Category Archives: Uncategorized

Rote Endao

Rote Endao, merupakan suatu kabupaten yang terletak pada wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nama kabupaten ini diambil dari nama pulau Rote dan pulau Endao, Rote sendiri merupakan wilayah paling selatan Indonesia. Pada buku-buku panduan pulau Rote lebih dikenal dengan nama pulau Roti. Wilayahnya yang terdapat di ujung selatan Indonesia dan akses yang cukup sulit, menjadikannya kurang dijadikan wisatawan sebagai list dalam kunjungan wisata mereka. Akan tetapi keindahan pulau ini sangatlah luar biasa dengan budayanya yang khas dipadukan keindahan alam berupa perbukitan, lembah berbatu, dan hamparan pantai dengan pasir putihnya.

Perjalanan ke pulau ini dapat dituju dengan menggunakan jalur udara ataupun jalur laut dari Kupang. Perjalanan udara kurang diminati karena harganya yang cukup mahal, dan penerbangan dari bandara El-Tari Kupang menuju bandara Lekunik hanya berjarak tempuh berkisar 15 menit. Transportasi udara Kupang – Rote PP terdapat dua maskapai penerbangan yakni Merpati Air Lines yang melayani penerbangan 1 kali seminggu pada hari jumat dengan pesawat jenis Cassa 212, dan Transnusa Trigana Air dengan penerbangan tiga kali seminggu pada hari senin, rabu, dan sabtu dengan pesawat jenis ATR 42.

IMG_7661

Untuk perjalanan laut terdapat dua alternatif yakni dengan menggunakan kapal feri dengan rute dari pelabuhan Tenau Kupang menuju pelabuhan Pantai Baru Rote dimana perjalanan dilakukan sekitar 5-6 jam, atau dengan menggunakan kapal cepat menuju Kota Ba’a dengan jarak tempuh sekitar 2-3 jam.

Seluruh wilayah pulau ini terlihat kering karena dipengaruhi oleh angin muson dengan musim hujan relatif pendek (3-4 bulan) dan curah hujan yang sedikit. Tidak mengherankan jika seluruh pemandangan di tepi perjalanan dipenuhi dengan padang rumput berupa sabana. Tetapi terdapat beberapa wilayah dengan tipe vegetasi berupa hutan hujan dataran rendah, tetapi hanya sedikit penutupannya.

Savana

Dan ketika melakukan perjalanan melalui jalur darat dari pelabuhan Pantai Baru menuju Kota Ba’a yang dimana merupakan pusat Pemerintahan dari Kabupaten Rote Endao, maka anda akan melihat 2 bukit batu besar yang tedapat di tepi pantai. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Batu Termanu yang menurut kepercayaan masyarakat sekitar batu itu merupakan jelmaan dari sepasang kekasih yang terkena kutukan, dan ada juga yang menyebutkan kalau batu tersebut merupakan pulau yang bergerak dan akhirnya Pemimpin adat setempat memaku batu tersebut agar tidak berjalan lagi.

Termanu

Diantara dua tanjung dari batu tersebut terdapat teluk berupa hamparan pasir yang indah. Karena jarang sekali ada wisatawan jadi pantai ini masih sepi dan hanya terlihat warga sekitar yang mencari ikan dengan menggunakan jaring tangan sederhana. Pasir putih dipadukan air laut yang biru dan jernih dengan pepohonan lontar menjulang, semua tersedia di teluk Termanu.

Tidak hanya keindahan bentang alamnya, tetapi juga keanekaragaman burung di daerah ini cukup menarik. Karena berada pada garis Wallacea dan tak jauh dari Benua Australia, jenis-jenis burung yang ada disini cukup beragam dan sangat khas. Ketika matahari pagi mulai menghangat kicauan dan aktifitas berupa gerakan dari burung-burung ketika berpindah ranting, dengan diiringi gemuruh ombak kecil yang selaras berpadu indah seperti dawaian dari senar pada alat musik sasando dan gendang. Tak sabar untuk menikati nyayian dan tarian alam yang telah disuguhkan oleh tuhan YME di pagi itu, akhirnya bergegaslah berjalan-jalan keliling daerah tersebut. Beberapa spesies burung yang terdapat di daerah itu juga tersangkut dalam frame kamera.

Warung

Matahari mulai terletak tepat diatas kepala, udara yang kering dan panas mulai menyengat raga. Ternyata ada penduduk sekitar yang katanya istri dari kepala adat daerah atau dusun yang membuka warung di pinggiran pantai, es kelapa muda dan sari lontar siap dihidangkan. “Sruput dulu bung..” dengan menenggak satu gelas es kelapa muda sambil mendengarkan kisah dan pengalaman dari bapak kepala adat setempat tentang daerahnya.

Elang Bondol (Haliastur indus)

Klasifikasi Elang Bondol

Elang Bondol (Haliastur indus) dalam bahasa inggris disebut Brahminy Kite, adapun klasifikasinya dalam taksonomi sebagai berikut :

Kingdom                      : Animalia

Phylum                        : Chordata

Class                             : Aves

Order                            : Falconiformes

Family                          : Accipitridae

Genus                           : Haliastur

Species                         : Haliastur indus

(Boddaert, 1783)

Morfologi Elang Bondol (Haliastur indus)

Topografi morfologi

Gambar 1. Topografi bagian-bagian morfologi Elang bondol

Secara umum Elang Bondol (Haliastur indus) mempunyai karakteristik tubuh berwarna putih dan coklat pirang. Pada individu dewasa pada bagian (kepala, leher dan dada) berwarna putih, pada bagian (sayap, mantel, ekor dan perut) berwarna coklat terang, dan terlihat kontras dengan bulu primer yang berwarna hitam. Seluruh tubuh individu remaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa putih bersih pada tahun ketiga. Perbedaan elang muda dengan Elang Paria (Milvus migrans) adalah ujung ekornya bundar, bukan menggarbu. Mempunyai iris berwarna coklat, paruh dan sera berwarna abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki berwarna kuning gelap. Dengan panjang tubuh antara (size min 44 cm, and size max 52 cm), lebar rentang sayap (wingspan min 109 cm, and wingspan max 125 cm), panjang ekor antara 18 – 22 cm.

Handling

Gambar 2. Perbandingan tubuh Elang bondol dengan manusia

Morfologi Anak (Juvenil)

H indus juv

Gambar 3. Juvenil Elang bondol

            Pada usia juvenile pada Elang Bondol (Haliastur indus) tubuhnya tampak didominasi oleh warna coklat gelap pada bagian atas, dan lebih pucat pada bagian kepala sampai bagian bawah tubuhnya. Warna dasar tubuh bagian atas dan sayap terlihat lebih hitam dengan bercak pucat, dengan skala bercak tersebut cenderung menjadi lebih kecil pada bagian belakang. Sementara di wilayah Australasia kepala dan leher memiliki variasi garis-garis kekuningan yang sedikit tebal. Sedangkan untuk wilayah Indomalayan pada bagian dahi dan antara mata sampai belakang paruh terlihat lebih polos, seluruh kepala terlihat lebih cerah kecuali pada bagian wajah sampai bulu telinga meiliki warna lebih kehitaman dan bergaris-garis kuning kecoklatan, dengan topeng yang kurang jelas. Selama enam bulan pertama bulu yang berwarna kehitaman memudar menjadi kecoklatan, dan garis-garis berwarna kuning menjadi memudar.

Morfologi Remaja (Immature)

Haliastur indus

Gambar 4. Immature Elang bondol

            Pada bulu remaja Elang Bondol (Haliastur indus) terdapat campuran warna usang dan pudar, yang berasal dari bulu pada saat juvenile dengan perbandingan bulu baru putih dan bulu merah kecoklatan di kepala. Tubuh bagian bawah dan rata-rata bulu sayap memiliki tahap yang mencirikan pola dewasa, dengan dahi dan tenggorokan keputihan, terdapat coretan-coretan putih kekuningan dan mahkota yang pucat. Sisi kepala, leher, mantel, dada, perut bagian atas dan panggul menjadi lebih kusam dengan warna coklat kemerahan. Bulu sayap bagian atas, perut bagian bawah, bagian bawah ekor (crissum), bulu kaki (thight), bulu penutup primer (grather-coverts), dan ekor sebagian besar tidak mengalami moulting (peluruhan pada bulu), tetapi mengalami perubahan fase warna menjadi usang dan coklat pudar.

