Sedikit cerita dari Cangar

Saat mendengar kata-kata Cangar, pasti orang akan berfikiran tentang wisata pemandian air panasnya. Tetepi disis lain dari wajah cangar yang terdapat di area Hutan Raya R Soeryo jika dilihat dari segi keanekaragam hayatinya sungguh besar. Terbukti dengan hasil dari Ekspedisi yang diadakan oleh FOBI dengan catatan untuk Flora dan Faunanya yang beragam. Sedikit cerita dari Cangar “seng bener-bener Sangar”.

Hanya berbekal baju yang menempel di badan yang dilapisi jaket ditambah hanya kamera saja yang saya masukan kedalam tas punggung, tanpa berfikir panjang langsung berangkat menuju Taman Hutan Raya R Soeryo untuk mengikuti acara Ekspedisi FOBI. Karena tidak mau ketinggalan untuk mengeksplorasi satwa khususnya burung-burung yang ada dilokasi itu, membuat saya semakin bersemangat untuk segera menuju ke tempat itu, ditambah lagi acara yang sudah berjalan mulai tanggal 1 April 2012 dan saya yang baru berangkat pada tanggal 6 April 2012 Malam atau bisa disebut peserta yang telat dan tertinggal kereta yang sudah jauh.

Saat perjalanan dari pacet menuju Taman Hutan Raya R Soeryo yang terletak di Cangar, Batu. Seluruh kanan kiri jalanan hanya berlatar rimbun dan gelapnya hutan primer. Cahaya bulan dan sayup sorotan lampu dari sepeda motor malah semakin membuat merinding. Kurang lebih satu jam perjalanan di tengah jalan hutan tersebut, terlihat dari jauh cahaya lampu neon dan akhirnya sampai pada Kantor Taman Hutan Raya R Soeryo. Saat berhenti terasa dingin yang sampai ke tulang (merupakan hal baru bagi manusia yang hidup di daerah panas Surabaya), dan baru tahu bahwa suhu dilokasi tersebut 16 Celcius. Adaptasi tidak terlalu lama karena sambutan yang hangat dari teman-teman ekspedisi.

Teman-teman dari berbagai wilayah menyambut dengan hangat, sampai makan dan tidur pun saya ngikut(alias gak bondo). Suasana di ruangan tersebut seperti acara reunion keluarga yang lama tidak berkumpul, karena aroma persaudaraan yang kental menyelimuti. Sharing, ngobrol, bertukar informasi dan ilmu membuat waktu tidak terasa berjalan dengan cepat. Waktu menunjukan pukul 12.00 AM beberapa orang mengajak untuk pengamatan malam dengan membuat pancingan suara Otus lempiji, Tyto alba, Strix leptogrammica. Alhasil burung-burung tersebut hanya menghampiri dan tidak mau menampakkan dirinya dalam penatnya gelap malam dan rimbunnya tajuk pohon di atas pemandian air hangat cangar. Kata mas Heru(Mbah Rekso) yang biasanya pengamatan malam di tempat itu biasanya burung jenis Strix sp sering mandi air hangat dan memangsa ikan gabus di kolam pemandian di tempat itu. Tetapi malam itu saya tidak beruntung karena tidak dapat mengabadikan Raptor Malam tersebut dan acara dilanjutkan dengan istirahat(tidur).

Pagi ketika saya bangun ternyata ruangan sudah sepi, saya kaget karena pukul sudah menunjuk pukul 07.00. Sangat tidak terbiasa karena pukul 07.00 disana mataharinya masi seperti pukul 05.30 di Surabaya. Karena suara burung yang saling bersahutan terdengar saya langsung bergegas pengamatan pagi itu sampai lupa untuk cuci muka. Rencana pertama dan saran dari teman-teman untuk menuju jembatan kembar agar tidak ketinggalan untuk menyaksikan Spizaetus bertelsi yang sedang berjemur di atasnya. Sekali lagi saya kurang beruntung karena tidak menyaksikan burung yang dikatakan asal muasal burung Garuda. Tapi benar kata orang-orang Cangar memang Sangar, meskipun tidak melihat Spizaetus bartelsi saya sangat kagum karena disuguhi banyaknya Indigo Flycatcher yang terlihat seperti bondol di Surabaya, tapi anehnya sampai pulang saya sama sekali tidak melihat bondol. Tidak sampai pindah tempat sudah ada tarian Coracina larvata (jantan dan betina), disambut gerombolan Pericrocotus miniatus, Ixos virescens, Seicercus grammiceps, dan di perjalana kembali ke Penginapan(kantor Tahura R Soeryo) dengan ditemani suara Megalaima australis yang ada dimana-mana saya bergegas, sampai di Kantor Tahura R Soeryo untuk membeli GG inter saya lanjut menuju areal pemandian air panas Cangar.

Saat berjalan ke dalam areal pemandian masih sempat saja untuk bertemu Culicicapa ceylonensis yang sedang agresif menjaga sarangnya.  Akan tetapi  letak sarang burung tersebut yang terletah sangat tinggi dan menempel di batang pohon membuat saya tidak bisa melihat anak dari burung yang lagi parenting tersebut. Karena teringat akan photo Spizaetus bartelsi dan Aceros undulatus yang ditunjukan kepada saya, menjadi ingin segera menuju ke lokasi temuan spesies tersebut yang berada di Bukit yang bernama Gajah Mungkur tersebut. Tak lama pengamatan di lokasi pemandian saya kembali lagi menuju ke Kantor untuk mengambil motor supaya lebih cepat menuju lokasi, mengingat teman-teman yang sudah pada packing untuk pulang.

Sesampai di jalan bagian bawah bukit saya langsung menuju puncak bukit yang ternyata tidak terlalu jauh dari jalan tempat saya meletakan motor. Dua jam menunggu di atas bukit dengan terdengar suara Megalaima sp, Dendrocopos sp, dan ribuan collocalia esculenta kedua spesies yang saya tunggu tak kunjung menampakan dirinya. Tetap menunggu dengan ditemani GG inter dan segelas kopi yang saya bawa ke atas sampai waktu menunjukan pukul 11.15 siang membuat saya sedikit berkecil hati untuk kembali dengan tangan kosong. Bersiul-siul iseng sedikit supaya tidak bosan dengan menirukan lengkingan suara Spilornis cheela ternyata terdengar sahutan suara  sebanyak dua kali. Yang membuat saya kaget disaat mencari asal suara tersebur se-ekor Spilornis cheela telah berada tepat di atas saaya dengan jarak yang sangat dekat, disaat akan mengabadikan moment tersebut ternyata diafragma lensanya tidak mau membuka sempurna (#error). Tidak lama berselang muncul satu lagi Spilornis cheela yang sepertinya berkelamin betina, karena salah satu dari mereka melakukan tari-tarian dan akselerasi yang indah di udara. Sempat mengabadikan tarian yang bergerak longitudinal dengan menggoyangkan ekornya tetapi photo yang saya dapatkan over ligting semua karena matahari yang sudah tepat diatas kepala.

Karena terlalu lamanya saya berada dibukit itu sampai lupa akan waktu, yang akhirnya membuat saya di jemput dan diminta untuk segera kembali ke Kantor Tahura R Soeryo. Sampai di kantor terlihat semua orang sudah pada duduk di tepi jalan menunggu saya karena acara sudah ditutup dan kendaraan yang mengantar kembali ke daerah asalnya masing-masing sudah siap, membuat saya sangat tidak enak(sungkan) karena telah membuat menunggu. Setelah itu ada sesi photo bareng, di sesi photo bareng juga disuguhi oleh Ictinaetus malayensis dan Spilornis cheela yang sedang soaring. Tetapi semua tidak menunjukan sebuah ekspresi yang kagum karena sudah terlalu sering melihat hal tersebut selama satu minggu dan akhirnya acara diakhiri dengan salam-salaman seperti lebaran.

Sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan, hangatnya kebersamaan seperti hangatnya suasana keluarga dan menakjubkannya burung yang ada di cangar membuat saya teringat kata-kata  “Cangar pancen sangar”.

Iklan

Posted on Mei 13, 2012, in Karangan Bebas, Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. ndes, blog-mu tak templekno ndek blog-ku yo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: