Coral Life Form Pantai Bama

Coral Life Form Pantai Bama

Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur

Ahmad Yanuar (1509100050); Talitha Rahma N (1509100051); Ida Wilujeng (1509100055); Rizal Koen (1509100069); Mutiara Arum (1509100039); Alfin Mustafida (1508100004)

Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

2011

ABSTRAK

Studi pengukuran penutupan terumbu karang dilakukan di pantai Bama TN Baluran, Situbondo menggunakan metode LIT (Line Intercept Transek) dengan jarak transek 100 meter. Studi ini dilakukan dengan membandingkan antara kedua transek pada lokasi yang berada didepan pantai dan didepan vegetasi hutan mangrove. Faktor fisik yang mempengaruhinya adalah Suhu, Salinitas, Cahaya, Sedimen, dan Gelombang. Untuk faktor biologi berupa persaingan memperoleh ruang antara Karang batu dan karang lunak ataupun karang batu dan bulu babi. Parameter lingkungan di peroleh salinitas 30ppt dan Suhu 30C. Dari hasil pengamatan pada transek satu didapatkan presentase penutupan karang hidup sebesar 26,23% dengan kriteria “Rusak sedang” dengan didominasi oleh Coral Massive (CM) sebesar 14,44%, pada transek dua didapatkan presentase penutupan karang hidup sebesar 31,80% dengan kriteria “Rusak Sedang” dengan karang yang mendominasi adalah Coral Massive dengan nilai presentase penutupan sebesar 10,73%.

Kata kunci : Terumbu Karang, Coral Lifeform

ABSTRACT

Studies of coral reef closure measurements carried out at the Beach Center TN Baluran, Situbondo with LIT (line intercept transect) with a distance of 100 m transects. Through the comparison between the two transects in the places that were on beach and in front of the vegetation of mangrove forests. The physical factors affecting temperature, salinity, light, sediments, and the waves. Biological in the form of competition factor to get the space between the rock and soft coral and coral reefs and sea urchins. Environmental parameters obtained salinity 30ppt and temperature of 30 C.  From observations in the transects a percentage of coverage of coral live retrieved by 26,23% of the criteria of “harm” the domination of the massive Coral (CM) 14,44%, in the two transects the percentage of coverage of coral live obtained by 31.80% criteria “moderate damage”, with coral reefs are dominated is massive, with a value of percentage of closing 10.73%.

Key words: Coral reefs, Coral Lifeform

PENDAHULUAN

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem khas perairan pesisir tropik, yang memiliki peranan yang sangat penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, terumbu karang menjadi tempat tinggal, berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan dan tumbuhan yang hidup di laut. Diperkirakan lebih dari 3.000 spesies biota laut dapat dijumpai pada ekosistem terum karang. Terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistim pantai lain seperti padang lamun dan magrove. Secara ekonomis, terumbu karang merupakan sumber perikanan yang tinggi. Dari 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di Indonesia, 32 jenis diantaranya hidup di terumbu karang, berbagai jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat menghasilkan 3 – 10 ton ikan per kilometer persegi pertahun. Keindahan terumbu karang sekaligus menjadi sumber devisa bagi negara dalam sektor wisata bahari (Timotius, 2003).

Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan dan industrialisasi, kondisi terumbu karang dalam kondisi yang memprihatikan. Aktivitas reklamasi pantai, penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun potasium sianida, pembangunan pelabuhan, serta pengambilan batu-batu karang sebagai bahan kontruksi telah mengakibatkan kerusakan yang parah pada ekosistem terumbu karang. Saat ini, Indonesia yang memiliki luasan areal terumbu karang 85.707 km2, hanya 6,20 % yang masih dalam kategori sangat baik, 23,72 % kategori baik, 28,30 % kategori sedang dan 41,78 % dalam kategori buruk atau rusak (Suharsono, 1996)

Terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat di laut yang dihasilkan terutama oleh hewan karang. Terumbu karang terutama disusun oleh karang-karang jenis anthozoa dari klas Scleractinia (Nybakken, 1992). Struktur bangunan batuan kapur (CaCO3) tersebut cukup kuat, sehingga koloni karang mampu menahan gaya gelombang air laut. Asosiasi organisme-organisme yang dominan hidup disini disamping scleractinian coral adalah alga yang juga mengandung kapur (Dawes,1981).

Polip karang merupakan hewan sederhana berbentuk tabung dengan bagian-bagian tubuh sebagai berikut:

a. Mulut terletak di bagian atas, dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan (Suharsono 1996; Timotius 2003) dan sebagai alat pertahanan diri (Timotius, 2003).

b. Tenggorokan pendek, rongga tubuh (coelenteron) merupakan saluran pencernaan.

c. Tubuh terdiri atas dua lapisan, ektoderm dan endoderm (gastrodermis), diantara keduanya dibatasi oleh lapisan mesoglea (Timotius, 2003). Lapisan ektoderm mengandung nematokista (nematocyst) dan sel mukus, sedangkan lapisan endodermisnya mengandung simbion zooxanthellae (Suharsono, 1996).

d. Sistem saraf, otot, dan reproduksi masih sederhana namun telah berkembang dan berfungsi dengan baik (Suharsono, 2004).

Karang dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan kebutuhannya akan cahaya matahari. Karang hermatipik (hermatypic coral) adalah kelompok karang yang tumbuh terbatas di daerah hangat dengan penyinaran yang cukup karena adanya simbion alga (zooxanthellae) (Suharsono, 2004), karang tipe ini merupakan pembentuk bangunan kapur atau terumbu karang (Supriharyono, 2000). Kelompok karang kedua adalah karang ahermatipik (ahermatypic coral) yang tidak membentuk terumbu karang (Supriharyono, 2000). Karang ahermatipik hidup di tempat yang lebih dalam. Karang hermatipik lebih cepat tumbuh dan lebih cepat membentuk deposit kapur dibanding karang ahermatipik (Suharsono, 2004).

Akresi adalah pertumbuhan koloni dan terumbu ke arah vertikal maupun horisontal. Karang melalui reproduksi aseksualnya menghasilkan karang-karang baru yang berhubungan satu dengan lainnya. Karang-karang tersebut membentuk koloni, yang kemudian tumbuh menjadi bentuk yang khas. Ragam bentuk pertumbuhan koloni tersebut meliputi:

a. Bercabang

Koloni ini tumbuh ke arah vertikal maupun horisontal, dengan arah vertikal lebih dominan. Percabangan dapat memanjang atau melebar, sementara bentuk cabang dapat halus atau tebal. Karang bercabang memiliki tingkat pertumbuhan yang paling cepat, yaitu bisa mencapai 20 cm/tahun. Bentuk koloni seperti ini, banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian atas lereng, terutama yang terlindungi atau setengah terbuka.

b. Padat

Pertumbuhan koloni lebih dominan ke arah horisontal daripada vertikal. Karang ini memiliki permukaan yang halus dan padat; bentuk yang bervariasi, seperti setengah bola, bongkahan batu, dan lainnya; dengan ukuran yang juga beragam. Dengan pertumbuhan < 1 cm/tahun, koloni tergolong paling lambat tumbuh. Meski demikian, di alam banyak dijumpai karang ini dengan ukuran yang sangat besar. Umumnya ditemukan di sepanjang tepi terumbu karang dan bagian atas lereng terumbu.

c. Lembaran

Pertumbuhan koloni terutama ke arah horisontal, dengan bentuk lembaran yang pipih. Umumnya terdapat di lereng terumbu dan daerah terlindung. Dijumpai di perairan

d. Seperti meja

bentuk bercabang dengan arah mendatar dan rata seperti meja. Karang ini ditopang dengan batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar (Timotius, 2003).

Menurut Randall (1987), berdasarkan proses pembentukannya, terumbu karang dibagi dalam 3 (tiga) jenis yaitu :

1. Terumbu karang cincin (Atol), biasanya terdapat di pulau-pulau kecil yang terpisah jauh dari daratan. Pembentukan karang tipe ini memerlukan waktu beratus-ratus tahun. Contoh terumbu karang cincin dapat ditemui di Takabonerate, Sulawesi Selatan.

2. Terumbu karang penghalang (Barrier reefs), Terumbu karang penghalang yang terbesar terdapat di Australia yang dikenal dengan The Great Barrier Reef.

3. Terumbu karang tepi (Fringing reefs) merupakan jenis yang paling banyak ditemukan di perairan Indonesia. Terumbu karang ini berada di pesisir pantai yang jaraknya mencapai 100 meter ke arah laut.

Transplantasi karang di msa mendatang akan memiliki banyak kegunaan, diantaranya untuk melapisi bangunan-bangunan bawah laut agar lebih kokoh, untuk menambahkan jumlah spesies karang yang langka atau terancam punah serta untuk mengganti kebutuhan pengambilan karang hidup untuk akuarium (Sadarun, 1999).

Di Taman Laut Great Barrier Reef, misalnya, pencangkokan karang dilakukan untuk mempercepat regenerasi ekosistem terumbu karang yang rusak akibat serangan Acanthaster plancii atau bulu babi. Di Teluk Kanehoe, Hawaii, transplantasi karang digunakan untuk menghadirkan kembali dua jenis ekosistem terumbu karang yang telah mati akibat limbah cair (Plucer-Rosario dan Randall, 1987).

Pertumbuhan hewan karang hermatipik terbatas pada kondisi cahaya yang cukup untuk proses fotosintesis zooxanthella, juga ditunjang dengan kondisi fisik antara lain arus, kedalaman, kekeruhan dan sedimentasi, serta aspek ekologis lain seperti siklus hari, suhu, konsentrasi plankton, predator, serta kompetisi dengan beberapa organism lainnya termasuk jenis hewan karang lainnya. Hewan karang dapat bertahan hidup pada kisaran suhu antara 18-360C dengan suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 26-280C. Perubahan suhu yang ekstrim akan menyebabkan kerusakan seperti terhambatnya reproduksi bahkan bias terjadi bleaching. Sedangkan kisaran salinitas untuk kehidupan hewan karang berkisar antara 33-36%o. Dalam kondisi di bawah kisaran tersebut maka pemanfaatan karbonat di air akan didominasi oleh kelompok alga kapur Dari aspek fisik, kerusakan terjadi karena beberapa hal, seperti adanya gelombang besar yang memporak-porandakan terumbu karang. Sedangkan penyebab kematiannya secara kimiawi adalah adanya polutan dari aktivitas manusia di daratan yang menyebabkan eutofikasi, sedimentasi, polusi serta masuknya air tawar yang berlebihan dari darat karena terjadi erosi melalui proses run-off (Purnomo dan Mohammad, 2008).

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Pengamatan dilakukan pada pantai Bama Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur pada tanggal 30 April 2011 Tansek satu di koordinat 7°50’44.50″ Lintang Selatan, dan 114°27’45.28” Bujur Timur dengan kedalaman rata-rata 1 meter, dan transek dua di koordinat 7°50’46.67″ Lintang Selatan, dan 114°27’39.99” Bujur Timur dengan kedalaman rata-rata 1 meter.

Peralatan

Peralatan yang digunakan yaitu snorkel, fin, masker, kertas newtop dan alat tulis.

Cara Kerja

a. Parameter Lingkungan

Sebelum dilakukan pengamatan dilakukan terlebih dahulu pengukuran parameter lingkungan yang mengukur salinitas menggunakan hand salino-refractometer yang memiliki tingkat ketelitian hingga 1%. Dan pengukuran suhu dengan menggunakan termometer merkuri yang memiliki tingkat ketelitian hingga 1C dan menentukan lokasi yang representatif sebagai tempat survey.

b. LIT

Dengan membuat transek sepanjang 100 meter sejajar dengan garis pantai. Pengamatan berenang (dengan peralatan skin diving) dari titik nol hingga titik 20 meter mengikuti garis transek yang telah dibuat dengan metode Line Intercept Transeck (LIT) dengan dua lokasi yang dibagi 100 meter pada bagian depan pantai dengan transek 0-100 meter dan 100 meter pada depan vegetasi mangrove.

Pengamat terdiri atas minimal dua orang, satu orang bertugas untuk membuat transek sedangkan yang lainnya bertugas untuk mencatat kategori life form karang yang dijumpai. Pengamat harus menguasai dan mengenal tipe-tipe bentuk terumbu karang, baik karang hidup maupun biota lainnya. Kemudian pengamat berenang (dengan peralatan skin diving) dari titik nol hingga titik 200 meter yang di bagi dua wilayah dan mengikuti garis transek yang telah dibuat.

Metode yang dilakukan menggunakan metode LIT (Line intercept Transek) dengan jarak sepanjang 100 meter untuk masing-masing transek, lokasi yang dilihat kerapatan karangnya terdapat dua transek.

Garis transek dimulai dari kedalaman dimana masih ditemukan terumbu karang batu (± 25 m) sampai di daerah pantai mengikuti pola kedalaman garis kontur. Umumnya dilakukan pada tiga kedalaman yaitu 3m, 5m dan 10m, tergantung keberadaan karang pada lokasi di masing-masing kedalaman. Panjang transek digunakan 30 m atau 50 m yang penempatannya sejajar dengan garis pantai pulau. Pengukuran dilakukan dengan tingkat ketelitian mendekati centimeter. Dalam penelitian ini satu koloni dianggap satu individu. Jika satu koloni dari jenis yang sama dipisahkan oleh satu atau beberapa bagian yang mati maka tiap bagian yang hidup dianggap sebagai satu individu tersendiri. Jika dua koloni atau lebih tumbuh di atas koloni yang lain, maka masing-masing koloni tetap dihitung sebagai koloni yang terpisah. Panjang tumpang tindih koloni dicatat yang nantinya akan digunakan untuk menganalisa kelimpahan jenis. Kondisi dasar dan kehadiran karang lunak, karang mati lepas atau masif dan biota lain yang ditemukan di lokasi juga dicatat. (English et al, 1994).

Analisa Data

Pencatatan dilakukan semua life form karang pada area yang dilalui oleh garis transek. Setiap life form harus dicatat lebarnya (hingga skala centimeter). Kategori life form mengacu pada AIMS (English et al., 1994). Bila memungkinkan, pengamat juga dapat mengidentifikai jenis karang yang diamati minimal hingga taksa genus.

Analisa data untuk presentase tutupan karang masing-masing life form karang dapat dicari dengan rumus :

Angka Prosentase tutupan karang =

Panjang Total Setiap Kategori x 100%

Panjang Total Transek

Presentase kriterian tutupan karang didasarkan pada presentase tutupan karang hidup yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang Berdasarkan Persentase Tutupan Karang Hidup

PEMBAHASAN

Pada pengamatan yang dilakukan menggunakan metode LIT. Menurut Johan, 2003, Studi pengamatan karang ini menggunakan Metode LIT (Line Intercept Transect) karena dengan melihat tutupan terumbu karang pada lokasi pengamatan. Yang di catat adalah penutupan life form terumbu karang yang dilewati oleh garis transek yang nantinya akan dilihat penutupan karang hidup, kerusakan atau karang matinya. Pemilihan penggunaan metode ini dikarenakan akurasi data sangat akurat, perolehan data juga jauh lebih baik dan banyak, penyajian struktur komunitas seperti persentase tutupan karang hidup/karang mati, kekayaan jenis, dominasi, frekuensi kehadiran, ukuran koloni dan keanekaragaman jenis dapat disajikan secara lebih menyeluruh, struktur komunitas biota yang berasosiasi dengan terumbu karang juga dapat disajikan dengan baik, tidak banyak memerlukan alat, dan tidak memakan banyak biaya.

Pemilihan transek untuk pengamatan seharusnya harus mengetahui kondisi lapangan yang akan di buat transek terlebih dahulu agar mewakili data dan representatif karena di metode ini hanya mencatat lebar karang yang dilewati oleh garis transek (meteran).

Parameter lingkungan yang diambil pada pengamatan terumbu karang kali ini berupa salinitas sebesar 30‰, dan suhu yang didapatkan sebesar 30C dengan kedalaman 1 meter. Adapun faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan karang antara lain :

Parameter Lingkungan Pengukuran

Lapangan Batas Optimum

Min Max

Suhu C

Salinitas ‰ 30

30‰ 160-170

17,5‰ 360-400

52,2‰

1. Suhu

Dari hasil pengukuran suhu yang didapatkan dilapangan didapatkan suhu 30C, Suhu tersebut merupakan suhu optimun bagi pertumbuhan karang. Karang merupakan organisme yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh suhu rata-rata air laut. Menurut Kinsman 1964 dalam Supriharyono (2000) suhu yang sesuai untuk pertumbuhan dan hidup karang berkisar antara 250 – 290 C. Sedangkan batas minimum dan maksimum suhu berkisar antara 160 – 170 dan 360 C Suhu yang mematikan bagi karang bukan hanya suhu yang ekstrem, namun fluktuasi suhu yang mendadak juga sangat berpengaruh namun beberapa karang masih mampu hidup sampai batas suhu 360 – 400. Jadi parameter fisik yang terdapat pada pengukuran yang dilakukan dilokasi masi dalam batas optimum untuk pertumbuhan karang.

2. Salinitas

Dari hasil pengukuran fisik yang dilakukan dilapangan didapatkan salinitas sebesar 30‰. Menurut Supriharyono (2000) Salinitas air laut di daerah tropis rata-rata ± 35‰, sedangkan karang tumbuh dengan baik pada salinitas ± 34‰ – 36‰ Pengaruh salinitas terhadap karang bervariasi tergantung pada kondisi perairan laut setempat dan/atau pengaruh alam seperti runoff air tawar, badai, dan hujan sehingga kisaran salinitas dapat mencapai 17,5‰ – 52,2‰. Hasil pengukuran lingkungan yang terdapat pada lokasi pengamatan tersebut masi dalam batas optimum karang itu tumbuh, dan salinitas tersebut juga termasuk pada batas salinitas optimum yang memungkinkan karang tumbuh dengan baik.

3. Cahaya

Menurut Nybakken (1997) Tanpa pencahayaan yang cukup, rata-rata fotosintesis akan menurun, dan hal ini juga akan mengurangi kemampuan karang untuk mensekresikan kalsium karbonat dan membentuk terumbu. Umumnya karang (terutama karang hermatipik) tidak tumbuh pada kedalaman 50 – 70 meter, dan lebih mudah dijumpai pada kedalaman 25 m atau kurang, terkait dengan ketersediaan cahaya. Pengamatan terumbu karang yang dilakukan terletak pada kedalaman sekitar 1 meter yang mendukung tumbuhnya terumbu karang dikarenakan cahaya yang masuk ke dasar air cukup cerah untuk pertumbuhan karang.

4. Sedimentasi

Kekeruhan dan sedimentasi yang terbawa arus menyebabkan berkurangnya penetrasi cahaya dan penutupan oleh sedimen pada permukaan koloni karang. Akibat sedimentasi ini dapat menghambat laju pertumbuhan, menghalangi rekrutmen, mengurangi tutupan karang, kelimpahan koloni, dan keragaman jenis karang batu. Menurut Hubbard dan Pocok 1972; Bak dan Elgershuizen 1976; Bak 1978 dalam Supriharyono (2000), keberadaan sedimen tersebut menyebabkan perairan di sekitar terumbu karang menjadi keruh, terutama setelah terjadi hujan atau badai, dan hal ini dapat mempengaruhi kehidupan karang. Level sedimen yang tinggi dapat langsung membunuh karang dengan cara menutupi mulut karang dan organ penangkap mangsanya.

Kondisi tutupan karang hidup pantai Bama Taman Nasional Baluran Situbondo Jawa Timur transek 1 dengan ditemukannya nilai Percent Life Coral Life Form yang hanya 26,23% dan diperoleh kriteria kerusakannya tergolong ke dalam Rusak sedang. Dari data yang diperoleh nilai persentase penutupan yang terbanyak adalah Ruble (R) dengan nilai 43,96% dan Pasir (S) sebesar 17,37%. Karang hidup yang mendominasi adalah Coral Massive (CM) dengan nilai sebesar 14,44%.

Pada transek 2 didapatkan penutupan karang hidup dengan nilai Percent Life Coral Life Form sebesar 31,80% yang di peroleh kriteria kerusakan tergolong ke dalam Rusak Sedang. Karang hidup yang mendominasi adalah Coral Massive dengan nilai presentase penutupan sebesar 10,73%. Nilai penutupan yang terbesar adalah Ruble dengan nilai 47,56% dan Deat Coral dengan nilai 13,85%. Hasil rata-rata presentase perbandingan tutupan terumbu karang pada transek satu dan dua dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

Untuk presentase kriteria baku kerusakan terumbu karang pada transek 1 dan transek 2 tersebut termasuk pada kriteria Rusak Sedang.

Dari data yang di peroleh tersebut transek 2 terdapat selisih yang tidak jauh beda dan lebih besar nilai Presentase penutupan karang hidupnya dengan nilai 31,80% dari pada transek 1 dengan kerapatan sebesar 26,23%. Ada beberapa kemungkinan kedua kriteria yang di dapatkan sama-sama sedang dikarenakan kedua substrat tanah memiliki kesamaan yaitu berpasir, untuk perbedaan yang sedikit pada penutupan karang dikarenakan lokasi karang tersebut yang berbeda, pada transek 1 berhadapan langsung dengan pantai berpasir yang tingkat kekeruhan akibar erosi pasir yang terbawa ombak sangat tinggi dibandingkan pada transek 2 yang lokasinya berada pada daerah depan vegetasi mangrove yang menyebabkan biota laut dan plankton begitu beragam untuk menunjang hidup zooxanthelae tersebut. Pasir tersebut terbawa oleh ombak yang membawa substrat pasir pada daerah pantai dan menyebabkan air keruh dan terjadi endapan pada karang akhirnya menghalangi zooxanthelae untuk mengambil plangton ataupun menghalangi cahaya masuk untuk fotosintesis zooxanthelae.

Pada kedua transek tersebut karang yang mendominasi adalah Coral Massive dengan didapatkan presentase penutupan pada transek satu sebesar 14,44% dan pada transek dua sebesar 10,73%, hal ini disebabkan karena pada rataan terumbu dangkal (reef front) yang mendapat pengaruh aksi gelombang dan resuspensi sedimen yang aktif umumnya karang tersebut memiliki bentuk massive seperti karang batu Diploastrea, Galaxea, Porites. Bentuk ecomorph seperti massive memberikan keuntungan bagi karang untuk membersihkan diri dari akumulasi sedimen dengan bantuan pergerakan arus. Reigl et al. (1996) menjelaskan bahwa bentuk karang umumnya merupakan refleksi dari kondisi lingkungan, morfologi karang yang terbentuk merupakan adaptasi terhadap kondisi lokal. Umumnya karang di perairan keruh membangun bentuk seperti punggung bukit daripada bentuk pertumbuhan yang datar. Sementara itu pada area dimana sedimentasi tergolong sedang dengan arus yang kuat morfologi karang cenderung berbentuk meja (tabulate) seperti karang Acropora hyacinthus, lembaran (foliose) atau cup-shape seperti Turbinaria. Berbeda halnya dengan karang Tubastrea dengan morfolologi seperti ranting tegak bercabang yang dominan pada tubir yang teduh (reef slope) pada kedalaman 4 – 7 m. Pertumbuhannya yang vertikal merupakan refleksi terhadap terbatasnya cahaya.

Untuk karang tipe massive menurut Nybakken (1997), karang tipe massive dapat memindahkan sejumlah kecil sedimen dengan memperangkap sedimen tersebut dalam mukus dan membuangnya melalui aksi cilliaris oleh tentakelnya.

Dan hal penting lainnya yang diperlukan terumbu karang adalah ada tidaknya aksi gelombang di tempat tersebut. Dalam lingkungan yang kurang aksi gelombang, lumpur akan terakumulasi dan membunuh karang. Dengan demikian, lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan karang adalah berada di atau sedikit di bawah permukaan laut, perairan dangkal, oligotrofik.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan didapatkan nilai persentase karang hidup pada transek satu tergolong “Rusak Sedang” dan presentasenya sebesar (26,23%) dimana yang mendominasi adalah Coral Massive dengan penutupan sebesar (14,44%). Sedangkan pada transek 2 presentase karang hidupnya tergolong “Rusak Sedang” dengan presentase penutupan sebesar (31,80%) yang lebih tinggi dari transek satu, dan didominasi oleh Coral Massive dengan presentase penutupan (10,73%).

Iklan

Posted on Juli 27, 2011, in Laporan Praktikum. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. weee kok apik laporanmu lek? ono pdf-e a?
    suwun

  2. mas, daftar pustaka e ndi? ben kenek digawe referensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: