Burung Sarana Pengganti Insektisida dan Pestisida

Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh para petani di negara kita untuk menanggulangi serangan serangga yang menjadi hama di tanaman pertanian mereka, sampai-sampai penggunaan insektisida yang berlebihan sehingga akan mempengaruhi hasil tanaman mereka yang menjadikan tidak dapat dikonsumsi dan bahaya insektisida atau pestisida tersebut yang akan mengancam lingkungan sekitar.

Kembali menelaah kenapa serangga tersebut bisa disebut menjadi suatu hama?

Serangga dapat menjadi hama sebenarnya karena ulah manusia. Manusialah yang menempatkan suatu jenis serangga dalam kategori hama. Manusia menempatkan posisi serangga sebagai hama karena manusia tersebut berkompetisi dengan serangga, umumnya dalam hal makanan.

Keberadaan faktor lingkungan juga amat menentukan keberadaan suatu spesies pada suatu tempat tertentu. Faktor yang menentukan adalah hubungan antara suatu organisme dengan organisme lainnya. Perlu disadari pula bahwa adanya prinsip-prinsip ekologi dalam mengatur interaksi antara serangga dan manusia,tidak berbeda pula dengan prinsip yang mengatur hubungan serangga dengan organisme hidup lainnya.

Tanpa disadari manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya telah merubah ekosistem alami dengan menciptakan suatu ekosistem baru untuk kepentingan pertanian, yang dimana terdapat organisme-organisme yang saling berinteraksi dan bergantungan hidupnya khususnya serangga.

Ekosistem baru buatan manusia tersebut memaksa komponen ekosistem yang awalnya bermacam-macam penyusunnya tersebut menjadi sederhana dan biasanya hanya terdiri dari tanaman pertanian yang homogen. Dengan demikian suatu ekosistem tersebut tidak mempunyai keanekaragaman yang tinggi, dan interaksi antar spesies menjadi rendah.

Jadi jangan salahkan jika serangga tersebut menjadi saingan manusia dalam berkompetisi perebutan makanan dan kita memposisikan kedalam golongan “hama”. Munculnya hal tersebut juga karena kurangnya penggunaan potensi bioekologinya dalam pertanian. Yang sebagaimana masalah tersebut dapat ditanggulangi dengan mengendalikan populasi serangga hama melalui kehadiran pemangsanya, salah satunya adalah burung.

Selain tetap menjaga keseimbangan ekosistem dan pengurangan pemakaian insektisida maupun pestisida bahan kimia yang akan merusak lingkungan, pemanfaatan burung secara langsung dapat mengurangi meledaknya populasi serangga perusak tanaman tersebut. Dengan sedikit ilustrasi rantai makanan berikut ini pasti betapa terlihatnya fungsi burung dalam suatu ekosistem.

Potensi keanekaragaman burung di pulau Jawa sendiri cukup tinggi, terdapat 494 jenis dari 73 famili (MacKinnon, 1988). Jika kita manfaatkan maka akan sangat membantu dalam menyeimbangkan populasi serangga yang telah kita posisikan pada posisi sebagai “hama” tersebut.

Dari 494 jenis tersebut 67% (331 jenis) diantaranya ialah pemakan serangga, dengan rincian 24% (79 jenis) pemakan serangga primer dan 76% (252 jenis) pemakan serangga sekunder. Pemakan serangga serangga primer meliputi seluruh burung dalam family Caprimulgigidae, Apodidae, Hemiprocnidae, Meropidae, Coraciidae, Hirundinidae dan Acanthizidae. Campuran pemakan serangga primer dan sekunder meliputi jenis-jenis burung dalam family Glareolidae, Cuculidae, Strigidae, Picidae, Motacillidae, Campephagidae, Laniidae, Turdidae, Timaliidae, Sylviidae, Muscicapidae dan Zosteropidae; sedangkan family lainnya merupakan pemakan serangga primer (Prawiradilaga, 1990).

Berdasarkan (Borror dan Delong, 1954; Kalshoven, 1981) serangga dikelompokkan menurut potensinya sebagai berikut :

  1. Perusak tanaman yaitu semua jenis serangga yang merusak akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.
  2. Pemangsa yaitu kelompok serangga yang memangsa serangga lainnya.
  3. Perombak yaitu semua jenis serangga yang mampu merombak bahan-bahan anorganik
  4. Parasit yaitu kelompok serangga yang hidupnya menumpang pada serangga lain
  5. Lain-lain, meliputi serangga pengunjung, penyerbuk, pengisap darah dan sebagainya.

Secara umum serangga yang lebih banyak dimangsa oleh burung adalah serangga perusak tanaman (akar, batang, daun, bunga, buah dan biji). Dengan keadaan seperti ini jelas sangat menguntungkan karena burung memiliki potensi cukup baik untuk digunakan dalam mengontrol populasi serangga hama.

Tidak hanya pada serangga, terhadap wabah ulat bulu yang saat ini lagi musimnya kemungkinan juga bias diatasi dengan senjata perburungan tersebut, hanya saja perlu ada studi lebih lanjut tentang intensitas konsumsi burung tersebut terhadap ulat bulu dan serangga yang menyerang. Berikut hanya salah satu fungsi dari burung dalam menjaga keseimbangan suatu ekosistem. Dan apa yang terjadi jika burung hilang dari suatu susunan ekosistem? Maka sayangilah burung kita bersama.  🙂

Iklan

Posted on Februari 29, 2012, in Karangan Bebas. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: