Oleh-oleh Pengamatan Burung Di ITS Surabaya

Kisah ini berawal dari pengamatan yang dilakukan di lokasi komplek Kampus ITS Surabaya bersama teman-teman Pecuk saya tercinta, dengan tujuan untuk mengambil data burung yang ada di wilayah Kampus ITS Surabaya. Berangkat dengan hanya bermodalkan secarik kertas, bulpoint, binokuler, kamera pinjaman, air minum dan tidak lupa sebungkus rokok inter yang selalu melekat di saku kanan celana.
Memang agak aneh jika dipikir lagi menghabiskan waktu seharian di bawah teriknya matahari dikota Surabaya hanya untuk mengamati burung(aves). Mungkin orang akan mempunyai firasat “orang itu gila setiap detik melihat keatas, padahal tidak ada apa-apa” atau “cuman mau lihat burung aja pake susah-susah, ke pasar burung aja banyak”. Tidak hanya firasat saja, bahkan pernah menemui beberapa orang yang pernah berkata seperti itu. Boleh saja setiap orang mengutarakan pendapat, berkata, atau mengkritik seseorang, toh Indonesia juga negara demokratis atau demokrasi ya yang bebas beraspirasi itu?. Saya menerima kritikan seperti itu karena orang memiliki pemikiran dan dunianya sendiri.Dan saya berfikir bahwa saya memiliki dunia saya sendiri “ini loh dunia saya” sedikit keras kepala memang tetapi dalam pikiran saya hal sepele atau terlihat tidak berguna seperti ini juga bisa berpengaruh terhadap dunia di masa depan “amin”.

Pengamatan burung “aves” ini tidak  hanya dilakukan dalam jangka waktu sehari. Memang melelahkan setelah berhari-hari hanya melakukan kegiatan seperti itu, tetapi terdapat suatu tujuan tertentu juga sih kenapa saya melakukan hal tersebut. Walaupun tujuan itu hanya menjadi salah satu uang saku saya untuk melakukan kegiatan tersebut, dan tidak ada tujuan yang menjadi motivasi saya penuh untuk mendorong saya. Ini sudah menjadi bagian Hobi saya, semua orang pasti mempunyai hobi masing-masing. Tidak berfikir, bahkan tidak menghiraukan apapun kalau sudah berhadapan dengan Hobi yang digemarinya tersebut.

Di beberapa hari yang panas dan melelahkan tersebut akhirnya mendapatkan data dan foto-foto beberapa spesies burung yang nyangkut di kamera hasil pinjaman yang menjadi oleh-oleh sekaligus menjadi cerita kepada teman-teman saya selama seharian tadi.

Di lokasi kampus ITS sendiri memiliki kurang lebih 57 spesies burung, dan terdapat 36 spesies burung yang menyandang pangkat spesies langka dalam skala global maupun menurut peraturan pemerintah melalui PP No. 7 Tahun 1999. Tidak heran diberlakukannya larangan menembak di wilayah kampus ITS dan ditetapkannya daerah konservasi oleh kepala BAUK-ITS. Tetapi pada kenyataan dan kehidupan sehari-hari masih saja ada masyarakat sekitar yang masih belum sadar akan kelestarian lingkungan, bahkan seringkali bersilang pendapat sampai terbawa emosi dengan masyarakat sekitar yang masih menangkap burung, memang benar masyarakat saat ini tidak menembak burung lagi, dikarenakan menembak hanya menghabiskan peluru, tidak evisisen, bahkan bisa saja ketahuan dengan letupan suaranya oleh Satuan Keamanan Kampus ITS (SKK-ITS). Masyarakat sekitar telah memiliki metode baru berupa menjaring burung, dengan sekali pasang jaring akan mendapatkan sampai lebih dari lima ekor burung dengan spesies yang berbeda. Lebih evisien teringat dalam hati kata “Bapak Tukang Penangkap Burung” tersebut.
Bila dipikirkan lebih lanjut, kita tidak dapat begitu saja melakukan larangan atau himbauan tanpa memikirkan kisah hidup si “Bapak Tukang Penangkap Burung” untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anaknya supaya tidak menjadi penangkap burung seperti orang tuanya. Alangkah kejam negeri ini jika kita menghapuskan mata pencaharian seseorang dengan hanya menuruti keinginan kita tanpa memikirkan solusi lain yang bisa diterapkan pada salah seorang tersebut agar dapat melangsungkan hidup dengan madani, seperti yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW.

Saat ini saya dan teman-teman yang memiliki tujuan yang sama di dalam Kelompok Studi Burung Liar PECUK masih dalam proses memikirkan cara agar kegiatan konservasi burung di wilayah ITS ini tidak bersinggungan dan memiliki perselisihan pendapat dengan masyarakat sekitar yang masih menangkap burung di ITS sekaligus memberikan gambaran bahwa betapa pentingnya kelestarian alam melalui kata “USE” atau “Menggunakan” di dalam konsep Konservasi itu sendiri yang berarti “Boleh menggunakan secara bijaksana”.

 

Iklan

Posted on September 4, 2011, in Karangan Bebas, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: