping diperkirakan merupakan adaptasi dari genus Salvelinus untuk memijah di air yang tenang dan berfungsi untuk membersihkan sarang dari sedimen.

Selama pembengunan sarang, betina mempertahankan lokasi mereka dari betina yang berdekatan atau yang baru datang. Kadang-kadang betina terpaksa meninggalkan sarangnya karena betina lain. Pertarungan antara betina yang sarangnya saling berdekatan sering terjadi. Ikan jantan tidak bekontribusi dalam pembangunan sarang tetapi jantan saling bertarung untuk memasuki sarang betina. Jantan yang dominan menempati posisi yang terdekat dengan  betina dan berpasangan dengan betina serta mencegah jantan lain mendekati betina tersebut. Untuk berpasangan dengan betina, jantan mendekati betina secara lateral dari belakang dan menggetarkan tubuhnya dengan cepat (dengan frekuensi tinggi dan amplitude rendah) dari kepala sampai ekor secara intens. Menggetarkan tubuh merupakan salah satu perilaku kawin yang biasa pada semua jenis salmon. Hierarki dominansi juga berlaku untuk ikan satellite.

    

Oncorhynchus jantan mungkin menggali selama proses pemijahan (gambar 14). Perilaku ini menunjukkan agresivitas dan berhubungan dengan agresi antar jantan. Perilaku menggali dari ikan jantan merupakan rekasi displacement.

Pemeriksaan Sarang (Nest Probing)

            Betina akan menguji bentuk dan kedalaman sarang dengan merendahkan sirip analnya ke dalam kerikil, perilaku ini disebut probing. Selama perilaku probing betina menaikkan sirip caudalnya, melenturkannya ke atas da ke bawah, sehingga sirip analnya tetap ditekan di dalam kerikil dan tubuh ikan berada pada dalam cekungan sarangnya. Selama fase probing, betina mengurang frekuensi penggalian dan menghabiskan waktunya lebih banyak di sarang.

Probing yang dilakukan betina merupakan sinyal untuk janta yang mendekati oviposisi. Jantan  dominan merespon probing dengan menggetarkan tubuhnya. Jantan mempertahankan posisi di belakang dan secara konstan melewati peduncle caudal dari betina dari sisi satu ke sisi lainnya mencoba mengawal betina dari jantan lqin yang datang dari sisi lainnya. Perilaku ini disebut crossover. Perilaku Crossover mungkin berkontribusi dalam perkawinan untuk stimulasi konstan pada area dorsal betina. Perbedaan tipe ancaman yang bervariasi dalam intensitas dan kemungkinan signifikan terdapat pada tabel 1.

Tabel 1. Pertunjukan pertarungan yang biasa ditampilkan oleh jantan Salmoninae selama proses pemijahan

Display Deskripsi
Frontal display Kepala menghadap ke bawah dam ekor menghadap ke atas. Sirip dorsal ditekan.
Lateral display Ikan berada pada posisi parallel dengan pesaingnya dan tubuhnya dinaikkan dan sirip ditegakkan
T-display Dari lateral dislplay, ikan berenang ke hulu dan membelokkan tubuhnya dan menunjukkan tubuhnya pada pesaingnya dengan sudut 90o dan membiarkan arus menggerakkan tubuhnya menuju pesaingnya.
Flanking display Jantan domain membiarkan arus membawa tubuhnya menuju pesiangnya dan menunjukkan panggul tubuhnya dengan sudut tertentu sementara menjaga sirip tetap tegak dan tubuh dinaikkan
Tail display Jantan dominan dengan sirip tegak dan tubuh dinaikkan  mengepakkan ekornya diatas air diatas kepala pesaingnya.

Penyelesaian Sarang dan Oviposisi (Nest Completion and Oviposition)

Semakin mendekati penyelasaian, sarang semakin dalam sesuai sudut tubuh betina selama perilaku probing  meningkat. Saat sudutnya mencapai 20o maka sarang dianggap selesai. Pada waktu ini oviposis dapat terjadi sewaktu-waktu. Pada betina yang mendekati waktu pemijahan, perilaku probing  meningkat dan perilaku menggali menurun. Perilaku tersebut dibarengi dengan meningkatnya frekuensi respiratori. Beberapa menit sebelum oviposisi, pergerakan betina melambat. Selain itu, emisi gelembung yang mempengaruhi buoyancy, selama betina mengalami oviposisi, mendekati substrat.

Beberapa detik sebelum memijah, betina mulai menggetarkan tubuhnya ketika probing dan gaping. Pada waktu ini betina mungkin menunjukkan pemijahan palsu. Selama pemijahan palsu, betina mengimitasikan pemijahan sebenarnya (melakukan perilaku yang sama), tetapi tidak menghasilkan telur. Jantan dominan yang bersama saat pemijahan ini juga mengeluarkan sperma. Pemijahan palsu terjadi jika stimulusnnya kurang untuk oviposisi. Pada pemijahan yang berhasil, kedua ikan mengeluarkan gamet selama gaping dan bergetar dengan tubuh mereka ditekan bersamaan dan siripnya memanjang maksimal. Sirip caudalnya melentur ke atas sehingga lubang saluran reproduksinya menghadap substrat. (gambar 25 dan 26). Ketika pemijahan sebenarnya atau pemijahan palsu terjadi, jantan subordinat (sneaker), berkali-kali bergabung untuk mengeluarkan sperma. Fenomena ini dapat terjadi pada saat yang sama ketika jantan dominan memijah (gambar 27 dan 28) atau sesegera mungkin setelah jantan dominan memijah (gambar 29).

Penutupan Sarang (Nest Covering)

Setelah betina Oncorhynchus dan Salmo melepas telur mereka langsung menutupi dengan serangkaian menggali cepat secara diskrit (Gbr. 30). Mereka menggali kerikil yang sangat lembut dan biasanta tidak berpindah. Penutupan scara nyata berbeda dati yang digunakan utnuk membuat sarang, Telur biasanya benar-benar dikubur, dengan kedalaman kerikil sampai kedalaman sarang di 30-40. menit setelah pemijahan.

Salvelinus betina melakukan perilaku yang unik setelah pemijahan terdiri dari gerak tubuh yang lambat dan berirama. Gerakan ini rupanya dilakukan untuk  membubarkan telur yang baru saja disimpan di celah sarang dan mungkin untuk  mereka campurkan. Gerakan ini mirip mungkin juga adaptasi dari Salvelinus untuk memijah di perairan yang mana. Selama masa penutupan sarang, jantan dominan menjauhi betina dan mulai mencari betina lain. Hal ini dapat terjadi karena sebagai musim pemijahan berlangsung, perempuan menjadi relatif langka atau yang ditinggalkan biasanya dijaga oleh jantan lain.

Setelah proses yang pentupan dilakukan, betina bisa beristirahat untuk jangka waktu atau segera mulai menggali sarang baru. Biasanya terletak hulu dari penggalian sebelumnya dan baru-baru ini meliputi digunakan untuk memulai itu. Spesies Semelparous hanya menggunakan satu dari redd mereka membela sampai mati. Sebaliknya, spesies iteroparous, kadang-kadang menggunakan dua atau lebih redds untuk menemukan sarang mereka. Selain itu, spesies smelparous biasanya tetap di redds mereka selama proses pemijahan secara keseluruhan, sementara betina  yang redds iteroparous ditinggalkan untuk periode selama dan setelah membangun sarang (pengamatan pribadi).

 

DAFTAR PUSTAKA

Esteve, Manu. 2005. Observations of Spawning Behaviour in Salmoninae: Salmo, Oncorhynchus, and Salvelinus. Review in Fish Biology and Fisheries, 15:1-21.

REPTIL

1.             Definisi dan Morfologi Reptil

 

Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakannya dengan kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit secara total yaitu pada anggota sub-ordo Ophidia dan pengelupasan kulit sebagian pada anggota sub-ordo Lacertilia. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Zug, 1993).

 

Reptilia adalah kelompok hewan darat yang sebenarnya karena mereka bernapas dengan paru-paru sepanjang hidupnya. Sebagai hewan darat yang hidup di lingkungan kering, kulitnya memiliki lapisan bahan tanduk yang tebal. Lapisan ini mengalami modifikasi menjadi sisik-sisik. Kulit sedikit sekali mengandung kelenjar kulit. Ada di antaranya yang selain mempunyai sisik epidermis juga mempunyai sisik dermis, misalnya buaya. Pada anggota Lacertilia pengelupasan kulit terjadi sedikit demi sedikit, sedangkan pada ular terjadi sekaligus. Reptil termasuk Tetrapoda sehingga memiliki 4 buah tungkai atau kaki, tetapi ada pula di antara anggota-anggotanya yang tungkainya mereduksi atau menghilang sama sekali. Menghilangnya tungkai-tungkai itu merupakan ciri sekunder, atau wujud adaptasi terhadap lingkungan. Hewan reptil berkloaka dengan celah berbentuk transversal atau longitudinal. Sebagai hewan darat reptil telah memiliki langit-langit sekunder, dan pada buaya perkembangannya telah sempurna. Semua reptil bergigi kecuali kura-kura. Perlekatan gigi-gigi itu ada yang acrodont, pleurodont, thecodont. Pada anggota Lacertilia, lidah berkembang baik dan dapat digunakan sebagai ciri penting untuk klasifikasi. Alat pendengar, ada yang dilengkapi dengan telinga luar dan ada yang tidak. Mata ada yang berkelopak dan dapat bergerak, ada pula yang kelopaknya tidak dapat bergerak serta berubah menjadi bangunan transparan. Reptil jantan memiliki alat kelamin luar berupa sebuah penis atau satu pasang hemipenis. Embrio memiliki gigi telur untuk merobek cangkang telur pada waktu menetas. Klasifikasi reptil, pada awalnya didasarkan atas arsitektur tengkoraknya. Formulasi ini dikemukakan oleh Osborn tahun 1903, yaitu ditunjukkan dengan adanya ciri-ciri tengkorak: anapsid, diapsid, synapsid (parapsid). Sekarang klasifikasi reptil tersebut telah banyak berubah, dan dibagi menjadi 4 ordo: Testudinata, Rhynchocephalia, Squamata dan Crocodilia (Buden, 2000).

 

Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada Serpentes dan sebagian Lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya memiliki 5 jari atau pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru (Zug, 1993).

 

Semua Reptil bernafas dengan paru-paru. Jantung pada reptil memiliki 4 lobi, yaitu 2 atrium dan 2 ventrikel. Pada beberapa reptil sekat antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri tidak sempurna, sehingga darah kotor dan darah bersih masih bisa bercampur. Reptil merupakan hewan berdarah dingin, yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm. Untuk mengatur suhu tubuhnya, reptil melakukan mekanisme basking, yaitu berjemur di bawah sinar matahari. Saluran ekskresi kelas Reptilia berakhir pada kloaka. Ada dua tipe kloaka yang spesifik untuk ordo-ordo reptilia. Kloaka dengan celah melintang terdapat pada ordo Squamata, yaitu sub-ordo Lacertilia dan sub-ordo Ophidia. Kloaka dengan celah membujur yaitu terdapat pada ordo Chelonia dan ordo Crocodilia (Zug, 1993).

 

Pada anggota lacertilia, lidah berkembang baik dan dapat digunakan sebagai ciri penting untuk identifikasi. Semua reptil memiliki gigi kecuali pada ordo Testudinata. Pada saat jouvenile, reptil memiliki gigi telur untuk merobek cangkang telur ketika menetas, yang kemudian gigi telur tersebut akan tanggal dengan sendirinya saat mencapai dewasa. Beberapa jenis reptil memiliki alat pendengaran dan ada yang dilengkapi telinga luar ataupun tidak. Pada beberapa jenis lainnya, alat pendengaran tidak berkembang. Mata pada reptil ada yang berkelopak dan ada yang tidak memiliki kelopak. Kelopak mata pada reptil ada yang dapat digerakkan dan ada yang tidak dapat digerakkan dan ada juga yang berubah menjadi lapisan transparan (Zug, 1993).

 

Habitat dari kelas Reptilia ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan akuatik seperti penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu ordo Crocodilia dan beberapa anggota Ordo Chelonia, beberapa sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada kebanyakan sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, beberapa anggota ordo Testudinata, sub-terran pada sebagian kecil anggota sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada sebagian kecil sub-ordo Ophidia dan Lacertilia (Zug, 1993).

 

Dibandingkan dengan amphibi reptilia terbilang lebih maju hidup didarat. Hal ini dikarenakan:

1.    Adanya cangkang pada telur dan adanya amnion pada embrio sehingga menjamin perlindungan terhadap bahaya kekeringan pada telur-telur yang diletakkan didarat.

2.    Sisik epidermis yang berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh fisik (misal luka) dan juga sebagai pelindung terhadap kekeringan

2.             Beberapa sistem pada reptil

 

2.1   Sistem Pencernaan

 

Pada sistem pencernaan dibedakan antara tractus digestivus dan glandula digestoria.

2.1.1    Tractus Digestivum

Terdiri dari: cavum oris, pharynx, esophagus, vetriculus, intestinum tenve, cecum, intestinum crassum dan cloaca. Didalam cavum oris terdapat dentes yang berbentuk canus. Dentes ini berbentuk pleurodont, artinya menempel pada sisi samping gingiva, sedikit melengkung ke arah medial cavum oris. Pada mabouya tidak kita jumpai dentes palatini. Selain itu dalam cavum oris terdapat lingua yang berpangkal pada Os hyldeum di sebelah caudal cavum oris, ujungnya bersifat befida. Ventriculus pada mabouya ini berdinding musular yang tebal dari bentuk cylindris. Intestinum crassum berfungsi sebagai rectum. Cecum merupakan batas antara instestinum tenve dan intestinum crassum (Bennett, 1998).

 

2.1.2    Glandula digestoria

Terdiri dari hepar dan pancreas, empedu yang dihasilkan oleh hepar ditampung kantong yang disebut vesica fellea. Hepar terdiri atas 2 lobi, yaitu sinister dan dexter dan berwarna coklat kemerahan. Vesica fellea terletak pada tepi coudal lobus dexter hepatis. Pancreas terletak dalam suatu lengkung antara ventriculus dan duodenum. Ductus cysticus dari vesica fellea menuju jaringan pancreas bergabung dengan ductulli pancreatici, kemudian keluar menjadi satu ductus yang besar disebut hepato-pancreaticus atau ductus choledochus yang bermuara pada duodenum. Ventriculus terikat pada dinding tubuh dengan perantaraan suatu alat penggantung yang disebut mesogastrium. Kemudian alat penggantung instestinum tenue disebut mesenterium, alat penggantung intestinum crassum (rectum) disebut mesorectum. Antara permukaan dorsal hepar dan ventriculus terdapat suatu lipatan tipis yaitu omentum gastrohepaticum. Omentum ini memanjang ke caudal disebut omentum duodeno-hepaticum yang menghabungkan hepar dengan duodenum (Bennett, 1998).

 

2.2   Sistem Respirasi

 

Umumnya reptilia mempunyai trachea yang panjang dimana dindingnya dilengkapi oleh sejumlah cincin cartilago. Larinx terletak di ujung anterior trachea. Dinding larinx ini dilengkapi oleh cartilago cricoida dan cartilago anytenoidea. Kearah posterior trachea membentuk percabangan (bifurcatio) menjadi bronchus kanan dan bronchus kiri, yang masing-masing menuju ke pulmo kanan dan pulmo kiri. Bentuk Pulmo lacertilia dan ophidia reptilia relatif sederhana. Pada beberapa reptilia, bagian internal pulmo terbagi tidak sempurna dan menjadi 2 bagian, yaitu bagian anterior berdinding saccuter sedang bagian posterior berdinding licin, tidak vasculer dan berfungsi terutama untuk reservoir. Pada ular umumnya pulmo mempunyai lekukan-lekukan yang asymetris, dan pulmo kanan selalu sangat pamang (Bennett, 1998).

 

2.3         Sistem Ekskresi

 

Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru, kulit dan kloaka. Kloaka merupakan satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil metabolisme. Reptil yang hidup di darat sisa hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah padat berwarna putih (Bennett, 1998).

 

2.4   Sistem Peredaran darah

 

Terdiri dari 2 atria, yaitu atrium dextrum dan sinistrum, 2 ventriculus yaitu ventriculus dexter serta ventriculus sinister, dan sinus venosus. Atrium dextrum dipisah dengan atrium sinistrum oleh septum atriarum. Antara atrium dan ventriculus ada sekat yang disebut apertura atriovenricularis dengan katup valvula atrioventricularis. Ventriculus dexter dipisah dari ventriculus sinister oleh septum ventriculorum ialah tidak sempurna sehingga darah di ventriculus dexter dan sinister untuk sebagian masih tercampur (Bennett, 1998).

 

Dari ventriculus dexter keluar areus aortae sinister yang membelok ke kiri, dan arteria pulmanalis yang bercabang dua masing-masing ke pulmo. Dari ventruculus sinister keluar arcus aortae dexter yang membelok ke kanan dan mempercabangkan sebuah arteria yang berjalan ke arah cranial yaitu arteria carotis communis. Arteria carotis communis ini akan bercabang dua menjadi arteria carotis communis dexter dan sinister yang masing-masing baik dexter maupun sinister akan bercabang lagi menjadi arteria carotis externa dan interna (Bennett, 1998).

 

Arteria carotis communis interna kiri akan membuat suatu hubungan dengan arcus aortae sinister. Arcus aortae dexter dan sinister, masing-masing berjalan ke caudal dan keduanya bertemu di medial untuk menjadi satu pembuluh yang besar disebut aorta dorsalis. Sebelum kedua arcus aortae ini bertemu, arcus aortae dexter terlebih dulu mempercabangkan arteria esophagus yang menuju ke esophagus, kemudian juga mempercabangkan arteria subelavia dexta dan sinistra yang menuju ke extremitas anterior (Bennett, 1998).

 

Sinus venosus menerima darah dari vanae besar, ialah vena cova superior dexta dan sinistra, dan vena cava inferior yang datang dari bagian caudal tubuh setelah menerima vena hepatica terlebih dulu. Dari sinus venosus darah kemudian menuju ke atrium dextrum. Yang masuk ke atrium sinistrum ialah vanae pulmonalis yang berisi darah arterial dari pulmo (Bennett, 1998).

 

2.5         Sistem Reproduksi

 

Jantan

  • Memiliki alat kelamin khusus : hemipenis
  • Sepasang testis
  • Memiliki epididimis
  • Memiliki vas deferens

 

Betina

  • Memiliki sepasang ovarium
  • Memiliki saluran telur (oviduk)
  • Berakhir pada saluran kloaka

 

Kelompok reptil seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan hewan-hewan yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Umumnya reptil bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter atau kadal akan menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari cadangan makanan yang ada dalam telur. Reptil betina menghasilkan ovum di dalam ovarium. Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Reptil jantan menghasilkan sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada saat kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina (Bennett, 1998).

 

Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah (Bennett, 1998).

 

Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan kura-kura serta berbagai jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan kembali ke daratan ketika meletakkan telurnya.

3.       Klasifikasi Reptil

 

Kelas reptilia dibagai menjadi 4 ordo, yaitu Rhyncocephalia (contohnya: tuatara), Testudinata atau Chelonia (contohnya: penyu, kura-kura, dan bulus), Squamata (contohnya: Serpentes, Lacertilia, dan Amphisbaena), dan Crocodilia (contohnya: buaya, aligator, senyulong, dan caiman).

Chaetodontidae (butterflyfish)

Ikan yang berasal dari family Chaetodontidae atau biasa disebut Butterflyfish atau ikan Kupu-kupu, tetapi masyarakat lokal di Indonesia kebanyakan menyebutnya ikan Kepe-kepe. Butterflyfish terlihat seperti versi kecilnya dari angelfish (Pomacanthidae), hanya saja pada Butterflyfish (Chaetodontidae) tidak memiliki sebuah tulang berbentuk bumerang yang ujung-ujungnya membentuk margin posterior dan lebih rendah dari daerah ingsang (preopercle) yang membentuk seperti duri dan bentuk tubuh yang sedikit membulat seperti kupu-kupu.

Ukuran tubuh family Chaetodontidae berkisar rata-rata sebesar telapak tangan orang dewasa dengan bentuk yang lebar tetapi pipih. Tubuhnya dihiasi oleh beragam corak dan warna yang mencolok dan indah, membuat family dari ikan ini banyak yang menggemarinya untuk dipelihara di akuarium.  Chaetodontidae merupakan anggota keluarga yang mudah di identifikasi dari family lainnya karena corak dan warnanya yang khas, meskipun corak warnanya yang indah dan warna-warni cenderung membuat sedikit mirip dengan Famili Pomacanthidae.

Butterflyfishes (Chaetodontidae) biasanya pergi sendirian atau berpasangan, berenang menggunakan penglihatan yang tajam untuk mecari cacing-cacing kecil, polip terbuka dan invertebrate laut lainnya. Ikan yang memiliki corak berwarna-warni ini menghabiskan siang harinya melayang di atas terumbu karang. Meskipun sebagian besar spesies hanya mendiami terumbu karang untuk makan plankton yang melayang dan bersembunyi. Umumnya berada pada perairan kurang dari 18 meter meskipun beberapa spesies turun sampai kedalaman 180 meter.

Untuk membedakan antar spesies pada family ini memang cukup membingungkan, meskipun terdapat perbedaan bentuk tubuh yang sangat menonjol pada beberapa genus. Kita harus lebih teliti dan memperhatikan corak pada tubuhnya.

Beberapa genus dari famili Chaetodontidae yang memiliki bentuk tubuh yang berbeda

     
Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Actinopterygii

Order: Perciformes

Family: Chaetodontidae

Genus: Forcipiger

Species: F. longirostris

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Actinopterygii

Order: Perciformes

Family: Chaetodontidae

Genus: Chaetodon

Species: C. vagabundus

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Actinopterygii

Order: Perciformes

Family: Chaetodontidae

Genus: Heniochus

Species: H. diphreutes

Meskipun pada genus atau family ikan ini cukup mudah untuk di bedakan dengan family lain, tetapi untuk membedakan antar spesies tersebut kita harus lebih teliti lagi. Karena terdapat beberapa spesies yang hampir mirip jika kita lihat secara singkat atau kurang teliti.

                         C. trifasciatus                                                        C. lunulatus

                        C. melannotus                                                          C. ocellicaudus

Contoh perbedaan antar spesies family Chaetodontidae yang sangat mengecoh jika kita tidak memperhatikan coraknya dengan seksama, berpedaannya sangatlah tipis. Sepintas spesies ini terlihat sama jika kita tidak teliti. Sedangkan di Indonesia sendiri terdapat kurang lebih 45 spesies ikan dari family Chaetodontidae, dan di Asia Tenggara terdapat kurang lebih 60 spesies. Seperti namanya ikan kupu-kupu yang sama sulitnya dengan identifikasi kupu-kupu sungguhan, hanya saja yang satu ini bedanya adalah Phylum Chordata bukan Arthropoda.

Bawah Laut Pasir Putih

Di tengah sibuknya perkulihan yang penat dan bisa dibilang sedikit membosankan tiba-tiba terdengar tawaran untuk berlibur terselubung. Wah apa tanggapan yang seharusnya dilakukan? Kalo saya pribadi pasti sulit untuk berkata “tidak” dan sangat mudah untuk berkata “iya” dengan segala pertimbangan agar tidak mengganggu waktu kuliah. Waktu berliburnya di hari sabtu dan minggu, ketika kesibukan akademik perkuliahan di skip untuk istirahat setelah 5 hari bergeliat di kampus tercinta.

Pada awalnya saya kira hanya berniat untuk berlibur tidak jauh dari kota Surabaya. Ternyata kata-kata ajakan dari Bpk. Farid berupa liburan di Pasir Putih Situbondo sekaligus untuk melihat keindahan bawah lautnya, tawaran itu membuat saya tidak hanya senang lagi berkata “iya”, tetapi ditambah sangat senang. Sungguh sangat penasaran, berangan-angan, dan tidak sabar untuk segera berangkat.

Di hari pra keberangkatan semua persiapan sudah disiapkan. Snorkel, masker, fins sudah disiapkan terlebih dulu karena tujuan awal untuk melihat keindahan bawah lautnya. Selanjutnya tinggal persiapan kebutuhan primer alias baju ganti, dan logistik. Semua persiapan sudah masuk ke dalam tas dan resleting back pack sudah fixs untuk ditutup. Tinggal menunggu waktu untuk berangkat dan tidur di dalam kendaraan. Alhasil berangkat dari surabaya pukul 01.00 malam dengan menumpangi Bus malam jurusan Probolinggo, karena sudah tidak ada Bus yang langsung sampai ke tujuan Situbondo akibat waktu sudah terlalu malam. Karena tekat sudah bulat dan berkobar kayak pemuda Surabaya di tragedi 10 Nopember tidak menghiraukan semua halangan yang ada di depan mata, “pokoknya budal” semboyan saat itu.

Sampai di lokasi pukul 06.00 dengan teguran dari Pak Farid akibat dengkuran tidur saya yang sangat keras. “Hehehe, maaf” kata yang bisa saya ucapkan saat itu. Akhirnya memutuskan untuk beristirahat di rumah Bpk. Harno sekaligus silaturahmi kepada bapak yang ikut ambil bagian sebagai pembimbing teman-teman untuk sertifikasi selam. Sampai di lokasi rumahnya terlihat ruberboat yang lama tidak digunakan dan peralatan diving lengkap dengan berbagai ukuran. Pemandangan yang sungguh menggoda untuk mencicipinya segera.

Hidangan kopi dan sarapan sudah lewat melalui tenggorokan, cuci mulut onde-onde pun sudah lenyap di meja yang di sajikan istri Bpk. Harno. Perut sudah terisi, mulut sudah tercuci, sekarang saatnya untuk berangkat ke lokasi yang kebetulan tidak jauh dari rumah beliau. Motor di starter, tarik gas, dan berangkat maann.

Sesampai dilokasi saya sudah siap menaiki perahu untuk ke tengah laut melihat keindahan life form di pantai Pasir Putih Situbondo. Sesampai di tengah-tengah ternyata tidak hanya melihat keindahan dengan snorkel yang didapat, tapi sekaligus diving. Sungguh sangar, materi teknik menyelam saja belum dapat. Hanya bermodalkan sedikir materi dan cara menggunakan alat saya sudah di suruh turun. Begitu turun di kedalaman 3 meter rapatnya tutupan karang, dan warna-warni ikan karang menghiasi dasar laut menambah warna hidup saya saat itu.

Sungguh indah bila melihat ikan-ikan yang bertaburan di laut, kuasa tuhan lah yang hanya menciptakan hal ini. Dengan ditemani Ikan Famili Pomacanthidae, Scrombidae, Chaetodontidae, Scaridae, Amphiprioninae yang tidak bisa jauh dari Anemon saya berkeliling kesana kemari sembari menunggu oksigen dalam tabung habis. Masih banyak biota laut yang sangat indah bertaburan dan bersembunyi di balik lebatnya Acropora Branching membuat penasaran untuk melihatnya. Sini-sini jangan malu-malu, cuman mau photo bareng doang.

Semakin dalam kedalaman dan semakin gelap pula membuat saya seperti memasuki dunia baru. Dengan rasa penasaran mencoba untuk ekualisasi dan masuk ke dunia yang menyembunyikan keindahannya tersebut. Glug-glug, eh isi tabungnya habis, terpaksa harus mentas akibat panggilan alami menandakan akhir perjalanan bawah air di hari ini dan lanjut untuk besoknya lagi.

Oleh-oleh Pengamatan Burung Di ITS Surabaya

Kisah ini berawal dari pengamatan yang dilakukan di lokasi komplek Kampus ITS Surabaya bersama teman-teman Pecuk saya tercinta, dengan tujuan untuk mengambil data burung yang ada di wilayah Kampus ITS Surabaya. Berangkat dengan hanya bermodalkan secarik kertas, bulpoint, binokuler, kamera pinjaman, air minum dan tidak lupa sebungkus rokok inter yang selalu melekat di saku kanan celana.
Memang agak aneh jika dipikir lagi menghabiskan waktu seharian di bawah teriknya matahari dikota Surabaya hanya untuk mengamati burung(aves). Mungkin orang akan mempunyai firasat “orang itu gila setiap detik melihat keatas, padahal tidak ada apa-apa” atau “cuman mau lihat burung aja pake susah-susah, ke pasar burung aja banyak”. Tidak hanya firasat saja, bahkan pernah menemui beberapa orang yang pernah berkata seperti itu. Boleh saja setiap orang mengutarakan pendapat, berkata, atau mengkritik seseorang, toh Indonesia juga negara demokratis atau demokrasi ya yang bebas beraspirasi itu?. Saya menerima kritikan seperti itu karena orang memiliki pemikiran dan dunianya sendiri.Dan saya berfikir bahwa saya memiliki dunia saya sendiri “ini loh dunia saya” sedikit keras kepala memang tetapi dalam pikiran saya hal sepele atau terlihat tidak berguna seperti ini juga bisa berpengaruh terhadap dunia di masa depan “amin”.

Pengamatan burung “aves” ini tidak  hanya dilakukan dalam jangka waktu sehari. Memang melelahkan setelah berhari-hari hanya melakukan kegiatan seperti itu, tetapi terdapat suatu tujuan tertentu juga sih kenapa saya melakukan hal tersebut. Walaupun tujuan itu hanya menjadi salah satu uang saku saya untuk melakukan kegiatan tersebut, dan tidak ada tujuan yang menjadi motivasi saya penuh untuk mendorong saya. Ini sudah menjadi bagian Hobi saya, semua orang pasti mempunyai hobi masing-masing. Tidak berfikir, bahkan tidak menghiraukan apapun kalau sudah berhadapan dengan Hobi yang digemarinya tersebut.

Di beberapa hari yang panas dan melelahkan tersebut akhirnya mendapatkan data dan foto-foto beberapa spesies burung yang nyangkut di kamera hasil pinjaman yang menjadi oleh-oleh sekaligus menjadi cerita kepada teman-teman saya selama seharian tadi.

Di lokasi kampus ITS sendiri memiliki kurang lebih 57 spesies burung, dan terdapat 36 spesies burung yang menyandang pangkat spesies langka dalam skala global maupun menurut peraturan pemerintah melalui PP No. 7 Tahun 1999. Tidak heran diberlakukannya larangan menembak di wilayah kampus ITS dan ditetapkannya daerah konservasi oleh kepala BAUK-ITS. Tetapi pada kenyataan dan kehidupan sehari-hari masih saja ada masyarakat sekitar yang masih belum sadar akan kelestarian lingkungan, bahkan seringkali bersilang pendapat sampai terbawa emosi dengan masyarakat sekitar yang masih menangkap burung, memang benar masyarakat saat ini tidak menembak burung lagi, dikarenakan menembak hanya menghabiskan peluru, tidak evisisen, bahkan bisa saja ketahuan dengan letupan suaranya oleh Satuan Keamanan Kampus ITS (SKK-ITS). Masyarakat sekitar telah memiliki metode baru berupa menjaring burung, dengan sekali pasang jaring akan mendapatkan sampai lebih dari lima ekor burung dengan spesies yang berbeda. Lebih evisien teringat dalam hati kata “Bapak Tukang Penangkap Burung” tersebut.
Bila dipikirkan lebih lanjut, kita tidak dapat begitu saja melakukan larangan atau himbauan tanpa memikirkan kisah hidup si “Bapak Tukang Penangkap Burung” untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anaknya supaya tidak menjadi penangkap burung seperti orang tuanya. Alangkah kejam negeri ini jika kita menghapuskan mata pencaharian seseorang dengan hanya menuruti keinginan kita tanpa memikirkan solusi lain yang bisa diterapkan pada salah seorang tersebut agar dapat melangsungkan hidup dengan madani, seperti yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW.

Saat ini saya dan teman-teman yang memiliki tujuan yang sama di dalam Kelompok Studi Burung Liar PECUK masih dalam proses memikirkan cara agar kegiatan konservasi burung di wilayah ITS ini tidak bersinggungan dan memiliki perselisihan pendapat dengan masyarakat sekitar yang masih menangkap burung di ITS sekaligus memberikan gambaran bahwa betapa pentingnya kelestarian alam melalui kata “USE” atau “Menggunakan” di dalam konsep Konservasi itu sendiri yang berarti “Boleh menggunakan secara bijaksana”.

 

Coral Life Form Pantai Bama

Coral Life Form Pantai Bama

Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur

Ahmad Yanuar (1509100050); Talitha Rahma N (1509100051); Ida Wilujeng (1509100055); Rizal Koen (1509100069); Mutiara Arum (1509100039); Alfin Mustafida (1508100004)

Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

2011

ABSTRAK

Studi pengukuran penutupan terumbu karang dilakukan di pantai Bama TN Baluran, Situbondo menggunakan metode LIT (Line Intercept Transek) dengan jarak transek 100 meter. Studi ini dilakukan dengan membandingkan antara kedua transek pada lokasi yang berada didepan pantai dan didepan vegetasi hutan mangrove. Faktor fisik yang mempengaruhinya adalah Suhu, Salinitas, Cahaya, Sedimen, dan Gelombang. Untuk faktor biologi berupa persaingan memperoleh ruang antara Karang batu dan karang lunak ataupun karang batu dan bulu babi. Parameter lingkungan di peroleh salinitas 30ppt dan Suhu 30C. Dari hasil pengamatan pada transek satu didapatkan presentase penutupan karang hidup sebesar 26,23% dengan kriteria “Rusak sedang” dengan didominasi oleh Coral Massive (CM) sebesar 14,44%, pada transek dua didapatkan presentase penutupan karang hidup sebesar 31,80% dengan kriteria “Rusak Sedang” dengan karang yang mendominasi adalah Coral Massive dengan nilai presentase penutupan sebesar 10,73%.

Kata kunci : Terumbu Karang, Coral Lifeform

ABSTRACT

Studies of coral reef closure measurements carried out at the Beach Center TN Baluran, Situbondo with LIT (line intercept transect) with a distance of 100 m transects. Through the comparison between the two transects in the places that were on beach and in front of the vegetation of mangrove forests. The physical factors affecting temperature, salinity, light, sediments, and the waves. Biological in the form of competition factor to get the space between the rock and soft coral and coral reefs and sea urchins. Environmental parameters obtained salinity 30ppt and temperature of 30 C.  From observations in the transects a percentage of coverage of coral live retrieved by 26,23% of the criteria of “harm” the domination of the massive Coral (CM) 14,44%, in the two transects the percentage of coverage of coral live obtained by 31.80% criteria “moderate damage”, with coral reefs are dominated is massive, with a value of percentage of closing 10.73%.

Key words: Coral reefs, Coral Lifeform

PENDAHULUAN

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem khas perairan pesisir tropik, yang memiliki peranan yang sangat penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, terumbu karang menjadi tempat tinggal, berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan dan tumbuhan yang hidup di laut. Diperkirakan lebih dari 3.000 spesies biota laut dapat dijumpai pada ekosistem terum karang. Terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistim pantai lain seperti padang lamun dan magrove. Secara ekonomis, terumbu karang merupakan sumber perikanan yang tinggi. Dari 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di Indonesia, 32 jenis diantaranya hidup di terumbu karang, berbagai jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat menghasilkan 3 – 10 ton ikan per kilometer persegi pertahun. Keindahan terumbu karang sekaligus menjadi sumber devisa bagi negara dalam sektor wisata bahari (Timotius, 2003).

Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan dan industrialisasi, kondisi terumbu karang dalam kondisi yang memprihatikan. Aktivitas reklamasi pantai, penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun potasium sianida, pembangunan pelabuhan, serta pengambilan batu-batu karang sebagai bahan kontruksi telah mengakibatkan kerusakan yang parah pada ekosistem terumbu karang. Saat ini, Indonesia yang memiliki luasan areal terumbu karang 85.707 km2, hanya 6,20 % yang masih dalam kategori sangat baik, 23,72 % kategori baik, 28,30 % kategori sedang dan 41,78 % dalam kategori buruk atau rusak (Suharsono, 1996)

Terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat di laut yang dihasilkan terutama oleh hewan karang. Terumbu karang terutama disusun oleh karang-karang jenis anthozoa dari klas Scleractinia (Nybakken, 1992). Struktur bangunan batuan kapur (CaCO3) tersebut cukup kuat, sehingga koloni karang mampu menahan gaya gelombang air laut. Asosiasi organisme-organisme yang dominan hidup disini disamping scleractinian coral adalah alga yang juga mengandung kapur (Dawes,1981).

Polip karang merupakan hewan sederhana berbentuk tabung dengan bagian-bagian tubuh sebagai berikut:

a. Mulut terletak di bagian atas, dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan (Suharsono 1996; Timotius 2003) dan sebagai alat pertahanan diri (Timotius, 2003).

b. Tenggorokan pendek, rongga tubuh (coelenteron) merupakan saluran pencernaan.

c. Tubuh terdiri atas dua lapisan, ektoderm dan endoderm (gastrodermis), diantara keduanya dibatasi oleh lapisan mesoglea (Timotius, 2003). Lapisan ektoderm mengandung nematokista (nematocyst) dan sel mukus, sedangkan lapisan endodermisnya mengandung simbion zooxanthellae (Suharsono, 1996).

d. Sistem saraf, otot, dan reproduksi masih sederhana namun telah berkembang dan berfungsi dengan baik (Suharsono, 2004).

Karang dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan kebutuhannya akan cahaya matahari. Karang hermatipik (hermatypic coral) adalah kelompok karang yang tumbuh terbatas di daerah hangat dengan penyinaran yang cukup karena adanya simbion alga (zooxanthellae) (Suharsono, 2004), karang tipe ini merupakan pembentuk bangunan kapur atau terumbu karang (Supriharyono, 2000). Kelompok karang kedua adalah karang ahermatipik (ahermatypic coral) yang tidak membentuk terumbu karang (Supriharyono, 2000). Karang ahermatipik hidup di tempat yang lebih dalam. Karang hermatipik lebih cepat tumbuh dan lebih cepat membentuk deposit kapur dibanding karang ahermatipik (Suharsono, 2004).

Akresi adalah pertumbuhan koloni dan terumbu ke arah vertikal maupun horisontal. Karang melalui reproduksi aseksualnya menghasilkan karang-karang baru yang berhubungan satu dengan lainnya. Karang-karang tersebut membentuk koloni, yang kemudian tumbuh menjadi bentuk yang khas. Ragam bentuk pertumbuhan koloni tersebut meliputi:

a. Bercabang

Koloni ini tumbuh ke arah vertikal maupun horisontal, dengan arah vertikal lebih dominan. Percabangan dapat memanjang atau melebar, sementara bentuk cabang dapat halus atau tebal. Karang bercabang memiliki tingkat pertumbuhan yang paling cepat, yaitu bisa mencapai 20 cm/tahun. Bentuk koloni seperti ini, banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian atas lereng, terutama yang terlindungi atau setengah terbuka.

b. Padat

Pertumbuhan koloni lebih dominan ke arah horisontal daripada vertikal. Karang ini memiliki permukaan yang halus dan padat; bentuk yang bervariasi, seperti setengah bola, bongkahan batu, dan lainnya; dengan ukuran yang juga beragam. Dengan pertumbuhan < 1 cm/tahun, koloni tergolong paling lambat tumbuh. Meski demikian, di alam banyak dijumpai karang ini dengan ukuran yang sangat besar. Umumnya ditemukan di sepanjang tepi terumbu karang dan bagian atas lereng terumbu.

c. Lembaran

Pertumbuhan koloni terutama ke arah horisontal, dengan bentuk lembaran yang pipih. Umumnya terdapat di lereng terumbu dan daerah terlindung. Dijumpai di perairan

d. Seperti meja

bentuk bercabang dengan arah mendatar dan rata seperti meja. Karang ini ditopang dengan batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar (Timotius, 2003).

Menurut Randall (1987), berdasarkan proses pembentukannya, terumbu karang dibagi dalam 3 (tiga) jenis yaitu :

1. Terumbu karang cincin (Atol), biasanya terdapat di pulau-pulau kecil yang terpisah jauh dari daratan. Pembentukan karang tipe ini memerlukan waktu beratus-ratus tahun. Contoh terumbu karang cincin dapat ditemui di Takabonerate, Sulawesi Selatan.

2. Terumbu karang penghalang (Barrier reefs), Terumbu karang penghalang yang terbesar terdapat di Australia yang dikenal dengan The Great Barrier Reef.

3. Terumbu karang tepi (Fringing reefs) merupakan jenis yang paling banyak ditemukan di perairan Indonesia. Terumbu karang ini berada di pesisir pantai yang jaraknya mencapai 100 meter ke arah laut.

Transplantasi karang di msa mendatang akan memiliki banyak kegunaan, diantaranya untuk melapisi bangunan-bangunan bawah laut agar lebih kokoh, untuk menambahkan jumlah spesies karang yang langka atau terancam punah serta untuk mengganti kebutuhan pengambilan karang hidup untuk akuarium (Sadarun, 1999).

Di Taman Laut Great Barrier Reef, misalnya, pencangkokan karang dilakukan untuk mempercepat regenerasi ekosistem terumbu karang yang rusak akibat serangan Acanthaster plancii atau bulu babi. Di Teluk Kanehoe, Hawaii, transplantasi karang digunakan untuk menghadirkan kembali dua jenis ekosistem terumbu karang yang telah mati akibat limbah cair (Plucer-Rosario dan Randall, 1987).

Pertumbuhan hewan karang hermatipik terbatas pada kondisi cahaya yang cukup untuk proses fotosintesis zooxanthella, juga ditunjang dengan kondisi fisik antara lain arus, kedalaman, kekeruhan dan sedimentasi, serta aspek ekologis lain seperti siklus hari, suhu, konsentrasi plankton, predator, serta kompetisi dengan beberapa organism lainnya termasuk jenis hewan karang lainnya. Hewan karang dapat bertahan hidup pada kisaran suhu antara 18-360C dengan suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 26-280C. Perubahan suhu yang ekstrim akan menyebabkan kerusakan seperti terhambatnya reproduksi bahkan bias terjadi bleaching. Sedangkan kisaran salinitas untuk kehidupan hewan karang berkisar antara 33-36%o. Dalam kondisi di bawah kisaran tersebut maka pemanfaatan karbonat di air akan didominasi oleh kelompok alga kapur Dari aspek fisik, kerusakan terjadi karena beberapa hal, seperti adanya gelombang besar yang memporak-porandakan terumbu karang. Sedangkan penyebab kematiannya secara kimiawi adalah adanya polutan dari aktivitas manusia di daratan yang menyebabkan eutofikasi, sedimentasi, polusi serta masuknya air tawar yang berlebihan dari darat karena terjadi erosi melalui proses run-off (Purnomo dan Mohammad, 2008).

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Pengamatan dilakukan pada pantai Bama Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur pada tanggal 30 April 2011 Tansek satu di koordinat 7°50’44.50″ Lintang Selatan, dan 114°27’45.28” Bujur Timur dengan kedalaman rata-rata 1 meter, dan transek dua di koordinat 7°50’46.67″ Lintang Selatan, dan 114°27’39.99” Bujur Timur dengan kedalaman rata-rata 1 meter.

Peralatan

Peralatan yang digunakan yaitu snorkel, fin, masker, kertas newtop dan alat tulis.

Cara Kerja

a. Parameter Lingkungan

Sebelum dilakukan pengamatan dilakukan terlebih dahulu pengukuran parameter lingkungan yang mengukur salinitas menggunakan hand salino-refractometer yang memiliki tingkat ketelitian hingga 1%. Dan pengukuran suhu dengan menggunakan termometer merkuri yang memiliki tingkat ketelitian hingga 1C dan menentukan lokasi yang representatif sebagai tempat survey.

b. LIT

Dengan membuat transek sepanjang 100 meter sejajar dengan garis pantai. Pengamatan berenang (dengan peralatan skin diving) dari titik nol hingga titik 20 meter mengikuti garis transek yang telah dibuat dengan metode Line Intercept Transeck (LIT) dengan dua lokasi yang dibagi 100 meter pada bagian depan pantai dengan transek 0-100 meter dan 100 meter pada depan vegetasi mangrove.

Pengamat terdiri atas minimal dua orang, satu orang bertugas untuk membuat transek sedangkan yang lainnya bertugas untuk mencatat kategori life form karang yang dijumpai. Pengamat harus menguasai dan mengenal tipe-tipe bentuk terumbu karang, baik karang hidup maupun biota lainnya. Kemudian pengamat berenang (dengan peralatan skin diving) dari titik nol hingga titik 200 meter yang di bagi dua wilayah dan mengikuti garis transek yang telah dibuat.

Metode yang dilakukan menggunakan metode LIT (Line intercept Transek) dengan jarak sepanjang 100 meter untuk masing-masing transek, lokasi yang dilihat kerapatan karangnya terdapat dua transek.

Garis transek dimulai dari kedalaman dimana masih ditemukan terumbu karang batu (± 25 m) sampai di daerah pantai mengikuti pola kedalaman garis kontur. Umumnya dilakukan pada tiga kedalaman yaitu 3m, 5m dan 10m, tergantung keberadaan karang pada lokasi di masing-masing kedalaman. Panjang transek digunakan 30 m atau 50 m yang penempatannya sejajar dengan garis pantai pulau. Pengukuran dilakukan dengan tingkat ketelitian mendekati centimeter. Dalam penelitian ini satu koloni dianggap satu individu. Jika satu koloni dari jenis yang sama dipisahkan oleh satu atau beberapa bagian yang mati maka tiap bagian yang hidup dianggap sebagai satu individu tersendiri. Jika dua koloni atau lebih tumbuh di atas koloni yang lain, maka masing-masing koloni tetap dihitung sebagai koloni yang terpisah. Panjang tumpang tindih koloni dicatat yang nantinya akan digunakan untuk menganalisa kelimpahan jenis. Kondisi dasar dan kehadiran karang lunak, karang mati lepas atau masif dan biota lain yang ditemukan di lokasi juga dicatat. (English et al, 1994).

Analisa Data

Pencatatan dilakukan semua life form karang pada area yang dilalui oleh garis transek. Setiap life form harus dicatat lebarnya (hingga skala centimeter). Kategori life form mengacu pada AIMS (English et al., 1994). Bila memungkinkan, pengamat juga dapat mengidentifikai jenis karang yang diamati minimal hingga taksa genus.

Analisa data untuk presentase tutupan karang masing-masing life form karang dapat dicari dengan rumus :

Angka Prosentase tutupan karang =

Panjang Total Setiap Kategori x 100%

Panjang Total Transek

Presentase kriterian tutupan karang didasarkan pada presentase tutupan karang hidup yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang Berdasarkan Persentase Tutupan Karang Hidup

PEMBAHASAN

Pada pengamatan yang dilakukan menggunakan metode LIT. Menurut Johan, 2003, Studi pengamatan karang ini menggunakan Metode LIT (Line Intercept Transect) karena dengan melihat tutupan terumbu karang pada lokasi pengamatan. Yang di catat adalah penutupan life form terumbu karang yang dilewati oleh garis transek yang nantinya akan dilihat penutupan karang hidup, kerusakan atau karang matinya. Pemilihan penggunaan metode ini dikarenakan akurasi data sangat akurat, perolehan data juga jauh lebih baik dan banyak, penyajian struktur komunitas seperti persentase tutupan karang hidup/karang mati, kekayaan jenis, dominasi, frekuensi kehadiran, ukuran koloni dan keanekaragaman jenis dapat disajikan secara lebih menyeluruh, struktur komunitas biota yang berasosiasi dengan terumbu karang juga dapat disajikan dengan baik, tidak banyak memerlukan alat, dan tidak memakan banyak biaya.

Pemilihan transek untuk pengamatan seharusnya harus mengetahui kondisi lapangan yang akan di buat transek terlebih dahulu agar mewakili data dan representatif karena di metode ini hanya mencatat lebar karang yang dilewati oleh garis transek (meteran).

Parameter lingkungan yang diambil pada pengamatan terumbu karang kali ini berupa salinitas sebesar 30‰, dan suhu yang didapatkan sebesar 30C dengan kedalaman 1 meter. Adapun faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan karang antara lain :

Parameter Lingkungan Pengukuran

Lapangan Batas Optimum

Min Max

Suhu C

Salinitas ‰ 30

30‰ 160-170

17,5‰ 360-400

52,2‰

1. Suhu

Dari hasil pengukuran suhu yang didapatkan dilapangan didapatkan suhu 30C, Suhu tersebut merupakan suhu optimun bagi pertumbuhan karang. Karang merupakan organisme yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh suhu rata-rata air laut. Menurut Kinsman 1964 dalam Supriharyono (2000) suhu yang sesuai untuk pertumbuhan dan hidup karang berkisar antara 250 – 290 C. Sedangkan batas minimum dan maksimum suhu berkisar antara 160 – 170 dan 360 C Suhu yang mematikan bagi karang bukan hanya suhu yang ekstrem, namun fluktuasi suhu yang mendadak juga sangat berpengaruh namun beberapa karang masih mampu hidup sampai batas suhu 360 – 400. Jadi parameter fisik yang terdapat pada pengukuran yang dilakukan dilokasi masi dalam batas optimum untuk pertumbuhan karang.

2. Salinitas

Dari hasil pengukuran fisik yang dilakukan dilapangan didapatkan salinitas sebesar 30‰. Menurut Supriharyono (2000) Salinitas air laut di daerah tropis rata-rata ± 35‰, sedangkan karang tumbuh dengan baik pada salinitas ± 34‰ – 36‰ Pengaruh salinitas terhadap karang bervariasi tergantung pada kondisi perairan laut setempat dan/atau pengaruh alam seperti runoff air tawar, badai, dan hujan sehingga kisaran salinitas dapat mencapai 17,5‰ – 52,2‰. Hasil pengukuran lingkungan yang terdapat pada lokasi pengamatan tersebut masi dalam batas optimum karang itu tumbuh, dan salinitas tersebut juga termasuk pada batas salinitas optimum yang memungkinkan karang tumbuh dengan baik.

3. Cahaya

Menurut Nybakken (1997) Tanpa pencahayaan yang cukup, rata-rata fotosintesis akan menurun, dan hal ini juga akan mengurangi kemampuan karang untuk mensekresikan kalsium karbonat dan membentuk terumbu. Umumnya karang (terutama karang hermatipik) tidak tumbuh pada kedalaman 50 – 70 meter, dan lebih mudah dijumpai pada kedalaman 25 m atau kurang, terkait dengan ketersediaan cahaya. Pengamatan terumbu karang yang dilakukan terletak pada kedalaman sekitar 1 meter yang mendukung tumbuhnya terumbu karang dikarenakan cahaya yang masuk ke dasar air cukup cerah untuk pertumbuhan karang.

4. Sedimentasi

Kekeruhan dan sedimentasi yang terbawa arus menyebabkan berkurangnya penetrasi cahaya dan penutupan oleh sedimen pada permukaan koloni karang. Akibat sedimentasi ini dapat menghambat laju pertumbuhan, menghalangi rekrutmen, mengurangi tutupan karang, kelimpahan koloni, dan keragaman jenis karang batu. Menurut Hubbard dan Pocok 1972; Bak dan Elgershuizen 1976; Bak 1978 dalam Supriharyono (2000), keberadaan sedimen tersebut menyebabkan perairan di sekitar terumbu karang menjadi keruh, terutama setelah terjadi hujan atau badai, dan hal ini dapat mempengaruhi kehidupan karang. Level sedimen yang tinggi dapat langsung membunuh karang dengan cara menutupi mulut karang dan organ penangkap mangsanya.

Kondisi tutupan karang hidup pantai Bama Taman Nasional Baluran Situbondo Jawa Timur transek 1 dengan ditemukannya nilai Percent Life Coral Life Form yang hanya 26,23% dan diperoleh kriteria kerusakannya tergolong ke dalam Rusak sedang. Dari data yang diperoleh nilai persentase penutupan yang terbanyak adalah Ruble (R) dengan nilai 43,96% dan Pasir (S) sebesar 17,37%. Karang hidup yang mendominasi adalah Coral Massive (CM) dengan nilai sebesar 14,44%.

Pada transek 2 didapatkan penutupan karang hidup dengan nilai Percent Life Coral Life Form sebesar 31,80% yang di peroleh kriteria kerusakan tergolong ke dalam Rusak Sedang. Karang hidup yang mendominasi adalah Coral Massive dengan nilai presentase penutupan sebesar 10,73%. Nilai penutupan yang terbesar adalah Ruble dengan nilai 47,56% dan Deat Coral dengan nilai 13,85%. Hasil rata-rata presentase perbandingan tutupan terumbu karang pada transek satu dan dua dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

Untuk presentase kriteria baku kerusakan terumbu karang pada transek 1 dan transek 2 tersebut termasuk pada kriteria Rusak Sedang.

Dari data yang di peroleh tersebut transek 2 terdapat selisih yang tidak jauh beda dan lebih besar nilai Presentase penutupan karang hidupnya dengan nilai 31,80% dari pada transek 1 dengan kerapatan sebesar 26,23%. Ada beberapa kemungkinan kedua kriteria yang di dapatkan sama-sama sedang dikarenakan kedua substrat tanah memiliki kesamaan yaitu berpasir, untuk perbedaan yang sedikit pada penutupan karang dikarenakan lokasi karang tersebut yang berbeda, pada transek 1 berhadapan langsung dengan pantai berpasir yang tingkat kekeruhan akibar erosi pasir yang terbawa ombak sangat tinggi dibandingkan pada transek 2 yang lokasinya berada pada daerah depan vegetasi mangrove yang menyebabkan biota laut dan plankton begitu beragam untuk menunjang hidup zooxanthelae tersebut. Pasir tersebut terbawa oleh ombak yang membawa substrat pasir pada daerah pantai dan menyebabkan air keruh dan terjadi endapan pada karang akhirnya menghalangi zooxanthelae untuk mengambil plangton ataupun menghalangi cahaya masuk untuk fotosintesis zooxanthelae.

Pada kedua transek tersebut karang yang mendominasi adalah Coral Massive dengan didapatkan presentase penutupan pada transek satu sebesar 14,44% dan pada transek dua sebesar 10,73%, hal ini disebabkan karena pada rataan terumbu dangkal (reef front) yang mendapat pengaruh aksi gelombang dan resuspensi sedimen yang aktif umumnya karang tersebut memiliki bentuk massive seperti karang batu Diploastrea, Galaxea, Porites. Bentuk ecomorph seperti massive memberikan keuntungan bagi karang untuk membersihkan diri dari akumulasi sedimen dengan bantuan pergerakan arus. Reigl et al. (1996) menjelaskan bahwa bentuk karang umumnya merupakan refleksi dari kondisi lingkungan, morfologi karang yang terbentuk merupakan adaptasi terhadap kondisi lokal. Umumnya karang di perairan keruh membangun bentuk seperti punggung bukit daripada bentuk pertumbuhan yang datar. Sementara itu pada area dimana sedimentasi tergolong sedang dengan arus yang kuat morfologi karang cenderung berbentuk meja (tabulate) seperti karang Acropora hyacinthus, lembaran (foliose) atau cup-shape seperti Turbinaria. Berbeda halnya dengan karang Tubastrea dengan morfolologi seperti ranting tegak bercabang yang dominan pada tubir yang teduh (reef slope) pada kedalaman 4 – 7 m. Pertumbuhannya yang vertikal merupakan refleksi terhadap terbatasnya cahaya.

Untuk karang tipe massive menurut Nybakken (1997), karang tipe massive dapat memindahkan sejumlah kecil sedimen dengan memperangkap sedimen tersebut dalam mukus dan membuangnya melalui aksi cilliaris oleh tentakelnya.

Dan hal penting lainnya yang diperlukan terumbu karang adalah ada tidaknya aksi gelombang di tempat tersebut. Dalam lingkungan yang kurang aksi gelombang, lumpur akan terakumulasi dan membunuh karang. Dengan demikian, lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan karang adalah berada di atau sedikit di bawah permukaan laut, perairan dangkal, oligotrofik.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan didapatkan nilai persentase karang hidup pada transek satu tergolong “Rusak Sedang” dan presentasenya sebesar (26,23%) dimana yang mendominasi adalah Coral Massive dengan penutupan sebesar (14,44%). Sedangkan pada transek 2 presentase karang hidupnya tergolong “Rusak Sedang” dengan presentase penutupan sebesar (31,80%) yang lebih tinggi dari transek satu, dan didominasi oleh Coral Massive dengan presentase penutupan (10,73%).

HUBUNGAN PENCEMARAN ATMOSFER DAN KERUSAKAN STOMATA

EKOFISIOLOGI TUMBUHAN: HUBUNGAN PENCEMARAN ATMOSFER DAN KERUSAKAN STOMATA

 

AHMAD YANUAR (1509100050), NANING WIDYASTUTIK (1509100705)

BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA

2011

 

ABSTRAK

            Pencemaran udara adalah suatu kondisi dimana kualitas udara menjadi rusak dan tyerkontaminasi oleh zat-zat, baik yang tidak berbahaya maupun yang membahayakan bagi suatu spesies, baik manusia, hewan dan tumbuhan.Tumbuhan dalam skala besar seperti hutan sebagai paru-paru dunia yang terkena dampak dari pencemaran udara juga dapat mempengaruhi fotosintesis dan struktur stomata daun.Stomata sendiri merupakan mulut daun sebagai tempat pertukaran gas atau respirasi yang dilapisi dua sel khusus yaitu sel penutup.Permasalahan dalam percobaan ini adalah bagaimana pengaruh gas polutan terhadap struktur stomata daun. Untuk itu percobaan ini adalah bagaimana struktur stomata daun terhadap gas polutan. Untuk itu percobaan ini dilakukan agar mengetahui bentuk struktur daun terhadap gas polutan dan sebagai pembanding dapat digunakan pula daun dari tumbuhan yang tidak terkena gas polutan. Prinsip dari percobaan ini adalah dengan menggunakan daun sono (Pterocarpus indicus) dengan tempat pengambilan di tempat yang terkena banyak polusinya dan tempat yang sedikit polusi udaranya, hal tersebut sebagai pengamatan struktur stomata daun yang terkena gas polutan dan yang bebas gas polutan. Percobaan dilakuakan dengan cara membersihkan kedua sampel daun dengan kapas yang dibasahi air. Membuat preparat dengan melapisi permukaan atas daun dengan kutek kemudian dikeringkan.Setelah kering, ditambahkan isolasi.Isolasi dilepas dan di letakkan di atas obyek gelas dan diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 40×10.Lalu membandingkan struktur stomata daun yang terkena gas polutan dengan yang bebas polutan. Hasil yang diperoleh untuk daun 1 yang terkena gas polutan adalah stomatatotal= 80, rusak=62), daun2 (stomata total = 55, rusak = 43), daun3(stomata total = 54, rusak = 35).

Kata kunci: ekofisiologi, stomata, sel penutup (Guard cell), polutan

ABSTRACT

Air pollution is acondition in wich the air quality becomes damaged and contaminated by substances, whether that is not dangerous and harmful for a species, whether human, animaland plant. Such aslarge-scale plants forestsas the lungs – pulmonary world affected by air pollution can also directly affect leaf photosynthesis and stomata structure. It self is a leaf stomata mout has a place of exchange respiratory gases or coated two special cells which cover the cell. Problem sinthese experiments is how the influence of pollutant gases on the structure of the leaf stomata. For this experiment show the structure of the leaf stomata of pollutant gases. For the experiment swere done in order to know what kind of leaf structure and a comparison of pollutant gases can be used also leaves from plants that are not exposed to pollutant gases. The principle of this experimentis touses on leaves(Pterocarpus indicus) with the setina place exposed tomuch pollution and air pollution a little place, it isas an observation structure of the leaf stomata are exposed to pollutant gases and pollutant-free gas. Experiment both samples by cleaning the leaves with cotton wool soaked in water. Make preparations to coat the surface of leaves with cutek then dried. Once dry, addinsulation. In sulation remove and place on top of the object tglass and observed undera microscope with a magnification of 40×10. Then comparethe structure of the leaf stomata are exposed to pollutant gas that is free of pollutants. Results obtained for leaves exposed to pollutant gases are(stomata total= 80, damaged=62), leaves2 (stomata total = 55, damage = 43), leaves3(stomata total = 54, damage = 35).

Key word: ecophysiology, stomata, cellcover(Guard cell), pollutant

 

 


PENDAHULUAN

Kelangsungan hidup suatu spesies pasti bergantung pada beberapa faktor, yaitu faktor abiotik dan biotik. Dan suatu interaksi suatu organisme dengan antar organisme lainnya disebut dengan faktor biotik. Sedangkan interaksi suatu organisme dengan  lingkungannya disebut dengan faktor  abiotik. Faktor lingkungan merupakan salah satu yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan  dan reproduksi dari suatu organisme atau spesies tersebut.

Pencemaran udara atau sering kita dengar dengan istilah polusi udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan atau komposisi udara dari keadaan normalnya (Wardhana,1999).

Pencemaran udara berarti hadirnya satu atau beberapa kontaminan di dalam udara atmosfer di luar, seperti debu, busa, gas, kabut, bau-bauan, asap atau debu dalam kuantitas yang banyak dengan berbagai sifat, hingga dapat meninmbulkan gangguan-gangguan terhadap kehidupan manusia, tumbuhan atau hewan. Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang yang mengelilingi bumi.Komposisi campuran gas tersebut tidak selalu konstan, komponen yang konsentrasinya paling bervariasi adalah air dalam bentuk uap dan karbondioksida.Jumlah uap air yang ada dalam udara bervariasi bergantung dari cuaca dan suhu. Udara merupakan salah satu unsur dari ekosistem yang luas dan merupakan salah satu dari unsur abiotik. Pembebasan suatu kontaminan yang tidak dibatasi baik kuantitas,lama berlangsungnya atau potensialnya dapat mengganggu stabilitas dan kualitas sistem lingkungan. Kehadiran polutan pada dasarnya berasal dari aktifitas manusia, dapat ditunjukkan dengan pemaparan polutan ke dalam udara, dimana terdapat 3 komponen utama yang saling berinteraksi dan menentukan kelanjutannya untuk memenuhi kriteria sebagai pencemaran atau tidak. Ketiga komponen utama tersebut emisi, atmosfer dan reseptor (Kristanto, 2002).

Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting daun biasanya tipis, melebar,kaya akan suatu zat warna hijau yang dinamakan klorofil.Daun memiliki beberapa fungsi antara lain : Pengambilan zat-zat makanan (resorbsi), Pengolahan zat-zat makanan (asimilasi), Penguapan air (transpirasi), Pernafasan (respirasi). Air beserta garam-garam diambil dari tanah oleh akar tumbuhan, sedangkan gas asam arang co2 yang merupakan zat makanan pula bagi tumbuahn diambil dari udara melalui celah-celah yang halus yang disebut mulut daun (stoma)masuk kedalam daun (Gembong, 2005).

Stomata berasal dari bahasa Yunani stomata yang berarti lubang atau porus, jadi stomata adalah lubang-lubang kecil berbentuk lonjong yang dikelilingi oleh dua sel epidermis khusus  yang disebut sel penutup (Guard Cell), dimana sel penutup tersebut adalah sel-sel epidermis yang telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi yang dapat mengatur besarnya lubang-lubang yang ada diantaranya. Stomata pada umumnya terdapat pada bagian-bagian tumbuhan yang berwarna hijau, terutama sekali pada dun-daun tanaman. Pada “submerged aquatic plant” atau tumbuhan yang hidup di bawah air terdapat alat-alat yang strukturnya mirip dengan stomata terdapat pada satu pemukaan saja.Sel tetangga pada stomata adalah sel-sel yang mengelilingi sel penutup (guard cell). Sel-sel tetangga ini terdiri dari dua buah sel atau lebih yang secara khusus melangsungkan fungsi secara berasosiasi dengan sel-sel penutup. Ruang udara dalam (substomatal chamber) merupakan suatu ruang antar sel (intersellular space) yang besar, yang berfungsi ganda bagi fotosintesis dan transpirasi (Kartasaputra, 1998).

Stomata tumbuhan pada umumnya membuka pada saat matahari terbit dan menutup saat hari gelap sehingga memungkinkan masuknya CO2 yang diperlukan untuk fotosintesis pada siang hari.Umumnya, proses pembukaan memerlukan waktu 1 jam dan penutupan berlangsung secara bertahap sepanjang sore.Stomata menutup lebih cepat jika tumbuhan ditempatkan dalam gelap secara tiba-tiba (Salisbury dan Ross, 1995).

Stomata dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya yaitu (a) bagian sel penutup/sel penjaga (guard cell), (b) Bagian yang merupakan sel tetangga, dan (c) ruang udara dalam. Pori stomata berfungsi untuk pertukaran gas antara atmosfer dengan sistem ruang antara sel yang berada pada jaringan mesofil di bawah epidermis yang disebut rongga substomata (Loveless, 1991).

Sel tetangga pada stomata adalah sel-sel yang mengelilingi sel penutup (guard cell).Sel-sel tetangga ini terdiri dari dua buah sel atau lebih yang secara khusus melangsungkan fungsi secara berasosiasi dengan sel-sel penutup.Ruang udara dalam (substomatal chamber) merupakan suatu ruang antar sel (intersellular space) yang besar, yang berfungsi ganda bagi fotosintesis dan transpirasi (Kartasaputra, 1988).

Stomata dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya. Yaitu (a) bagian sel penutup/sel penjaga (guard cell), (b) Bagian yang merupakan sel tetangga, dan (c) ruang udara dalam.

Sel penutup terdiri dari sepasang sel yang kelihatannya semetris, umumnya berbentuk ginjal, pada dinding sel atas dan bawah tampak adanya alat yang berbentuk birai (ledges), kadang-kadang birai tersebut hanya terdapat pada dinding sel bagian atas. Adapun fungsi birai pada dinding sel bagian atas itu adalah sebagai pembatas ruang depan (Front Cavity) diatas porusnya sedangkan pembatas ruang belakang (Basic Cavity) antara porus dengan ruang udara yang terdapat dibawahnya. Keunikan dari sel penjaga adalah serat halus sellulosa (cellulose microfibril) pada dinding selnya tersusun melingkari sel penjaga, pola susunan ini dikenal sebagai miselasi Radial (Radial Micellation). Karena serat sellulosa ini relatif tidak elastis, maka jika sel penjaga menyerap air mengakibatkan sel ini tidak dapat membesar diameternya melainkan memanjang. Akibat melekatnya sel penjaga satu sama lain pada kedua ujungnya memanjang akibat menyerap air maka keduanya akan melengkung ke arah luar. Kejadian ini yang menyebabkan celah stomata membuka (Kertasaputra, 1988).

Secara morfologi, menurut Melcafle &Chalk (1950), ada lima tipe stomata pada dikotil yaitu :

-    Tipe Anomositik (Irregular called) sel penutup bentuk ginjal jumlah sel tetangga tidak tertentu. Terdapat pada tumbuhan Ranunculaceae, Helleborus dan Sambucus .

-    Tipe Diasitik (Cross called) : sel penutup bentuk ginjal, jumlah sel tetangga dua buah dengan dinding sel/pemisah yang tegak lurus dengan poros panjang stomata. Terdapat pada famili Laciaccae.

-    Tipe Parasitik (Parallel called): sel penutup bentuk ginjal, jumlah sel tetangga dua buah dengan dinding pemisah searah dengan poros panjang stomata. Terdapat pada Rubiaceae

-    Tipe Anisositik (Unaquet called): sel penutup bentuk ginjal, jumlah sel tetangga tiga buah, salah satu sel tetangga berukuran lebih besar. Terdapat pada famili Solanaceae.

-    Tipe Aktinostik (Radiate called): sel penutup bentuk ginjal, jumlah sel tetangga tidak tertentu yang tersusun radier. Terdapat pada Proteaceae (Mulyani, 2006)

METODOLOGI

Dalam praktikum ekofisiologi tumbuhan tentang pokok bahasan hubungan pencemaran udara dan pertumbuhan menggunakan beberapa sampel daun dari lokasi yang berbeda.Diantaranya adalah daun Pterocarpus indicusyang berasal dari lokasi tercemar gas polutan dan daun yang kurang tercemar gas polutan.Pengambilan daun yang terkena gas polutan dilakukan di lokasi jalan Bubutan, Surabaya.Untuk pengambilan yang tidak tercemar gas polutan dilakukan pengambilan sampel di lokasi hutan kampus ITS. Pengambilan tersebut dilakukan pada pukul 10.00 A.M, hal tersebut dikarenakan agar mekanisme stomata daun dapat terlihat dengan jelas.Setelah daun di ambil kemudian dibersihkan dengan tisu atau kapas yang telah dibasahiair.Sampel daun tersebut dibuat preparat dengan cara permukaan daun diolesi kuteks transparan kemudian diberi selotip. Ditunggu beberapa saat, selotip ditarik dari permukaan daun dan ditempelkan pada kaca obyek.Lalu diiamati dibawah mikroskop lalu dibandingkan struktur stomata antara daun Pterocarpus indicus yang terkena gas polutan dan yang tidak terkena gas polutan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil terlampir

Pada praktikum hubungan pencemaran atmosfer dan pertumbuhan, perlakuan pertama yang dilakukan yaitu daun Pterocarpus indicus (sono) yang tempat pengambilan di tempat terkena gas polutan dan tidak terkena gas polutan di bersihan dengan kapas yang sudah dibasahi dengan air untuk membersihkan daun dari kotoran/debu yang dapat mengganggu hasil pengamatan. Setelah itu permukaan daun diolesi kuteks transparan dan diangin-anginkan supaya kuten kering kemudian diberi selotip, pemberian kutek diharapkan tidak terlalu tebal dikarenakan dapat mengganggu pengamatan di mikroskop.Pembuatan preparat dengan kutek dikarenakan agar lekukan dan pori-pori stomata dapat terlihat dan menempel pada selotip dengan bantuan kutek.Ditunggu beberapa saat, selotip ditarik dari permukaan daun dan ditempelkan pada kaca obyek.Pengambilan stomata dilakukan pada bagian bawah daun dikarenakan jumlah stomata paling banyak terdapat pada permukaan daun bagian bawah.Lalu diamati dibawah mikroskop dan hitung prosentase kerusakan stomata. Rumus perhitungan prosentase stomata :

Jumlah stomata yang rusak

Jumlah stomata yang rusak

                                                                              x 100%

Jumlah total stomata yang diamati

Jumlah total stomata yang diamati

Hasil dari prosentase kerusakan stomata tersebut dibandingkan dengan stomata daun yang tidak terkena gas polutan

Pengambilan tersebut dilakukan pada pukul 10.00 A.M, hal tersebut dikarenakan agar mekanisme stomata daun dapat terlihat dengan jelas membuka seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini. Lubang stomata terbuka dan  dan antara ujung sel penutup tidak terbentuk celah.

Gambar jam biologis stomata

            Jam biologis menunjukan mekanisme dari membuka dan menutupnya stomata. Stomata membuka ketika sel-sel penjaga secara aktif mengakumulasi ion kalium dari sel-sel epidermal disekitarnya.Pengambilan zat terlarut ini menyebabkan potensial air didalam sel penjaga menjadi lebih negative.Kondisi ini memungkinkan air mengalir kedalam sel secara osmosis sehingga sel menjadi membengkak.Sel penjaga semakin membengkak dan semakin dalam keadaan turgid yang menyebabkan ukuran antara celah sel semakin lebar.

Stomata membuka karena sel penjaga mengambil air dan menggembung dimana sel penjaga yang menggembung akan mendorong dinding bagian dalam stomata hingga merapat.

Stomata bekerja dengan caranya sendiri karena sifat khusus yang terletak pada anatomi submikroskopik dinding selnya.Sel penjaga dapat bertambah panjang, terutama dinding luarnya, hingga mengembang ke arah luar. Kemudian, dinding sebelah dalam akan tertarik oleh mikrofibril tersebut yang mengakibatkan stomata membuka.

Tidak semua stomata pada spesies sangat peka terhadap kelembaban atmosfer.Stomata menutup bila selisih kandungan uap air di udara dan di ruang antar sel melebihi titik kritik.Hal itu mungkin disebabkan gradien uap yang tajam mendorong penutupan stomata, respon paling cepat terhadap kelembaban yang rendah terjadi pada saat tingkat cahaya rendah.Suhu tinggi (30 – 350C) biasanya menyebabkan stomata menutup. Mungkin hal ini sebagai respon tak langsung tumbuhan terhadap keadaan rawan air, atau mungkin karena laju respirasi naik sehingga CO2 dalam daun juga naik

Penutupan stomata terjadi setelah tumbuhan mengakumulasi ABA (Asam Absisat). Pada daun asam absisat dapat berada pada tiga bagian sel yang berbeda, yaitu :

1. Pada sitosol, dimana ABA disintesis

2. Pada kloroplast, dimana ABA diakumulasikan

3. Pada dinding sel, yang dapat merangsang penutupan stomata. ABA pada dinding sel berasal dari sel-sel mesophyl daun dimana ABA disintesis. Jika asam absisat di aplikasikan pada daun tumbuhan pada konsentrasi yang sangat rendah maka akan menyebabkan stomata menutup.

Bila zat pengatur tumbuh asam absisat diberikan pada konsentrasi rendah, stomata akan menutup. Selanjutnya bila daun mengalami rawan air, ABA dijaringannya akan meningkat. Bila daun mongering secara normal perlahan-lahan ABA meningkat sebelum akhirnya stomata tertutup, diduga penutupan stomata ini karena responnya terhadap rawan air melalui peranan ABA.

Pencemaran logam berat pada tanaman melalui penyerapan akar dari tanah atau melalui stomata daun dari udara.Hal ini dikarenakan di dalam tanah hanya sebagian kecil logam berat yang terlarut dalam air. Penyerapan pada daun terjadi karena partikel Pb atau timah hitam di udara masuk ke dalam daun melalui proses penyerapan pasif. Masuknya partikel timah hitam ke dalam jaringan daun sangat dipengaruhi oleh ukuran dan jumlah dari stomata.Semakin besar ukuran dan semakin banyak jumlah stomatanya maka semakin besar pula penyerapan timah hitam pada daun.Hal ini menyebabkan adanya perbedaan kandungan Pb pada jenis tanaman di tempat yang berbeda seperti perbedaan kandungan Pb pada tanaman sono (Pterocarpus indicus)di daerah Wonokromo. Menurut Antari (2009), meskipun mekanisme masuknya timah hitam ke dalam jaringan daun berlangsung secara pasif, kemungkinan akumulasi timah hitam di dalam jaringan daun akan lebih besar. Timah hitam ini akan terakumulasi di dalam jaringan palisade.

Dalam waktu 24 jam sehari stomata memiliki sendiri waktu membuka dan menutup (jam biologis). Dikaitkan dengan praktikum ini, pengambilan sampel daun dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB. Berdasarkan siklus membuka dan menutupnya stomata pada pukul 10.00 adalah saat stomata memiliki bukaan terbesar. Sedangkan keadaan di sekitar lokasi pengambilan sampel merupakan aktivitas manusia, kemacetan lalu lintas (banyaknya polusi yang berasal dari bahan bakar kendaraan bermotor dan kereta api).  Dalam pengamatan yang dilakukan dapat terlihat adanya struktur stomata abnormal pada sampel daun Pterocarpus indicus. Ini menunjukkan bahwa polutan yang ada di sekitar Wonokromo memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman, kerusakan pada struktur stomata. Yang dimaksud dengan abnormal disini adalah celah stomata menutup di saat seharusnya celah tersebut membuka maksimal seperti yang ditunjukkan pada siklus membuka dan menutup stomata di atas.

Pada praktikum ini juga dilakukan perhitungan presentase kerusakan struktur stomata. Dari perhitungna yang dilakukan didapatkan bahwa rata-rata 13,59% dari keseluruhan bidang pandang mikroskop menunjukkan adanya stomata yang abnormal.

(A)

(B)

(C)

Gambar. Stomata abnormal pada (A)sampel daun 1, (B) sampel daun 2, (C) sampel daun 3

Faktor-faktor yang menyebabkan membuka dan menutupnya stomata adalah:

  1. Karbondioksida (CO2)

Pembentukan stomata berkurang jika kadar CO2 diruang antar sel bertambah. Jika hasil fotosintesis bersih berkurang kadar CO2 diruang antar sel akan meningkat dan tahanan stomata akan meningkat. Sebaliknya jika fotosintesis bersih meningkat, ruang antar sel akan menyebabkan terbukanya ruang antar sel sehingga stomata terbuka.

  1. Cahaya

Pengurangan cahaya menyebabkan pembukaan celah stomata berkurang pada kebanyakan tumbuhan.Hal ini tidak tergantung pada tanggapan stomata terhadap kenaikan CO2 diruang antar sel akibat penurunan laju fotosintesis.

  1. Suhu

Stomata akan membuka lebih besar apabila suhu naik.

  1. Potensial air daun

Pembukaan celah stomata biasanya berkurang jika potensial air daun menurun. Perubahan pembukaan air biasanya disebabkan oleh kenaikan kadar absisat yang dihasilkan dalam mesofil dengan laju yang tinggi atau oleh keduanya pada potensial daun berkurang.

  1. Kelembaban

Beberapa jenis tumbuhan menunjukkan tanggapan stomata secara langsung terhadap kelembapan, sehingga kenaikan kelembaban relative menyebabkan celah stomata mengecil

  1. Angin

Pada banyak tanaman menaikkan kecepatan angin yang besar dapat menyebabkan stomata mengecil

  1. Laju fotosintesis

Peranan laju fotosintesis akan mengurangi pembukaan stomata dan dengan demikian menahan air melalui pengurangan respirasi.

(Pandey dan Sinha, 1983).

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari pengamatan stomata pada praktikum ini adalah bahwa kadar atau tingkat polusi udara suatau lingkungan akan mempengaruhi struktur dan fungsi stomata. Stomata pada tumbuhan yang berada di daerah dengan kadar polusi yang lebih besar akan mempunyai tingkat kerusakan stomata yang lebih banyak. Kerusakan stomata dapat berupa menyempitnya celah stomata, warnanya yang menghitam karena pencemaran logam dan penutupan somata yang tidak berdasarkan jam biologisnya, sehingga stomata tidak dapat menjalankan fungsi normalnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.