Morfologi Dewasa (Adult)

H indus

Gambar 4. Elang bondol dewasa

            Ketika dewasa morfologi Elang Bondol (Haliastur indus) di wilayah Australasian memiliki ciri pada bagian kepala, leher sampai bagian matel, tenggorokan sampai bagian atas perut dan panggul (flanks) seluruhnya berwarna putih, sedangkan di wilayah Indomalaya memiliki warna sedikit lebih gelap. Ditandai warna kontras pada dada sampai seluruh bagian tubuh, meliputi bulu sayap, paha dan ekor, memiliki variasi ujung pucat keputih-putihan pada wilayah bagian barat, dan berwarna lebih putih di wilayah timur, dan ujung bulu primer berwarna hitam. (Ketika bersarang, betina cenderung berwarna putih pada dada bagian bawah dibandingkan dengan jantan).

Wilayah Jelajah

Burung Elang Bondol merupakan penetap umum, bukan termasuk burung migran. Daerah penyebaran Burung Elang Bondol di Indonesia adalah di seluruh Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali. Namun untuk keberadaan Elang Bondol di Pulau Jawa dan Bali sudah sangat jarang. Penyebaran global Elang Bondol juga ditemukan di India, Cina, Filipina, dan Australia. Menurut Coates (2000) menyatakan burung Elang Bondol juga ditemukan tersebar di seluruh kawasan Wallacea.

Brahminy Kite

Gambar 5. Persebaran Elang bondol

            Berdasarkan tipe habitatnya, Elang Bondol menempati pantai tropis, subtropics dan pulau-pulau dari hampir semua jenis habitat (muara, mangrove, pantai, terumbu karang, gosong, rawa air asin, berbatu, tebing, permukiman nelayan, dan pelabuhan-pelabuhan), tapi pada wilayah India dan Pulau-pulau besar di Indonesia, Elang Bondol menempati kawasan pedalaman antara lain sungai, danau, saluran air, rawa-rawa, persawahan, dan lahan basah lainnya, dan juga pada tempat pembuangan kota.

DAFTAR PUSTAKA

 

Coates, B.J. 2000. The birds of Papua New Guinea, including the Bismarck   Archipelago and Bougainville. Vol. I. Non-passerines. Dove Publications, Alderley, Queensland, Australia.

Ferguson-Less,J. And D. A. Christie. 2001. Raptors of the world. Houghton Miffin. New York.

MacKinnon, J., Karen Phillipps dan Bas van Balen. 1997. Burung – Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Sarawak dan Brunei Darussalam). Puslitbang Biologi – LIPI, Bogor.

Prawiradilaga DM. 2003. Research and Conservation of Biodiversity In Indonesia (Research on Endangered Species in Gunung Halimun National Park: Diversity and distribution of Raptor at Gunung Halimun National Park with particular reference to the Javan Hawk-eagle). BCP-JICA. Bogor.

Kebun Binatang Surabaya (Burung)

Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang dulunya merupakan Kebun Binatang tersohor se-Indonesia hingga se-Asia Tenggara, pernah menyandang predikat sebagai kebun binatang yang terlengkap se-Asia Tenggara pada era 1970-an pada masa pengelolaan di bawah Pemerintah Belanda. Yang didalamnya di isi oleh lebih dari 351 spesies satwa yang berbeda jenisnya dan terdiri lebih dari 2.806 individu macam binatang, baik itu satwa langka Indonesia maupun dunia yang terdiri dari Mamalia, Aves, Reptilia, dan Pisces.

KBS

Kebun Binatang ini pertama kali didirikan berdasar SK Gubernur Jenderal Belanda pada tanggal 31 Agustus 1916 No. 40, yang awalnya mempunyai nama dalam bahasa Belanda “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” yang memiliki arti (Kebun Botani dan Binatang Surabaya). Berdirinya Kebun Botani dan Binatang ini atas jasa seorang jurnalis bernama H.F.K. Kommer yang memiliki hobi mengumpulkan binatang dan di dukung oleh beberapa orang penyandang dana.

Memang pada saat itu KBS mengalami perkembangan dan bertambahnya satwa, namun sekarang apa yang ada di benak kita tentang Kebun Binatang Surabaya saat ini sangatlah berbeda dengan yang terjadi di masa lampau. Semua citra baik itu tertutupi dengan hal buruk yang selama ini terjadi dengan satwa di Kebun Binatang tersebut.  Pada awalnya KBS menjadi percontohan bagi Kebun Binatang lainnya, namun sekarang sudah berbeda, KBS lah yang harus mencontoh Kebun Binatang yang lainnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari pengelola Kebun Binatang Surabaya menunjukkan bahwa sekitar 130 satwa mati dalam sembilan bulan terakhir, terutama karena serangan penyakit dan kurangnya sarana yang memadai dan tenaga perawat satwa yang berkualitas. “Kematian satwa itu, yang paling pertama karena sudah tua. Kedua karena penyakit, dan ketiga karena sarana prasarana kandang yang kurang memadai, mengakibatkan penyakit mudah muncul, akhirnya penyakit tersebut mudah menular. Keempat, sumber daya manusia di sini kurang (berkualitas),” ujar Tonny Sumampau, Ketua Harian Tim Pengelola Sementara Kebun Binatang Surabaya.  Pernyataan tersebut dikutip dari voaindonesia pada tanggal 11/09/2012.

Diusia 96 tahun,  begitu banyak masalah yang dihadapi oleh pengurus Kebun Binatang Surabaya (KBS), belum lagi masalah sengketa lahan dan pengelolaannya yang diperebutkan oleh dua dinas pemerintahan sampai saat ini masih belum pasti.

Ketua Tim Pengelola Sementara KBS, Hadi Prasetyo, mengatakan bahwa saat ini Kebun Binatang Surabaya masih memiliki 4.020 ekor satwa dari 220 spesies. Padahal, dengan luas dan jumlah kandang yang ada, seharusnya kebun binatang itu maksimal menampung 3 ribu binatang saja. Artinya, ada kelebihan populasi sampai seribu satwa. “Seribu ekor ini ya harus dipindahkan, tapi memindahkanya juga tidak gampang,” kata Hadi.

Akibat penurunan kualitas tersebut maka Kebun Binatang Surabaya juga harus menerima konsekuaensi yang harus ditanggung, berupa penurunan pengunjung dari tahun ketahun dan akan berpengaruh juga pada finansial yang diperoleh dari penjualan tiket masuk.

KBS1

Akibat dari konflik – konflik yang tak kunjung selesai, citra yang kemudian timbul di masyarakat ialah bahwa KBS sudah tidak bagus lagi dan tidak terurus. Mulai dari kepengurusan yang tidak jelas hingga hewan – hewan yang mati. Dilihat dari data jumlah pengunjung yang menurun cukup drastis setahun terakhir, terhitung dari tahun 2009 – 2010. Dilihat dari grafik pengunjung, pada tahun 2009 mencapai angka 1,596,499 pengunjung/tahun, sedangkan di tahun 2010, pengunjung mengalami penurunan pada angka 1,288,336 pengunjung/tahun6. (Kuncoro, 2012)

KBS2

Hasil survey kuisioner pengunjung yang berkunjung ke KBS (Kuncoro, 2012)

Hasil survey terhadap minat anak – anak untuk berkunjung ke KBS menunjukkan bahwa didapatkan sebanyak 38% dari anak – anak cukup sering berkunjung ke KBS, 30% jarang berkunjung, 18% sangat jarang berkunjung & hanya 14% saja yang sering berkunjung, bahkan belum ada anak-anak yang menyatakan sangat sering berkunjung ke KBS. Dari Hasil diatas dapat dilihat bahwa minat masyarakat untuk datang ke KBS sangat rendah pada saat ini.

Berdasarkan data kualitatif dan kuantitatif yang saya dapatkan tersebut saya mencoba untuk berjalan dan melihat-lihat bagaimanakah kondisi KBS sesungguhnya, apakah sama seperti yang dikatakan orang-orang pada saat ini. Selain itu juga mencoba sedikit menginventarisasi burung-burung liar yang ada di area Kebun Binatang Surabaya. Sesudah tiga kali pengamatan yang saya lakukan ternyata menemukan 17 spesies burung liar yang bebas berkeliaran di luar kandang.

No

Nama Spesies

Nama Indonesia

Family

Jumlah

1

Aegithina tiphia Cipoh Kacat Aeghitinidae

4

2

Collocalia Linchi Walet Linci Apodidae

35

3

Bubulcus ibis Kuntul Kerbau Ardeidae

3

4

Egretta garzetta Kuntul Kecil Ardeidae

2

5

Adeola speciosa Blekok Sawah Ardeidae

6

6

Nycticorax ncyticorax Kowakmalam Abu Ardeidae

16

7

Streptopelia chinensis Tekukur Biasa Columbidae

27

8

Dicaeum trochileum Cabai Jawa Dicaeidae

9

9

Lonchura punctulata Bondol Peking Estrildidae

12

10

Halcyon sancta Cekakak Austalia Halcyonidae

4

11

Cinnyris jugularis Burungmadu Sriganti Nectariniidae

12

12

Passer montanus Burung Gereja Passeridae

17

13

Pycnonotus goiavier Merbah cerukcuk Pycnonotidae

2

14

Pycnonotus aurigaster Cucak Kutilang Pycnonotidae

8

15

Glaucidium castanopterum Beluk-watu Jawa Strigidae

1

16

Acridotheres javanicus Kerak Kerbau Sturnidae

24

17

Zosterops palpebrosus Kacamata Biasa Zosteropidae

3

Dilihat dari keberadaan lokasi yang berada di tengah-tengah kota Surabaya, Kebun Binatang ini merupakan salah satu RTH yang cukup luas dan juga dapat membantu menyerap karbon pada kota Surabaya hingga saat ini.

Beberapa exsotike avivauna yang nyangkut di kamera di luar kandang dan dalam kandang KBS :

Sedikit cerita dari Cangar

Saat mendengar kata-kata Cangar, pasti orang akan berfikiran tentang wisata pemandian air panasnya. Tetepi disis lain dari wajah cangar yang terdapat di area Hutan Raya R Soeryo jika dilihat dari segi keanekaragam hayatinya sungguh besar. Terbukti dengan hasil dari Ekspedisi yang diadakan oleh FOBI dengan catatan untuk Flora dan Faunanya yang beragam. Sedikit cerita dari Cangar “seng bener-bener Sangar”.

Hanya berbekal baju yang menempel di badan yang dilapisi jaket ditambah hanya kamera saja yang saya masukan kedalam tas punggung, tanpa berfikir panjang langsung berangkat menuju Taman Hutan Raya R Soeryo untuk mengikuti acara Ekspedisi FOBI. Karena tidak mau ketinggalan untuk mengeksplorasi satwa khususnya burung-burung yang ada dilokasi itu, membuat saya semakin bersemangat untuk segera menuju ke tempat itu, ditambah lagi acara yang sudah berjalan mulai tanggal 1 April 2012 dan saya yang baru berangkat pada tanggal 6 April 2012 Malam atau bisa disebut peserta yang telat dan tertinggal kereta yang sudah jauh.

Saat perjalanan dari pacet menuju Taman Hutan Raya R Soeryo yang terletak di Cangar, Batu. Seluruh kanan kiri jalanan hanya berlatar rimbun dan gelapnya hutan primer. Cahaya bulan dan sayup sorotan lampu dari sepeda motor malah semakin membuat merinding. Kurang lebih satu jam perjalanan di tengah jalan hutan tersebut, terlihat dari jauh cahaya lampu neon dan akhirnya sampai pada Kantor Taman Hutan Raya R Soeryo. Saat berhenti terasa dingin yang sampai ke tulang (merupakan hal baru bagi manusia yang hidup di daerah panas Surabaya), dan baru tahu bahwa suhu dilokasi tersebut 16 Celcius. Adaptasi tidak terlalu lama karena sambutan yang hangat dari teman-teman ekspedisi.

Teman-teman dari berbagai wilayah menyambut dengan hangat, sampai makan dan tidur pun saya ngikut(alias gak bondo). Suasana di ruangan tersebut seperti acara reunion keluarga yang lama tidak berkumpul, karena aroma persaudaraan yang kental menyelimuti. Sharing, ngobrol, bertukar informasi dan ilmu membuat waktu tidak terasa berjalan dengan cepat. Waktu menunjukan pukul 12.00 AM beberapa orang mengajak untuk pengamatan malam dengan membuat pancingan suara Otus lempiji, Tyto alba, Strix leptogrammica. Alhasil burung-burung tersebut hanya menghampiri dan tidak mau menampakkan dirinya dalam penatnya gelap malam dan rimbunnya tajuk pohon di atas pemandian air hangat cangar. Kata mas Heru(Mbah Rekso) yang biasanya pengamatan malam di tempat itu biasanya burung jenis Strix sp sering mandi air hangat dan memangsa ikan gabus di kolam pemandian di tempat itu. Tetapi malam itu saya tidak beruntung karena tidak dapat mengabadikan Raptor Malam tersebut dan acara dilanjutkan dengan istirahat(tidur).

Pagi ketika saya bangun ternyata ruangan sudah sepi, saya kaget karena pukul sudah menunjuk pukul 07.00. Sangat tidak terbiasa karena pukul 07.00 disana mataharinya masi seperti pukul 05.30 di Surabaya. Karena suara burung yang saling bersahutan terdengar saya langsung bergegas pengamatan pagi itu sampai lupa untuk cuci muka. Rencana pertama dan saran dari teman-teman untuk menuju jembatan kembar agar tidak ketinggalan untuk menyaksikan Spizaetus bertelsi yang sedang berjemur di atasnya. Sekali lagi saya kurang beruntung karena tidak menyaksikan burung yang dikatakan asal muasal burung Garuda. Tapi benar kata orang-orang Cangar memang Sangar, meskipun tidak melihat Spizaetus bartelsi saya sangat kagum karena disuguhi banyaknya Indigo Flycatcher yang terlihat seperti bondol di Surabaya, tapi anehnya sampai pulang saya sama sekali tidak melihat bondol. Tidak sampai pindah tempat sudah ada tarian Coracina larvata (jantan dan betina), disambut gerombolan Pericrocotus miniatus, Ixos virescens, Seicercus grammiceps, dan di perjalana kembali ke Penginapan(kantor Tahura R Soeryo) dengan ditemani suara Megalaima australis yang ada dimana-mana saya bergegas, sampai di Kantor Tahura R Soeryo untuk membeli GG inter saya lanjut menuju areal pemandian air panas Cangar.

Saat berjalan ke dalam areal pemandian masih sempat saja untuk bertemu Culicicapa ceylonensis yang sedang agresif menjaga sarangnya.  Akan tetapi  letak sarang burung tersebut yang terletah sangat tinggi dan menempel di batang pohon membuat saya tidak bisa melihat anak dari burung yang lagi parenting tersebut. Karena teringat akan photo Spizaetus bartelsi dan Aceros undulatus yang ditunjukan kepada saya, menjadi ingin segera menuju ke lokasi temuan spesies tersebut yang berada di Bukit yang bernama Gajah Mungkur tersebut. Tak lama pengamatan di lokasi pemandian saya kembali lagi menuju ke Kantor untuk mengambil motor supaya lebih cepat menuju lokasi, mengingat teman-teman yang sudah pada packing untuk pulang.

Sesampai di jalan bagian bawah bukit saya langsung menuju puncak bukit yang ternyata tidak terlalu jauh dari jalan tempat saya meletakan motor. Dua jam menunggu di atas bukit dengan terdengar suara Megalaima sp, Dendrocopos sp, dan ribuan collocalia esculenta kedua spesies yang saya tunggu tak kunjung menampakan dirinya. Tetap menunggu dengan ditemani GG inter dan segelas kopi yang saya bawa ke atas sampai waktu menunjukan pukul 11.15 siang membuat saya sedikit berkecil hati untuk kembali dengan tangan kosong. Bersiul-siul iseng sedikit supaya tidak bosan dengan menirukan lengkingan suara Spilornis cheela ternyata terdengar sahutan suara  sebanyak dua kali. Yang membuat saya kaget disaat mencari asal suara tersebur se-ekor Spilornis cheela telah berada tepat di atas saaya dengan jarak yang sangat dekat, disaat akan mengabadikan moment tersebut ternyata diafragma lensanya tidak mau membuka sempurna (#error). Tidak lama berselang muncul satu lagi Spilornis cheela yang sepertinya berkelamin betina, karena salah satu dari mereka melakukan tari-tarian dan akselerasi yang indah di udara. Sempat mengabadikan tarian yang bergerak longitudinal dengan menggoyangkan ekornya tetapi photo yang saya dapatkan over ligting semua karena matahari yang sudah tepat diatas kepala.

Karena terlalu lamanya saya berada dibukit itu sampai lupa akan waktu, yang akhirnya membuat saya di jemput dan diminta untuk segera kembali ke Kantor Tahura R Soeryo. Sampai di kantor terlihat semua orang sudah pada duduk di tepi jalan menunggu saya karena acara sudah ditutup dan kendaraan yang mengantar kembali ke daerah asalnya masing-masing sudah siap, membuat saya sangat tidak enak(sungkan) karena telah membuat menunggu. Setelah itu ada sesi photo bareng, di sesi photo bareng juga disuguhi oleh Ictinaetus malayensis dan Spilornis cheela yang sedang soaring. Tetapi semua tidak menunjukan sebuah ekspresi yang kagum karena sudah terlalu sering melihat hal tersebut selama satu minggu dan akhirnya acara diakhiri dengan salam-salaman seperti lebaran.

Sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan, hangatnya kebersamaan seperti hangatnya suasana keluarga dan menakjubkannya burung yang ada di cangar membuat saya teringat kata-kata  “Cangar pancen sangar”.

Sedikit cerita kupu-kupu kampus

Siapa bilang di kampus ITS Surabaya hanya ada burung? Di kampus yang dulu mayoritas mahasiswanya laki-laki ini selain burung sekarang juga di imbangi dengan adanya kupu-kupu loh. Kupu-kupu yang saya sebutkan bukan kupu-kupu malam ya :D. Tetapi saat ini belum semua jenis kupu-kupu di kampus ITS ini tereksplore dan terdokumentasikan, mungkin karena minat akan kupu-kupu tersebut jarang dimiliki oleh mahasiswa khususnya salah satu jurusan di ITS yang hanya mempelajari makhluk hidup.

Sama halnya dengan organisme lain, kupu-kupu juga penyusun ekosistem suatu lingkungan. Jadi keberadaan kupu-kupu maupun ulat yang merupakan masa muda dari kupu-kupu tersebut juga harus dijaga. Bukan berarti jika ada ulat maka harus dibasmi secara besar-besaran bukan malah mengendalikan meledaknya populasi tersebut. Jika ulat tersebut dibasmi sehingga habis, apa ada kupu-kupu dari jenis itu yang akan ada. Tuhan menciptakan makhluk hidup pasti beserta fungsi(berguna).

Saya sedikit mulai mencoba mengeksplore kupu-kupu (Lepidoptera) yang berada di wilayah kampus ITS Surabaya ini. Alhasil ketika jalan-jalan pagi yang saya lakukan demi mengisi waktu luang akhirnya menemukan baru beberapa spesies. Untuk sekali jalan-jalan pagi dan saat itu tujuan saya yang sesungguhnya untuk pengamatan burung jumlah yang saya dapatkan ini cukup bagi saya dengan lain waktu dilanjutkan kembali pencarian kupu-kupu yang terpendam di wilayah kampus ITS Surabaya. Berikut gambar yang saya dapatkan ketika hanya sekali berjalan-jalan pagi di kampus ITS Surabaya.

 

Review Jurnal PengamatanPerilaku Pemijahan

Observations of spawning behaviour in Salmoninae: Salmo, Oncorhynchus, and Salvelinus

                                                              

 

Manu Esteve1,2

1Departmento de Biologı´a Animal (Zoologia de Vertebrados), Facultad de Biologı´a, Universidad de

Barcelona; 2621727th Ave NE, Seattle, WA, 98115, U.S.A (Phone: +206-525-5019; E-mail: manu19b@

u.washington.edu)

Accepted 2 May 2005

 

BERISIKAN TENTANG

ALTERNATIF STRATEGI REPRODUKSI JANTAN DAN TAKTIK

Strategi ikan jantan dewasa (The older male’s strategy)

Strategi ikan jantan muda (The younger male’s strategy)

Strategi ikan jantan precocious (The precocious male’s strategy)

PEMILIHAN PASANGAN PADA SALMONINES

Pilihan dari Ikan Jantan (Male choice)

Pilihan dari Ikan Betina (Female choice)

KONDISI UMUM YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MEMIJAH

Pemilihan sarang (Nest selection)

Pembangunan sarang (Nest building)

Pemeriksaan sarang (Nest probing)

Penyelesaian Sarang dan Oviposisi (Nest completion and oviposition)

Penutupan sarang (Nest covering)

                                                                                                       

PERILAKU

Pengamatan perilaku pemijahan dilakukan dengan data jangka panjang yang didapatkan dari rekaman video bawah air pada alam dan saluran semi natural. Hasil pengamatan kemudian dibandingkan dengan literatur.

Sistem pasangan merefleksikan jumlah pasangan dari individu yang dibutuhkan untuk breeding. Jantan Salmoninae berkompetisi untuk mendapatkan betina. Pemijahan Salmonid dihasilkan dari system poligami multiple dimana terdapat 5 bentuk dari kompetisi : termed contest, pemilihan pasangan, ketahanan melawan, kompetisi berjuang, dan kompetisi sperma.

  1. Term contest

Term contest merupakan pertarungan yang menunjukkan pertarungan sesungguhnya untuk mendapat pasangan. Pada umumnya, ukuran dan morfologi menentukan hasil pertarungan, ikan jantan besar dengan perkembangan karakter sekunder yang baik, akan memiliki keuntungan dalam melawan ikan jantan yang lebih kecil.

  1. Pemilihan pasangan

Pemilihan pasangan merupakan perilaku dan cirri morfologi yang menarik dan menstimulasi pasangan.

  1. Ketahanan melawan

Ketahan melawan adalah kemampuan untuk mempertahankan agar reproduksi tetap active selama musim breeding.

  1. Kompetisi berjuang

Kompetisi berjuang merupakan kemampuan dalam mendapatkan pasangan ketika jumlah betina tersedia serempak atau jumlah jantan harus berkompetisi untuk mendapatkan betina pada area yang terbatas.

  1. Kompetisi sperma

Kompetisi sperma merupakan kompetisi antara sperma dari dua atau lebih jantan pada usaha untuk membuahi telur dari satu betina. Bagaimanapun, jarak dari betina dan waktu pelepasan sperma merupakan salah satu factor yang mempengaruhi kompetisi sperma. Selain itu, terdapat factor lain yaitu volume sperma, kecepatan, dan viabilitas juga merupakan factor penting.

ALTERNATIF STRATEGI REPRODUKSI JANTAN DAN TAKTIK

Seekor ikan jantan dapat menggunakan dua taktik secara bersamaan dengan lawan yang berbeda. Secara cepat, dapat berperan sebagai petarung ketika berhadapan dengan ikan jantan yang seukuran dan dapat kabur ketika berhadapan dengan ikan jantan yang lebih besar.

Strategi ikan jantan dewasa (The older male’s strategy)

            Pada umumnya, jantan dewasa menggunakan taktik untuk bertarung dan membuat dominansi di sekitar sarang betina.

Strategi ikan jantan muda (The younger male’s strategy)

            Ikan jantan muda dapat memilih beberapa pilihan: mereka dapat mencari betina yang tidak dilindungi oleh ikan jantan besar dan bertarung dengan ikan jantan muda lainnya untuk mendominasi. Alternatif lain mereka dapat bergabung dengan ikan jantan besar dan bertarung melawan ikan subdominant untuk mempertahankan posisi. Bagaimanapun, ikan jantan muda apabila berhadpan dengan ikan yang lebih besar umumnya menggunakan strategi menyelinap diam-diam. Penyelinap menunggu beberapa saat untuk pemijahan dari posisi yang strategis jauh dari ikan jantan lainnya. Pada saat telur dilepaskan mereka mendapat keuntungan dari ukuran tubuh mereka yang kecil untuk memperoleh posisi lebih dekat dengan betina. Metode alternative lainnya untuk ikan jantan berukuran kecil atau intermediet untuk membuahi adalah dengan menyerupai betina dengan mengadopsi warna tubuh dan kebiasaan ikan betina. Dengan strategi ini, ikan jantan muda  yang kecil dapat menghindarkan diri dari serangan ikan jantan lain.

Strategi jantan precocious (The precocious male’s strategy)

            Jantan precocious menunggu untuk pemijahan dari posisi tersembunyi di dalam sarang atau dalam tempat perlindungan. Ketika tidak ada ikan dewasa, parr bertarung satu sama lain untuk posisi istimewa di dalam sarang. Hasil pertarungan ini, umumnya dimenangkan oleh parr yang berukuran lebih besar

 

 

PEMILIHAN PASANGAN PADA SALMONINES

Pilihan dari Ikan Jantan (Male Choice)

            Beberapa studi menunjukkan bahwa ikan jantan memilih untuk mencari betina yang lebih aktif pada aktivitas sarang terlepas dari ukuran tubuhnya.

Pilihan dari Ikan Betina (Female Choice)

            Ikan betina memilih jantan kecil pada aktivitas pemijahan. Ikan betina yang diamati memilih pasangan tergantung pada intensitas dari aktivitas bercumbu.

 

KONDISI UMUM YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MEMIJAH

            Salmonines memijah di perairan yang bersih,dingin, memiliki kandungan oksigen tinggi dengan dasar berkerikil yang terbebas dari lempung. Beberapa spesies atau subpopulasi dari spesies memijah pada air yang berkerikil atau berbatu atau tempat yang memiliki intergravel yang dapat mengairi embrio. Jantan umumnya menempati area pemijahan sebelum betina. Ikan betina sampai setelahnya dan mulai memilih tempat untuk membangun beberapa sarang dimana mereka meletakkan telurnya.  

Pemilihan Sarang (Nest Selection)

Ikan betina mencari tempat yang tidak ditempati dalam area berkerikil yang tepat, kedalaman air, dan kecepatan arus untuk dijadikan sebagai sarang. Selama periode ini, ikan jantan secara berkala membantu ikan betina dan mengandalkan kesiapan untuk memijah, mungkin memulai untuk aktivitas bercumbu. Pada tahap ini, mereka secara berkala menekan hidung pada tubuh ikan tena bagian tengah. Tujuan dari perilaku ini adalah kelihatannya berhubungan dengan mengetes kondisi pemijahan ikan betina, tetapi fungsi yang pasti tidak diketahui.

Ketika area sudah terpilih, betina berbalik pada satu arah dan menghantam kerikil dengan dorongan yang cepat dari ekornya. Penggalian ini selesai dari bebrapa arah dan meliputi area yang relatif luas.

Pembangunan Sarang (Nest Building)

Pertama kali sisi sarang dipilih, betina menggali dengan lebih kuat terkonsentrasi pada lokasi spesifik dan dilakukan dengan arah menuju hulu (gambar 10-11). Pada tahap ini, area ellips bening dapat terlihat dari tepi sungai dengan mata telanjang menunjukkan visibilitas air baik. Terdapat beberapa pola perilaku yang sama pada betina dalam membangun sarang (nest building) diantara spesises-spesies yang berbeda (kecuali Salvelinus namaychus) yang  memijah tanpa membangun sarang.

Dari posisi istirahat kemudian betina berenang dengan lambat menuju hilir melewati daerah sarang kemudian betina tersebut membiarkan arus membawanya kembali ke posisi semula. Atau, betina dapat memulai tahap penggalian setelah mengitari sarangnya dengan berenang secara aktif. Gerakan memukul kebawah yang dilakukan oleh betina dengan ekornya melepaskan material substrat dari dasar perairan dan terangkat menuju kolom air dengan gerakan pukulan ke atas oleh betina yang dilakukan dengan ekornya. Sedangkan kerikil terlihat bergerak maju menuju hulu saat ekor betina memukul kebawah dan kerikil bergerak mundur saat ekor beina meukul ke atas. Hasilnya yaitu cekungan yang disertai lingkaran yang terangkat ke atas terbentuk kira-kira di tengah area ellips bening. Cekungan ini merupakan lubang dimana telur-telur yang akan dikeluarkan.

Setelah tahap penggalian (digging episode), ada dua cara yang dilakukan betina untuk kembali ke sarangnya, yaitu mereka berputar balik dan berenang atau membiarkan arus membawanya kembali ke sarang. Kedua perilaku ini dapat digunakan untuk memeprediksi kapan terjadi oviposisi pada betina. Semakin dkat dengan waktu pemijahan maka semakin sering terjadi oviposisi.

Selain penggalian, betina juga menunjukkan perilaku unik lain dalam membangun sarang yaitu sweeping. Selama perilaku sweeping, betina tetap berada pada sarangnya dan secara kontinu menekuk ekor mereka  sehingga tubuhnya bergerak-gerak menyerupai ombak. Hal ini mengakibatkan pancaran air menghilangkan pasir dan material halus lainnya dari sarang. Perilaku sweeping diperkirakan merupakan adaptasi dari genus Salvelinus untuk memijah di air yang tenang dan berfungsi untuk membersihkan sarang dari sedimen.

Selama pembengunan sarang, betina mempertahankan lokasi mereka dari betina yang berdekatan atau yang baru datang. Kadang-kadang betina terpaksa meninggalkan sarangnya karena betina lain. Pertarungan antara betina yang sarangnya saling berdekatan sering terjadi. Ikan jantan tidak bekontribusi dalam pembangunan sarang tetapi jantan saling bertarung untuk memasuki sarang betina. Jantan yang dominan menempati posisi yang terdekat dengan  betina dan berpasangan dengan betina serta mencegah jantan lain mendekati betina tersebut. Untuk berpasangan dengan betina, jantan mendekati betina secara lateral dari belakang dan menggetarkan tubuhnya dengan cepat (dengan frekuensi tinggi dan amplitude rendah) dari kepala sampai ekor secara intens. Menggetarkan tubuh merupakan salah satu perilaku kawin yang biasa pada semua jenis salmon. Hierarki dominansi juga berlaku untuk ikan satellite.

    

Oncorhynchus jantan mungkin menggali selama proses pemijahan (gambar 14). Perilaku ini menunjukkan agresivitas dan berhubungan dengan agresi antar jantan. Perilaku menggali dari ikan jantan merupakan rekasi displacement.

Pemeriksaan Sarang (Nest Probing)

            Betina akan menguji bentuk dan kedalaman sarang dengan merendahkan sirip analnya ke dalam kerikil, perilaku ini disebut probing. Selama perilaku probing betina menaikkan sirip caudalnya, melenturkannya ke atas da ke bawah, sehingga sirip analnya tetap ditekan di dalam kerikil dan tubuh ikan berada pada dalam cekungan sarangnya. Selama fase probing, betina mengurang frekuensi penggalian dan menghabiskan waktunya lebih banyak di sarang.

Probing yang dilakukan betina merupakan sinyal untuk janta yang mendekati oviposisi. Jantan  dominan merespon probing dengan menggetarkan tubuhnya. Jantan mempertahankan posisi di belakang dan secara konstan melewati peduncle caudal dari betina dari sisi satu ke sisi lainnya mencoba mengawal betina dari jantan lqin yang datang dari sisi lainnya. Perilaku ini disebut crossover. Perilaku Crossover mungkin berkontribusi dalam perkawinan untuk stimulasi konstan pada area dorsal betina. Perbedaan tipe ancaman yang bervariasi dalam intensitas dan kemungkinan signifikan terdapat pada tabel 1.

Tabel 1. Pertunjukan pertarungan yang biasa ditampilkan oleh jantan Salmoninae selama proses pemijahan

Display Deskripsi
Frontal display Kepala menghadap ke bawah dam ekor menghadap ke atas. Sirip dorsal ditekan.
Lateral display Ikan berada pada posisi parallel dengan pesaingnya dan tubuhnya dinaikkan dan sirip ditegakkan
T-display Dari lateral dislplay, ikan berenang ke hulu dan membelokkan tubuhnya dan menunjukkan tubuhnya pada pesaingnya dengan sudut 90o dan membiarkan arus menggerakkan tubuhnya menuju pesaingnya.
Flanking display Jantan domain membiarkan arus membawa tubuhnya menuju pesiangnya dan menunjukkan panggul tubuhnya dengan sudut tertentu sementara menjaga sirip tetap tegak dan tubuh dinaikkan
Tail display Jantan dominan dengan sirip tegak dan tubuh dinaikkan  mengepakkan ekornya diatas air diatas kepala pesaingnya.

Penyelesaian Sarang dan Oviposisi (Nest Completion and Oviposition)

Semakin mendekati penyelasaian, sarang semakin dalam sesuai sudut tubuh betina selama perilaku probing  meningkat. Saat sudutnya mencapai 20o maka sarang dianggap selesai. Pada waktu ini oviposis dapat terjadi sewaktu-waktu. Pada betina yang mendekati waktu pemijahan, perilaku probing  meningkat dan perilaku menggali menurun. Perilaku tersebut dibarengi dengan meningkatnya frekuensi respiratori. Beberapa menit sebelum oviposisi, pergerakan betina melambat. Selain itu, emisi gelembung yang mempengaruhi buoyancy, selama betina mengalami oviposisi, mendekati substrat.

Beberapa detik sebelum memijah, betina mulai menggetarkan tubuhnya ketika probing dan gaping. Pada waktu ini betina mungkin menunjukkan pemijahan palsu. Selama pemijahan palsu, betina mengimitasikan pemijahan sebenarnya (melakukan perilaku yang sama), tetapi tidak menghasilkan telur. Jantan dominan yang bersama saat pemijahan ini juga mengeluarkan sperma. Pemijahan palsu terjadi jika stimulusnnya kurang untuk oviposisi. Pada pemijahan yang berhasil, kedua ikan mengeluarkan gamet selama gaping dan bergetar dengan tubuh mereka ditekan bersamaan dan siripnya memanjang maksimal. Sirip caudalnya melentur ke atas sehingga lubang saluran reproduksinya menghadap substrat. (gambar 25 dan 26). Ketika pemijahan sebenarnya atau pemijahan palsu terjadi, jantan subordinat (sneaker), berkali-kali bergabung untuk mengeluarkan sperma. Fenomena ini dapat terjadi pada saat yang sama ketika jantan dominan memijah (gambar 27 dan 28) atau sesegera mungkin setelah jantan dominan memijah (gambar 29).

Penutupan Sarang (Nest Covering)

Setelah betina Oncorhynchus dan Salmo melepas telur mereka langsung menutupi dengan serangkaian menggali cepat secara diskrit (Gbr. 30). Mereka menggali kerikil yang sangat lembut dan biasanta tidak berpindah. Penutupan scara nyata berbeda dati yang digunakan utnuk membuat sarang, Telur biasanya benar-benar dikubur, dengan kedalaman kerikil sampai kedalaman sarang di 30-40. menit setelah pemijahan.

Salvelinus betina melakukan perilaku yang unik setelah pemijahan terdiri dari gerak tubuh yang lambat dan berirama. Gerakan ini rupanya dilakukan untuk  membubarkan telur yang baru saja disimpan di celah sarang dan mungkin untuk  mereka campurkan. Gerakan ini mirip mungkin juga adaptasi dari Salvelinus untuk memijah di perairan yang mana. Selama masa penutupan sarang, jantan dominan menjauhi betina dan mulai mencari betina lain. Hal ini dapat terjadi karena sebagai musim pemijahan berlangsung, perempuan menjadi relatif langka atau yang ditinggalkan biasanya dijaga oleh jantan lain.

Setelah proses yang pentupan dilakukan, betina bisa beristirahat untuk jangka waktu atau segera mulai menggali sarang baru. Biasanya terletak hulu dari penggalian sebelumnya dan baru-baru ini meliputi digunakan untuk memulai itu. Spesies Semelparous hanya menggunakan satu dari redd mereka membela sampai mati. Sebaliknya, spesies iteroparous, kadang-kadang menggunakan dua atau lebih redds untuk menemukan sarang mereka. Selain itu, spesies smelparous biasanya tetap di redds mereka selama proses pemijahan secara keseluruhan, sementara betina  yang redds iteroparous ditinggalkan untuk periode selama dan setelah membangun sarang (pengamatan pribadi).

 

DAFTAR PUSTAKA

Esteve, Manu. 2005. Observations of Spawning Behaviour in Salmoninae: Salmo, Oncorhynchus, and Salvelinus. Review in Fish Biology and Fisheries, 15:1-21.

REPTIL

1.             Definisi dan Morfologi Reptil

 

Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakannya dengan kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit secara total yaitu pada anggota sub-ordo Ophidia dan pengelupasan kulit sebagian pada anggota sub-ordo Lacertilia. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Zug, 1993).

 

Reptilia adalah kelompok hewan darat yang sebenarnya karena mereka bernapas dengan paru-paru sepanjang hidupnya. Sebagai hewan darat yang hidup di lingkungan kering, kulitnya memiliki lapisan bahan tanduk yang tebal. Lapisan ini mengalami modifikasi menjadi sisik-sisik. Kulit sedikit sekali mengandung kelenjar kulit. Ada di antaranya yang selain mempunyai sisik epidermis juga mempunyai sisik dermis, misalnya buaya. Pada anggota Lacertilia pengelupasan kulit terjadi sedikit demi sedikit, sedangkan pada ular terjadi sekaligus. Reptil termasuk Tetrapoda sehingga memiliki 4 buah tungkai atau kaki, tetapi ada pula di antara anggota-anggotanya yang tungkainya mereduksi atau menghilang sama sekali. Menghilangnya tungkai-tungkai itu merupakan ciri sekunder, atau wujud adaptasi terhadap lingkungan. Hewan reptil berkloaka dengan celah berbentuk transversal atau longitudinal. Sebagai hewan darat reptil telah memiliki langit-langit sekunder, dan pada buaya perkembangannya telah sempurna. Semua reptil bergigi kecuali kura-kura. Perlekatan gigi-gigi itu ada yang acrodont, pleurodont, thecodont. Pada anggota Lacertilia, lidah berkembang baik dan dapat digunakan sebagai ciri penting untuk klasifikasi. Alat pendengar, ada yang dilengkapi dengan telinga luar dan ada yang tidak. Mata ada yang berkelopak dan dapat bergerak, ada pula yang kelopaknya tidak dapat bergerak serta berubah menjadi bangunan transparan. Reptil jantan memiliki alat kelamin luar berupa sebuah penis atau satu pasang hemipenis. Embrio memiliki gigi telur untuk merobek cangkang telur pada waktu menetas. Klasifikasi reptil, pada awalnya didasarkan atas arsitektur tengkoraknya. Formulasi ini dikemukakan oleh Osborn tahun 1903, yaitu ditunjukkan dengan adanya ciri-ciri tengkorak: anapsid, diapsid, synapsid (parapsid). Sekarang klasifikasi reptil tersebut telah banyak berubah, dan dibagi menjadi 4 ordo: Testudinata, Rhynchocephalia, Squamata dan Crocodilia (Buden, 2000).

 

Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada Serpentes dan sebagian Lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya memiliki 5 jari atau pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru (Zug, 1993).

 

Semua Reptil bernafas dengan paru-paru. Jantung pada reptil memiliki 4 lobi, yaitu 2 atrium dan 2 ventrikel. Pada beberapa reptil sekat antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri tidak sempurna, sehingga darah kotor dan darah bersih masih bisa bercampur. Reptil merupakan hewan berdarah dingin, yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm. Untuk mengatur suhu tubuhnya, reptil melakukan mekanisme basking, yaitu berjemur di bawah sinar matahari. Saluran ekskresi kelas Reptilia berakhir pada kloaka. Ada dua tipe kloaka yang spesifik untuk ordo-ordo reptilia. Kloaka dengan celah melintang terdapat pada ordo Squamata, yaitu sub-ordo Lacertilia dan sub-ordo Ophidia. Kloaka dengan celah membujur yaitu terdapat pada ordo Chelonia dan ordo Crocodilia (Zug, 1993).

 

Pada anggota lacertilia, lidah berkembang baik dan dapat digunakan sebagai ciri penting untuk identifikasi. Semua reptil memiliki gigi kecuali pada ordo Testudinata. Pada saat jouvenile, reptil memiliki gigi telur untuk merobek cangkang telur ketika menetas, yang kemudian gigi telur tersebut akan tanggal dengan sendirinya saat mencapai dewasa. Beberapa jenis reptil memiliki alat pendengaran dan ada yang dilengkapi telinga luar ataupun tidak. Pada beberapa jenis lainnya, alat pendengaran tidak berkembang. Mata pada reptil ada yang berkelopak dan ada yang tidak memiliki kelopak. Kelopak mata pada reptil ada yang dapat digerakkan dan ada yang tidak dapat digerakkan dan ada juga yang berubah menjadi lapisan transparan (Zug, 1993).

 

Habitat dari kelas Reptilia ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan akuatik seperti penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu ordo Crocodilia dan beberapa anggota Ordo Chelonia, beberapa sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada kebanyakan sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, beberapa anggota ordo Testudinata, sub-terran pada sebagian kecil anggota sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada sebagian kecil sub-ordo Ophidia dan Lacertilia (Zug, 1993).

 

Dibandingkan dengan amphibi reptilia terbilang lebih maju hidup didarat. Hal ini dikarenakan:

1.    Adanya cangkang pada telur dan adanya amnion pada embrio sehingga menjamin perlindungan terhadap bahaya kekeringan pada telur-telur yang diletakkan didarat.

2.    Sisik epidermis yang berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh fisik (misal luka) dan juga sebagai pelindung terhadap kekeringan

2.             Beberapa sistem pada reptil

 

2.1   Sistem Pencernaan

 

Pada sistem pencernaan dibedakan antara tractus digestivus dan glandula digestoria.

2.1.1    Tractus Digestivum

Terdiri dari: cavum oris, pharynx, esophagus, vetriculus, intestinum tenve, cecum, intestinum crassum dan cloaca. Didalam cavum oris terdapat dentes yang berbentuk canus. Dentes ini berbentuk pleurodont, artinya menempel pada sisi samping gingiva, sedikit melengkung ke arah medial cavum oris. Pada mabouya tidak kita jumpai dentes palatini. Selain itu dalam cavum oris terdapat lingua yang berpangkal pada Os hyldeum di sebelah caudal cavum oris, ujungnya bersifat befida. Ventriculus pada mabouya ini berdinding musular yang tebal dari bentuk cylindris. Intestinum crassum berfungsi sebagai rectum. Cecum merupakan batas antara instestinum tenve dan intestinum crassum (Bennett, 1998).

 

2.1.2    Glandula digestoria

Terdiri dari hepar dan pancreas, empedu yang dihasilkan oleh hepar ditampung kantong yang disebut vesica fellea. Hepar terdiri atas 2 lobi, yaitu sinister dan dexter dan berwarna coklat kemerahan. Vesica fellea terletak pada tepi coudal lobus dexter hepatis. Pancreas terletak dalam suatu lengkung antara ventriculus dan duodenum. Ductus cysticus dari vesica fellea menuju jaringan pancreas bergabung dengan ductulli pancreatici, kemudian keluar menjadi satu ductus yang besar disebut hepato-pancreaticus atau ductus choledochus yang bermuara pada duodenum. Ventriculus terikat pada dinding tubuh dengan perantaraan suatu alat penggantung yang disebut mesogastrium. Kemudian alat penggantung instestinum tenue disebut mesenterium, alat penggantung intestinum crassum (rectum) disebut mesorectum. Antara permukaan dorsal hepar dan ventriculus terdapat suatu lipatan tipis yaitu omentum gastrohepaticum. Omentum ini memanjang ke caudal disebut omentum duodeno-hepaticum yang menghabungkan hepar dengan duodenum (Bennett, 1998).

 

2.2   Sistem Respirasi

 

Umumnya reptilia mempunyai trachea yang panjang dimana dindingnya dilengkapi oleh sejumlah cincin cartilago. Larinx terletak di ujung anterior trachea. Dinding larinx ini dilengkapi oleh cartilago cricoida dan cartilago anytenoidea. Kearah posterior trachea membentuk percabangan (bifurcatio) menjadi bronchus kanan dan bronchus kiri, yang masing-masing menuju ke pulmo kanan dan pulmo kiri. Bentuk Pulmo lacertilia dan ophidia reptilia relatif sederhana. Pada beberapa reptilia, bagian internal pulmo terbagi tidak sempurna dan menjadi 2 bagian, yaitu bagian anterior berdinding saccuter sedang bagian posterior berdinding licin, tidak vasculer dan berfungsi terutama untuk reservoir. Pada ular umumnya pulmo mempunyai lekukan-lekukan yang asymetris, dan pulmo kanan selalu sangat pamang (Bennett, 1998).

 

2.3         Sistem Ekskresi

 

Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru, kulit dan kloaka. Kloaka merupakan satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil metabolisme. Reptil yang hidup di darat sisa hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah padat berwarna putih (Bennett, 1998).

 

2.4   Sistem Peredaran darah

 

Terdiri dari 2 atria, yaitu atrium dextrum dan sinistrum, 2 ventriculus yaitu ventriculus dexter serta ventriculus sinister, dan sinus venosus. Atrium dextrum dipisah dengan atrium sinistrum oleh septum atriarum. Antara atrium dan ventriculus ada sekat yang disebut apertura atriovenricularis dengan katup valvula atrioventricularis. Ventriculus dexter dipisah dari ventriculus sinister oleh septum ventriculorum ialah tidak sempurna sehingga darah di ventriculus dexter dan sinister untuk sebagian masih tercampur (Bennett, 1998).

 

Dari ventriculus dexter keluar areus aortae sinister yang membelok ke kiri, dan arteria pulmanalis yang bercabang dua masing-masing ke pulmo. Dari ventruculus sinister keluar arcus aortae dexter yang membelok ke kanan dan mempercabangkan sebuah arteria yang berjalan ke arah cranial yaitu arteria carotis communis. Arteria carotis communis ini akan bercabang dua menjadi arteria carotis communis dexter dan sinister yang masing-masing baik dexter maupun sinister akan bercabang lagi menjadi arteria carotis externa dan interna (Bennett, 1998).

 

Arteria carotis communis interna kiri akan membuat suatu hubungan dengan arcus aortae sinister. Arcus aortae dexter dan sinister, masing-masing berjalan ke caudal dan keduanya bertemu di medial untuk menjadi satu pembuluh yang besar disebut aorta dorsalis. Sebelum kedua arcus aortae ini bertemu, arcus aortae dexter terlebih dulu mempercabangkan arteria esophagus yang menuju ke esophagus, kemudian juga mempercabangkan arteria subelavia dexta dan sinistra yang menuju ke extremitas anterior (Bennett, 1998).

 

Sinus venosus menerima darah dari vanae besar, ialah vena cova superior dexta dan sinistra, dan vena cava inferior yang datang dari bagian caudal tubuh setelah menerima vena hepatica terlebih dulu. Dari sinus venosus darah kemudian menuju ke atrium dextrum. Yang masuk ke atrium sinistrum ialah vanae pulmonalis yang berisi darah arterial dari pulmo (Bennett, 1998).

 

2.5         Sistem Reproduksi

 

Jantan

  • Memiliki alat kelamin khusus : hemipenis
  • Sepasang testis
  • Memiliki epididimis
  • Memiliki vas deferens

 

Betina

  • Memiliki sepasang ovarium
  • Memiliki saluran telur (oviduk)
  • Berakhir pada saluran kloaka

 

Kelompok reptil seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan hewan-hewan yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Umumnya reptil bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter atau kadal akan menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari cadangan makanan yang ada dalam telur. Reptil betina menghasilkan ovum di dalam ovarium. Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Reptil jantan menghasilkan sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada saat kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina (Bennett, 1998).

 

Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah (Bennett, 1998).

 

Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan kura-kura serta berbagai jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan kembali ke daratan ketika meletakkan telurnya.

3.       Klasifikasi Reptil

 

Kelas reptilia dibagai menjadi 4 ordo, yaitu Rhyncocephalia (contohnya: tuatara), Testudinata atau Chelonia (contohnya: penyu, kura-kura, dan bulus), Squamata (contohnya: Serpentes, Lacertilia, dan Amphisbaena), dan Crocodilia (contohnya: buaya, aligator, senyulong, dan caiman).

Chaetodontidae (butterflyfish)

Ikan yang berasal dari family Chaetodontidae atau biasa disebut Butterflyfish atau ikan Kupu-kupu, tetapi masyarakat lokal di Indonesia kebanyakan menyebutnya ikan Kepe-kepe. Butterflyfish terlihat seperti versi kecilnya dari angelfish (Pomacanthidae), hanya saja pada Butterflyfish (Chaetodontidae) tidak memiliki sebuah tulang berbentuk bumerang yang ujung-ujungnya membentuk margin posterior dan lebih rendah dari daerah ingsang (preopercle) yang membentuk seperti duri dan bentuk tubuh yang sedikit membulat seperti kupu-kupu.

Ukuran tubuh family Chaetodontidae berkisar rata-rata sebesar telapak tangan orang dewasa dengan bentuk yang lebar tetapi pipih. Tubuhnya dihiasi oleh beragam corak dan warna yang mencolok dan indah, membuat family dari ikan ini banyak yang menggemarinya untuk dipelihara di akuarium.  Chaetodontidae merupakan anggota keluarga yang mudah di identifikasi dari family lainnya karena corak dan warnanya yang khas, meskipun corak warnanya yang indah dan warna-warni cenderung membuat sedikit mirip dengan Famili Pomacanthidae.

Butterflyfishes (Chaetodontidae) biasanya pergi sendirian atau berpasangan, berenang menggunakan penglihatan yang tajam untuk mecari cacing-cacing kecil, polip terbuka dan invertebrate laut lainnya. Ikan yang memiliki corak berwarna-warni ini menghabiskan siang harinya melayang di atas terumbu karang. Meskipun sebagian besar spesies hanya mendiami terumbu karang untuk makan plankton yang melayang dan bersembunyi. Umumnya berada pada perairan kurang dari 18 meter meskipun beberapa spesies turun sampai kedalaman 180 meter.

Untuk membedakan antar spesies pada family ini memang cukup membingungkan, meskipun terdapat perbedaan bentuk tubuh yang sangat menonjol pada beberapa genus. Kita harus lebih teliti dan memperhatikan corak pada tubuhnya.

Beberapa genus dari famili Chaetodontidae yang memiliki bentuk tubuh yang berbeda

     
Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Actinopterygii

Order: Perciformes

Family: Chaetodontidae

Genus: Forcipiger

Species: F. longirostris

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Actinopterygii

Order: Perciformes

Family: Chaetodontidae

Genus: Chaetodon

Species: C. vagabundus

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Actinopterygii

Order: Perciformes

Family: Chaetodontidae

Genus: Heniochus

Species: H. diphreutes

Meskipun pada genus atau family ikan ini cukup mudah untuk di bedakan dengan family lain, tetapi untuk membedakan antar spesies tersebut kita harus lebih teliti lagi. Karena terdapat beberapa spesies yang hampir mirip jika kita lihat secara singkat atau kurang teliti.

                         C. trifasciatus                                                        C. lunulatus

                        C. melannotus                                                          C. ocellicaudus

Contoh perbedaan antar spesies family Chaetodontidae yang sangat mengecoh jika kita tidak memperhatikan coraknya dengan seksama, berpedaannya sangatlah tipis. Sepintas spesies ini terlihat sama jika kita tidak teliti. Sedangkan di Indonesia sendiri terdapat kurang lebih 45 spesies ikan dari family Chaetodontidae, dan di Asia Tenggara terdapat kurang lebih 60 spesies. Seperti namanya ikan kupu-kupu yang sama sulitnya dengan identifikasi kupu-kupu sungguhan, hanya saja yang satu ini bedanya adalah Phylum Chordata bukan Arthropoda.

Oleh-oleh Pengamatan Burung Di ITS Surabaya

Kisah ini berawal dari pengamatan yang dilakukan di lokasi komplek Kampus ITS Surabaya bersama teman-teman Pecuk saya tercinta, dengan tujuan untuk mengambil data burung yang ada di wilayah Kampus ITS Surabaya. Berangkat dengan hanya bermodalkan secarik kertas, bulpoint, binokuler, kamera pinjaman, air minum dan tidak lupa sebungkus rokok inter yang selalu melekat di saku kanan celana.
Memang agak aneh jika dipikir lagi menghabiskan waktu seharian di bawah teriknya matahari dikota Surabaya hanya untuk mengamati burung(aves). Mungkin orang akan mempunyai firasat “orang itu gila setiap detik melihat keatas, padahal tidak ada apa-apa” atau “cuman mau lihat burung aja pake susah-susah, ke pasar burung aja banyak”. Tidak hanya firasat saja, bahkan pernah menemui beberapa orang yang pernah berkata seperti itu. Boleh saja setiap orang mengutarakan pendapat, berkata, atau mengkritik seseorang, toh Indonesia juga negara demokratis atau demokrasi ya yang bebas beraspirasi itu?. Saya menerima kritikan seperti itu karena orang memiliki pemikiran dan dunianya sendiri.Dan saya berfikir bahwa saya memiliki dunia saya sendiri “ini loh dunia saya” sedikit keras kepala memang tetapi dalam pikiran saya hal sepele atau terlihat tidak berguna seperti ini juga bisa berpengaruh terhadap dunia di masa depan “amin”.

Pengamatan burung “aves” ini tidak  hanya dilakukan dalam jangka waktu sehari. Memang melelahkan setelah berhari-hari hanya melakukan kegiatan seperti itu, tetapi terdapat suatu tujuan tertentu juga sih kenapa saya melakukan hal tersebut. Walaupun tujuan itu hanya menjadi salah satu uang saku saya untuk melakukan kegiatan tersebut, dan tidak ada tujuan yang menjadi motivasi saya penuh untuk mendorong saya. Ini sudah menjadi bagian Hobi saya, semua orang pasti mempunyai hobi masing-masing. Tidak berfikir, bahkan tidak menghiraukan apapun kalau sudah berhadapan dengan Hobi yang digemarinya tersebut.

Di beberapa hari yang panas dan melelahkan tersebut akhirnya mendapatkan data dan foto-foto beberapa spesies burung yang nyangkut di kamera hasil pinjaman yang menjadi oleh-oleh sekaligus menjadi cerita kepada teman-teman saya selama seharian tadi.

Di lokasi kampus ITS sendiri memiliki kurang lebih 57 spesies burung, dan terdapat 36 spesies burung yang menyandang pangkat spesies langka dalam skala global maupun menurut peraturan pemerintah melalui PP No. 7 Tahun 1999. Tidak heran diberlakukannya larangan menembak di wilayah kampus ITS dan ditetapkannya daerah konservasi oleh kepala BAUK-ITS. Tetapi pada kenyataan dan kehidupan sehari-hari masih saja ada masyarakat sekitar yang masih belum sadar akan kelestarian lingkungan, bahkan seringkali bersilang pendapat sampai terbawa emosi dengan masyarakat sekitar yang masih menangkap burung, memang benar masyarakat saat ini tidak menembak burung lagi, dikarenakan menembak hanya menghabiskan peluru, tidak evisisen, bahkan bisa saja ketahuan dengan letupan suaranya oleh Satuan Keamanan Kampus ITS (SKK-ITS). Masyarakat sekitar telah memiliki metode baru berupa menjaring burung, dengan sekali pasang jaring akan mendapatkan sampai lebih dari lima ekor burung dengan spesies yang berbeda. Lebih evisien teringat dalam hati kata “Bapak Tukang Penangkap Burung” tersebut.
Bila dipikirkan lebih lanjut, kita tidak dapat begitu saja melakukan larangan atau himbauan tanpa memikirkan kisah hidup si “Bapak Tukang Penangkap Burung” untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anaknya supaya tidak menjadi penangkap burung seperti orang tuanya. Alangkah kejam negeri ini jika kita menghapuskan mata pencaharian seseorang dengan hanya menuruti keinginan kita tanpa memikirkan solusi lain yang bisa diterapkan pada salah seorang tersebut agar dapat melangsungkan hidup dengan madani, seperti yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW.

Saat ini saya dan teman-teman yang memiliki tujuan yang sama di dalam Kelompok Studi Burung Liar PECUK masih dalam proses memikirkan cara agar kegiatan konservasi burung di wilayah ITS ini tidak bersinggungan dan memiliki perselisihan pendapat dengan masyarakat sekitar yang masih menangkap burung di ITS sekaligus memberikan gambaran bahwa betapa pentingnya kelestarian alam melalui kata “USE” atau “Menggunakan” di dalam konsep Konservasi itu sendiri yang berarti “Boleh menggunakan secara bijaksana”.

 

Opening

Pemilik blok ini bukanlah seorang penulis, editor, ataupun wartawan. Memang menulis itu suatu hal susah, maka dari itu mohon saran bila isi blog ini tidak berkenan di kelopak bola mata anda. Semoga blog ini dapat bermanfaat.